Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 19 Jun 2025 21:24 WIB ·

Menumbuhkan Minat Anak di Bidang Pertanian: Investasi Masa Depan Bangsa


					Menumbuhkan Minat Anak di Bidang Pertanian: Investasi Masa Depan Bangsa Perbesar

Oleh : Patriot Rieldo Perdana (Fungsionaris HKTI Kota Padang Panjang)

Opini [DESA MERDEKA] – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan urbanisasi, sektor pertanian sering kali dipandang sebelah mata oleh generasi muda. Padahal, pertanian adalah fondasi ketahanan pangan dan kedaulatan bangsa. Untuk itu, penting bagi kita semua—orang tua, pendidik, dan pemangku kebijakan—untuk menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap dunia pertanian sejak usia dini.

Mengapa Pertanian?

Pertanian bukan hanya soal mencangkul dan menanam. Ini adalah ilmu, seni, dan strategi. Dalam era modern, pertanian telah berkembang menjadi agroteknologi, pertanian presisi, urban farming, hingga agribisnis digital. Menanam minat anak di bidang ini berarti menanam benih masa depan yang akan panen dalam bentuk inovasi, kemandirian, dan ketahanan pangan.

Visi Presiden: Pertanian sebagai Poros Ketahanan Nasional

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam pidato pelantikannya pada 20 Oktober 2024, dengan tegas menyampaikan:

“Indonesia harus segera swasembada pangan dalam waktu sesingkat‑singkatnya. Kita tidak boleh bergantung sumber makan dari luar… Paling lambat empat sampai lima tahun, kita akan swasembada pangan, bahkan kita siap menjadi lumbung pangan dunia.”

Pernyataan tersebut ditegaskan kembali dalam peluncuran Program Gerakan Indonesia Menanam (Gerina) di Banyuasin, 23 April 2025:

“Beberapa negara minta agar kita kirim beras ke mereka, saya izinkan dan saya perintahkan kirim beras ke mereka dan kalau perlu atas dasar kemanusiaan.”

Kutipan ini menegaskan bahwa pertanian bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban nasional. Dan anak-anak adalah fondasi utama dalam menyiapkan generasi petani masa depan yang siap menjadi pilar kedaulatan pangan Indonesia.

Strategi Menumbuhkan Minat Anak di Bidang Pertanian

1. Kenalkan sejak dini melalui permainan dan praktik langsung

Ajak anak menanam tanaman hias, sayuran, atau buah di halaman rumah. Gunakan media seperti hidroponik sederhana dari botol bekas. Kegiatan ini dapat menjadi momen bounding yang juga membentuk rasa cinta terhadap alam.

2. Libatkan dalam kegiatan pertanian sekolah atau komunitas

Sekolah bisa mengembangkan edible garden atau kebun mini sebagai sarana belajar lintas disiplin—biologi, matematika (menghitung pertumbuhan), hingga kewirausahaan (menjual hasil panen).

3. Gunakan pendekatan teknologi dan multimedia

Tampilkan video, aplikasi, atau game edukasi yang menggambarkan proses pertanian modern—dari drone pemantau lahan, traktor otomatis, hingga platform jual beli hasil tani online. Teknologi bisa menjadi pintu masuk generasi digital untuk mencintai pertanian.

4. Tunjukkan sosok panutan muda di dunia pertanian

Perkenalkan tokoh muda yang sukses di bidang ini, seperti petani milenial, agripreneur, atau inovator agroteknologi. Sosok nyata dapat memicu semangat dan membuktikan bahwa bertani itu keren.

5. Kaitkan pertanian dengan isu global dan kepedulian sosial

Ajak anak berdiskusi ringan tentang perubahan iklim, krisis pangan, dan pentingnya menjaga lingkungan. Anak-anak yang memiliki kesadaran sosial sejak dini akan lebih mudah tertarik pada profesi yang berdampak positif bagi masyarakat.

