Pekalongan [DESA MERDEKA] – Apa jadinya jika Halal Bi Halal disulap menjadi forum diskusi futuristik? Itulah yang terjadi di Rumah Baca Pintar Kranji, Kedungwuni, pada 3 Mei 2025 saat Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kabupaten dan Kota Pekalongan berkolaborasi dengan Rumah Baca Pintar menggelar acara bertema “Literasi dan Kecerdasan Buatan”. Acara berlangsung dari jam 08.00 WIB sampai selesai.
Lebih dari sekadar temu kangen pasca-Idulfitri, acara ini menjadi magnet bagi ratusan pegiat literasi, akademisi, budayawan, jurnalis, hingga pelajar. Mereka tidak hanya bersalaman dan saling memaafkan, tetapi juga larut dalam diskusi hangat tentang topik yang tengah mengguncang dunia: Artificial Intelligence (AI).

Empat narasumber inspiratif hadir memantik kesadaran digital para peserta. Narasumber Pertama Yoga Rifai Hamzah, Ketua FTBM Kabupaten Pekalongan. Narasumber Kedua Dr. Moh Nasrudin Dosen dari UIN Gusdur serta pemilik penerbit NEM. Narasumber ketiga Ribut Achwandi, budayawan sekaligus Ketua FTBM Kota Pekalongan. Dan Narasumber terakhir Muhammad Burhan jurnalis senior, beliau dulu pernah jadi jurnalis suara merdeka.
Mengawali diskusi, Yoga Rifai Hamzah selaku Ketua FTBM Kabupaten Pekalongan sekaligus technopreneur AI, membuka sesi dengan memaparkan konsep AI dari dasar hingga dampaknya saat ini. “Kita harus paham dulu sebelum takut. AI itu alat, bukan monster,” tegasnya, mengajak peserta melihat AI sebagai peluang, bukan ancaman.
Diskusi berikutnya disampaikan Dr. Moh Nasrudin dari UIN Gusdur mengulas penetrasi AI di dunia pendidikan dan penerbitan. Ia mengupas bagaimana otomatisasi mempengaruhi proses produksi konten dan pembelajaran. “AI bisa memudahkan, tapi juga bisa melumpuhkan kreativitas jika tak digunakan bijak,” ungkapnya.
Ribut Achwandi, budayawan sekaligus Ketua FTBM Kota Pekalongan, membawa audiens ke ranah kontemplatif. “Apakah sebuah karya atau puisi ciptaan AI masih punya jiwa?” tanyanya. Diskusi pun mengalir ke isu orisinalitas, kreativitas manusia, dan ruh dari sebuah karya.
Sementara itu, Muhammad Burhan, jurnalis senior, menyoroti posisi AI dalam dunia jurnalisme. “Jika kita tidak waspada, berita hanya akan menjadi hasil algoritma — kehilangan suara nurani,” ujarnya tajam, mengingatkan pentingnya etika dan kepekaan dalam produksi berita.
Acara ini tak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menjadi penanda penting: bahwa literasi harus bertransformasi. Dalam sambutannya, Yoga Rifai menekankan, “Ini bukan titik akhir, tapi titik tolak. Literasi harus naik level , dari sekadar baca buku menjadi paham teknologi.”
Pekalongan pun membuktikan bahwa diskusi mengenai AI tak melulu eksklusif atau kaku. Ia bisa hadir dalam suasana hangat di tengah komunitas, ditemani ketupat, obrolan ringan, dan canda tawa.
Pesan moralnya tegas dan relevan: Literasi tak boleh kalah cepat dari teknologi. Justru, ia harus menjadi bekal utama agar masyarakat mampu memahami, mengendalikan, dan memanfaatkan teknologi demi masa depan yang lebih cerdas dan manusiawi.
Kontributor : Yoga Rifai Hamzah
Editor : Sahrul Mubarok



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.