Opini [DESA MERDEKA] – Di ranah Minangkabau, marwah tidak pernah diajarkan dengan suara keras. Ia tumbuh pelan, seperti akar yang menembus tanah—tidak tampak, tetapi menguatkan. Orang tua-tua dulu tidak sibuk menjelaskan siapa dirinya. Mereka cukup hidup dengan cara yang benar, dan orang lain akan memahami tanpa perlu diberi tahu. Kok tinggi tampak dari jauah, kok dalam tajalang dek urang.
Namun hari ini, suasana itu terasa berbeda. Dunia telah berubah menjadi ruang yang serba terbuka. Setiap orang bisa bicara, bisa menulis, bisa menampilkan dirinya kapan saja. Di satu sisi, ini adalah peluang. Tetapi di sisi lain, ada kegelisahan yang mulai tumbuh diam-diam—kebutuhan untuk terus diakui.
Di sinilah marwah mulai berhadapan dengan sesuatu yang baru: validasi.
Keinginan untuk dihargai sebenarnya bukan hal yang salah. Ia bagian dari fitrah manusia. Kita ingin didengar, ingin dianggap ada, ingin karya kita memiliki arti. Tetapi ketika keinginan itu berubah menjadi kebutuhan yang terus-menerus, sesuatu mulai bergeser di dalam diri.
Kita tidak lagi sekadar ingin berbagi. Kita mulai ingin dilihat. Bahkan lebih jauh, kita ingin diingat—bukan karena makna yang kita bawa, tetapi karena citra yang kita bangun.
Perubahan ini tidak selalu terasa. Ia datang perlahan. Kadang dalam bentuk rasa tidak tenang ketika tulisan sepi respons. Kadang dalam dorongan untuk mengulang-ulang hal yang sama agar tetap diperhatikan. Kadang pula dalam kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih “berhasil”.
Tanpa disadari, ukuran diri pun bergeser.
Jika dulu nilai seseorang tumbuh dari dalam—dari kejujuran, dari konsistensi, dari manfaat yang ia berikan—kini nilai itu sering kali diukur dari luar. Dari seberapa banyak orang yang melihat, menyukai, atau mengakui.
Di titik ini, kegelisahan itu menjadi nyata.
Minangkabau sejatinya memiliki benteng nilai yang kuat. Marwah tidak dibangun dari pengakuan yang diminta, tetapi dari penghormatan yang datang dengan sendirinya. Orang dihargai bukan karena ia menyebut dirinya besar, tetapi karena ia terbukti memberi arti bagi sekitarnya.
Namun di zaman yang serba cepat ini, kesabaran untuk menunggu pengakuan itu mulai menipis. Banyak yang ingin hasil instan. Ingin dihargai sekarang juga. Ingin dikenal tanpa harus melalui proses panjang.
Akibatnya, yang tumbuh bukan ketenangan, melainkan kelelahan batin.
Seseorang menjadi mudah gelisah. Terlalu bergantung pada respons orang lain. Sulit menerima kritik karena terasa seperti ancaman. Bahkan dalam kondisi tertentu, ia bisa kehilangan arah—tidak lagi tahu apakah ia sedang berkarya atau sekadar menjaga citra.
Padahal, dalam falsafah hidup Minangkabau, keseimbangan adalah kunci. Antara yang tampak dan yang tersembunyi. Antara kata dan makna. Antara diri dan lingkungan. Ketika keseimbangan ini terganggu, kegelisahan akan selalu mencari celah.
Lalu, ke mana kita harus kembali?
Barangkali jawabannya sederhana, tetapi tidak mudah dijalani: kembali kepada diri sendiri.
Belajar menerima bahwa tidak semua hal harus diumumkan. Tidak semua pencapaian harus diulang-ulang. Tidak semua karya harus mendapat respons besar. Ada nilai yang justru tumbuh dalam diam, dalam konsistensi yang tidak banyak terlihat.
Menulis, misalnya, seharusnya menjadi ruang kejujuran. Ia bukan panggung untuk membuktikan siapa kita, tetapi jalan untuk menyampaikan apa yang kita rasakan dan pikirkan. Ketika tulisan terlalu sibuk memperkenalkan diri, ia kehilangan ruhnya. Tetapi ketika ia lahir dari ketulusan, ia akan menemukan jalannya sendiri.
Begitu pula dengan hidup.
Tidak semua perjalanan harus dibandingkan. Setiap orang punya waktunya. Lain padang lain belalang, lain lubuak lain ikannyo. Membandingkan hanya akan memperpanjang kegelisahan, bukan memperjelas arah.
Pelan-pelan, kita belajar bahwa penghargaan terbesar bukan datang dari luar, tetapi dari dalam. Dari rasa cukup. Dari kemampuan untuk menerima diri apa adanya. Dari kesadaran bahwa kita tidak harus selalu terlihat untuk menjadi berarti.
Di situlah marwah menemukan tempatnya kembali.
Ia tidak perlu ditampilkan dengan berlebihan. Ia cukup dijaga. Dirawat. Dihidupi. Dan ketika itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, orang lain akan melihatnya—tanpa perlu diminta.
Kegelisahan mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia bagian dari perjalanan manusia. Tetapi ia tidak harus menguasai. Ia bisa menjadi pengingat—bahwa ada sesuatu yang perlu diluruskan, sesuatu yang perlu dikembalikan ke tempatnya.
Bahwa dalam dunia yang semakin riuh oleh keinginan untuk terlihat, ada kekuatan dalam kesederhanaan. Ada ketenangan dalam kejujuran. Ada nilai dalam diam yang tidak selalu disadari.
Dan pada akhirnya, kita sampai pada satu pemahaman yang pelan tapi pasti: kita tidak akan pernah kenyang oleh pujian, jika hati masih lapar akan penerimaan diri sendiri.
Maka mungkin, tantangan terbesar orang Minang hari ini bukan sekadar bertahan di tengah perubahan, tetapi menjaga marwah di tengah godaan untuk terus mencari validasi.
Sebuah kerja sunyi. Tidak mudah, memang.
Tetapi justru di situlah letak maknanya.(DA)
Saya seorang pensiuan berpengalaman di bidang pemerintahan dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik. Terbiasa bekerja secara tim maupun mandiri, saya selalu berkomitmen memberikan hasil terbaik dan terus belajar untuk berkembang.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.