Kolaborasi Sekolah dan Pemerintah: Kunci Implementasi Nyata

Untuk membuat program pertanian anak menjadi gerakan nasional, kerja sama antara sekolah dan pemerintah menjadi hal mutlak. Beberapa bentuk kerja sama yang dapat dilakukan antara sekolah dan pemerintah antara lain:

1. Penyediaan fasilitas dan alat pertanian edukatif

Pemerintah daerah melalui dinas pertanian dan pendidikan dapat menyediakan sarana seperti green house mini, alat tanam hidroponik, atau pupuk organik untuk sekolah-sekolah yang menjalankan program pertanian edukatif.

2. Integrasi kurikulum muatan lokal berbasis pertanian

Dengan dukungan Kemendikbud atau dinas pendidikan setempat, sekolah dapat memasukkan pertanian sebagai muatan lokal yang aplikatif dan kontekstual sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

3. Pelatihan guru dan pendampingan teknis

Pemerintah dapat memberikan pelatihan khusus bagi guru-guru agar memiliki kemampuan dasar pertanian modern, dan menugaskan penyuluh pertanian untuk menjadi mitra pembelajaran di sekolah.

4. Program magang atau kunjungan ke Balai Pertanian dan BPP

Siswa dapat diajak berkunjung ke Balai Benih, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), atau peternakan rakyat yang dikelola oleh pemerintah sebagai bentuk pembelajaran langsung dan inspirasi karier.

5. Lomba dan apresiasi tingkat daerah

Pemerintah dapat mengadakan lomba pertanian sekolah (urban farming, inovasi tanam, agribisnis anak) yang tidak hanya memotivasi siswa, tapi juga mengapresiasi sekolah yang aktif memajukan pendidikan pertanian.

Tantangan dan Harapan

Tantangan utama dalam menumbuhkan minat anak di bidang pertanian terletak pada stigma sosial yang masih kuat: bertani dianggap pekerjaan kasar serta kotor, kurang menguntungkan, dan bukan pilihan masa depan. Ditambah lagi, minimnya eksposur media, kurangnya dukungan infrastruktur sekolah, serta terbatasnya SDM pengajar di bidang pertanian menjadi kendala nyata di lapangan.

Di sisi lain, harapan tetap terbuka lebar. Generasi Alpha dan Z saat ini memiliki daya kritis, kreativitas, dan kepedulian lingkungan yang tinggi—modal ideal untuk menjadi pelopor revolusi hijau modern. Jika pendekatannya tepat, pertanian bisa menjadi lahan subur bagi tumbuhnya inovasi, kewirausahaan, dan kedaulatan pangan nasional.

Dengan sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah, bukan tidak mungkin kita melahirkan generasi baru yang bangga menjadi petani—bukan sekadar bercocok tanam, tetapi membangun peradaban dari akar rumput.

Penutup

Menumbuhkan minat anak di bidang pertanian bukan sekadar mengajarkan cara menanam, tetapi membentuk karakter yang peduli lingkungan, mandiri, dan inovatif. Anak-anak yang mencintai pertanian hari ini adalah pemimpin pangan dan penjaga bumi di masa depan. Dengan dukungan konkret dari sekolah dan pemerintah, cita-cita ini bisa tumbuh subur di tengah zaman yang terus berubah.

Sudah saatnya kita kembali ke akar. Dari tanah kita hidup, dari tanah pula kita bisa memajukan negeri.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 83 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Akhiri Dominasi Jakarta Saat Desa Mulai Rebut Kendali Narasi

4 Mei 2026 - 12:13 WIB

Mahasiswa KKN: Katalisator atau Sekadar Tamu Dokumentasi Desa?

3 Mei 2026 - 22:01 WIB

Jual Beli Rekomendasi Kerja: Borok Pelayanan Desa Menjelutujung

3 Mei 2026 - 20:59 WIB

Revolusi Jurnalisme Desa: Akhiri Pemujaan Tokoh Demi Kemajuan Warga

2 Mei 2026 - 07:09 WIB

Perut Lapar Mana Bisa Jaga Mangrove: Strategi Cuan Desa Pesisir

1 Mei 2026 - 20:55 WIB

Hentikan Pemujaan Tokoh Dalam Berita Kegiatan Desa

1 Mei 2026 - 07:12 WIB

Trending di OPINI