Banyumas, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melakukan gebrakan baru dalam model Kuliah Kerja Nyata (KKN) periode Januari–Februari 2026. Alih-alih hanya mengirim mahasiswa untuk program fisik desa, Unsoed menerjunkan 1.115 mahasiswa dengan misi khusus: membangun benteng keamanan sosial melalui KKN Anti-Kekerasan dan digitalisasi keterbukaan informasi desa.
Program ini resmi dilepas di Auditorium Graha Widyatama Prof. Rubijanto Misman pada Selasa (6/1/2026). Mengusung tema “Unsoed Merakyat, Unsoed Berdampak”, ribuan mahasiswa ini akan tersebar di 70 desa yang mencakup enam kabupaten di Jawa Tengah, hingga menyeberang ke Kabupaten Belitung Timur melalui program KKN Nusa Persada.
Inovasi Posko Terpisah dan Literasi Informasi
Sudut pandang paling menarik dari KKN periode ini adalah integrasi nilai keamanan dan keterbukaan publik. Bekerja sama dengan Satgas PPKPT Unsoed, universitas menerapkan kebijakan posko KKN terpisah antara laki-laki dan perempuan sebagai bentuk nyata komitmen anti-kekerasan seksual di lapangan.
Tak hanya itu, mahasiswa tidak lagi sekadar menjadi pendamping administratif. Mereka dibekali keahlian khusus melalui workshop bersama Komisi Informasi Pusat. Misinya adalah menjadi agen Keterbukaan Informasi Publik di tingkat desa, memastikan masyarakat pedesaan memiliki akses informasi yang transparan dan akuntabel.
Menjembatani Riset dan Realitas Desa
Ketua LPPM Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P., menegaskan bahwa KKN 2026 adalah laboratorium hidup. Mahasiswa ditantang untuk “menjahit” hasil penelitian kampus dengan kearifan lokal. Fokusnya bukan lagi program kerja yang dipaksakan dari kampus, melainkan program partisipatif yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) desa.
“KKN adalah jembatan. Kami ingin hasil pendidikan dan penelitian di universitas dirasakan manfaatnya secara konkret melalui pemberdayaan yang kontekstual,” ujar Prof. Elly.
Digitalisasi dan Resiliensi Bencana
Dalam aspek teknis, KKN kali ini sudah bertransformasi secara digital melalui penggunaan Platform Eldiru dan kolaborasi dengan UPA TIK Unsoed. Di daerah rawan bencana seperti Banyumas dan Purbalingga, mahasiswa KKN Tematik Kebencanaan bekerja sama dengan BPBD untuk memperkuat resiliensi masyarakat dalam menghadapi tantangan alam.
Rektor Unsoed, melalui Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Prof. Dr. Kuat Puji Prayitno, menitipkan pesan agar mahasiswa tidak memposisikan diri sebagai “pemberi ilmu”, melainkan sebagai mitra belajar masyarakat. Langkah kecil di 70 desa ini dipandang sebagai kontribusi sistematis menuju visi Indonesia Emas 2045.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.