Jakarta [DESA MERDEKA] – Indonesia baru saja kehilangan seorang ekonom hebat, Kwik Kian Gie, yang berpulang pada 29 Juli 2025.
Prof. Didik J. Rachbini, Rektor Universitas Paramadina, mengenang beliau sebagai tokoh yang tak gentar menyuarakan kritik tajam dan independen terhadap kebijakan ekonomi nasional.
Sejak era 1980-an, Kwik sudah dikenal sebagai intelektual yang pemikirannya sangat didengar. Lulusan universitas ternama di Rotterdam ini memilih jalur berbeda saat banyak intelektual merapat ke pemerintah Orde Baru di era 1990-an.
Kwik tetap setia pada perannya sebagai “check and balance” tak formal, mengkritisi kebijakan ekonomi yang saat itu didominasi “Mafia Berkeley” hingga akhirnya ambruk pada 1997.
Beliau adalah bagian dari “Kelompok Ekonomi 30” yang vokal di media massa, bersama nama-nama besar seperti Sjahrir dan Rizal Ramli.
Meski sempat menjabat di pemerintahan pasca-reformasi sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (1999–2000) dan Menko Ekuin (2001), Kwik tetap dikenal sebagai figur yang berani menyuarakan kebenaran.
Pemikiran Kwik Kian Gie tentang kedaulatan ekonomi nasional sangat relevan hingga kini. Ia selalu mengingatkan untuk tidak tergantung pada IMF dan utang luar negeri, agar bangsa ini tidak didominasi kekuatan asing.
Kwik juga kritis terhadap oligarki ekonomi-politik dan pentingnya menjaga BUMN sebagai komponen strategis bangsa. Menurutnya, BUMN adalah separuh ekonomi bangsa yang harus dijaga keberlangsungannya.

Penggiat Desa. Lakukan yang Perlu saja (Prioritas).
Kita Gak perlu memenangkan semua Pertempuran.
Tinggal di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.