Agam, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Di Sumatera Barat, pendidikan karakter tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa masjid di lingkungan sekolah merupakan instrumen krusial untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual. Hal ini disampaikan saat beliau menghadiri tradisi Baralek Batagak Kudo-Kudo Masjid Nurul Ilmi di Kompleks SMAN 3 Lubuk Basung, Kabupaten Agam.
Gubernur Mahyeldi menilai keberadaan rumah ibadah di sekolah adalah benteng utama bagi pelajar muslim. Menurutnya, pendidikan akan dianggap gagal jika anak-anak tidak mengenal agama mereka sendiri. Pentingnya karakter beragama ini pun selaras dengan napas Pancasila dan falsafah daerah Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Kekuatan Hukum dan Identitas Daerah
Pendidikan karakter berbasis agama di Sumatera Barat kini memiliki fondasi hukum yang semakin kuat. Mahyeldi merujuk pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2022 tentang Provinsi Sumatera Barat yang secara spesifik mengakui karakteristik unik masyarakat Minangkabau.
“Pendidikan agama adalah bagian integral dari pembentukan karakter bangsa yang beriman dan bertakwa. Jika anak-anak kita tidak mengenal agama, maka pendidikan kita dianggap gagal,” tegas Gubernur yang akrab disapa Buya Mahyeldi tersebut. Dengan adanya masjid di sekolah, proses internalisasi nilai-nilai religi dapat dilakukan setiap hari melalui praktik langsung, bukan sekadar teori di buku cetak.
Gotong Royong Membangun Peradaban
Acara Batagak Kudo-Kudo atau tradisi menaikkan rangka atap bangunan ini menjadi simbol kebersamaan antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan wali murid. Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap pembangunan Masjid Nurul Ilmi, Mahyeldi secara pribadi menyalurkan infak sebesar Rp10 juta.
Beliau berharap, setelah pembangunan rampung, Masjid Nurul Ilmi tidak hanya menjadi bangunan fisik yang megah, tetapi benar-benar hidup sebagai pusat kegiatan keagamaan bagi pelajar SMAN 3 Lubuk Basung dan masyarakat sekitar. Dukungan serupa juga datang dari berbagai elemen yang hadir, mulai dari jajaran Dinas Pendidikan, Kemenag, hingga para tokoh adat (Niniak Mamak) setempat.
Melalui sinergi ini, Sumatera Barat terus berupaya membuktikan bahwa kemajuan zaman tetap bisa berjalan beriringan dengan ketaatan spiritual. Masjid di sekolah kini menjadi laboratorium karakter yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.