Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Muhidi, melakukan langkah preventif dengan “turun gunung” menemui para siswa SMA untuk menekankan pentingnya menjaga moralitas. Dalam kunjungannya ke SMA 13 Padang baru-baru ini, ia menegaskan bahwa menjauhi perbuatan maksiat dan perilaku negatif bukan sekadar kewajiban agama, melainkan investasi paling berharga untuk menyelamatkan masa depan generasi muda.
Muhidi memandang bahwa tantangan sosial yang mengepung remaja saat ini, mulai dari narkoba hingga perilaku menyimpang lainnya, telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Ia mengajak para siswa untuk melihat masa remaja sebagai fase “titik balik” dalam pembentukan jati diri yang akan menentukan posisi mereka di masa depan.
“Anak-anak kami adalah calon pemimpin. Jika sejak dini sudah terjerumus pada hal-hal negatif, maka masa depan akan terancam. Sebaliknya, dengan fokus pada pendidikan dan karakter, peluang meraih kesuksesan terbuka lebar,” ujar Muhidi di hadapan para siswa.
Pondasi Karakter di Tengah Arus Modernisasi
Menurut Muhidi, kecerdasan intelektual di sekolah tidak akan berarti banyak tanpa didampingi oleh disiplin, etika, dan nilai-nilai moral. Ia mendorong siswa SMA untuk lebih selektif dalam memilih lingkungan pergaulan dan berani berkata “tidak” pada pengaruh buruk.
Bagi Muhidi, membentengi diri dari pergaulan bebas dan kekerasan adalah bentuk tanggung jawab pribadi siswa terhadap orang tua dan daerah. Ia percaya bahwa generasi yang berdaya saing tinggi hanya bisa lahir dari mereka yang memiliki kontrol diri yang kuat.
Kolaborasi Tiga Pilar: Sekolah, Orang Tua, dan Pemerintah
Menyadari kompleksitas gangguan sosial di era digital, Muhidi menekankan bahwa beban pengawasan tidak bisa hanya diletakkan di bahu sekolah. Perlu ada sinergi yang lebih erat antara guru, orang tua di rumah, dan kebijakan pemerintah yang mendukung lingkungan positif bagi remaja.
Ia menyarankan agar para siswa menyibukkan diri dengan aktivitas produktif seperti organisasi siswa, pengembangan bakat, dan budaya literasi. Kesibukan pada hal-hal positif secara otomatis akan mempersempit ruang gerak siswa untuk bersentuhan dengan aktivitas maksiat.
“Jika anak-anak kita tumbuh dengan akhlak yang baik, Sumatera Barat akan memiliki generasi unggul yang mampu membawa daerah ini lebih maju,” tutupnya penuh optimisme.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.