Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 3 Agu 2025 17:37 WIB ·

Film ‘Tembelek’ Raih Juara FFP ke-19, Gaet Sutradara Muda


					Film ‘Tembelek’ Raih Juara FFP ke-19, Gaet Sutradara Muda Perbesar

Purbalingga, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Ajang tahunan Festival Film Purbalingga (FFP) kembali menggelar malam penganugerahan ke-19 dengan meriah. Sejak tahun 2006, Cinema Lovers Community (CLC) yang didirikan oleh produser lokal, Bowo Leksono, konsisten menjadi wadah bagi sineas muda untuk berkarya dan mengangkat potensi budaya di wilayah Karesidenan Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen).

Dalam malam penganugerahan yang berlangsung di Bioskop Misbar Purbalingga pada Sabtu, 2 Agustus 2025, film “Tembelek” berhasil mencuri perhatian. Film fiksi karya sutradara muda Afa Lini Abdah dari B2Film SMKN 2 Bawang, Banjarnegara, dinobatkan sebagai Film Fiksi Terbaik FFP 2025. Penghargaan ini disambut dengan sukacita oleh Afa. “Bersyukur dan bangga sekali dengan penghargaan ini, tidak menyangka akhirnya sampai ke titik ini,” ujarnya. Ia juga berharap filmnya bisa terus ditonton oleh banyak orang.

Tak hanya itu, film “Wong Cilik” garapan Danis Adinata dari PB Creative Work SMK Panca Bhakti, Banjarnegara, berhasil menyabet Film Pilihan Juri. Sementara itu, sutradara Natasya Windi Yemima dari SMAN 1 Padamara, Purbalingga, juga menerima penghargaan pemenang FFP-19 untuk filmnya yang berjudul “Yang Terpanggil”.

Natasya Windi Yemima dari SMA N1 Padamara Purbalingga Sutradara film film “Yang Terpanggil” menerima penghargaan pemenang FFP-19

Dewan juri kategori fiksi, yang terdiri dari Anto Galon, King Wiguna, dan Kurnianingsih, menilai adanya kesenjangan kualitas dalam kompetisi tahun ini. “Film terbaik tidak hanya berhasil secara teknis, tetapi juga memiliki lapisan naratif yang kuat dan relevan,” tutur Kurnianingsih, S.Pd., menyoroti standar penilaian yang ketat.

Di sisi lain, untuk kategori dokumenter, dewan juri yang beranggotakan Dr. Edi Santoso, Kurnia Yudha Fitranto, dan Giyato, memutuskan untuk tidak menetapkan film terbaik. Namun, mereka memberikan penghargaan Film Pilihan Juri kepada “Kuntulan Semangkung” karya Baharudin Nadif dari Senthir Production MAN 1 Banjarnegara dan “Sa Pu Cerita” karya Shidqul Asimah dari Gunung Slamet Film SMAN 1 Bobotsari, Purbalingga. “Kami percaya program kompetisi ini adalah langkah awal bagi para pelajar untuk belajar dan mengeksplorasi pengetahuan film,” kata Edi Santoso.

Sutradara film “Kuntulan Semangkung” dari MAN 1 Banjarnegara, sedang menerima piala penghargaan Festival Film Purbalingga ke 19 di Bioskop Misbar Purbalingga

Pada malam yang sama, FFP juga memberikan penghargaan Lintang Kemukus kepada figur-figur berdedikasi. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada seniman tradisi Sukendar Hadi Sumarto (Banyumas), perupa Daryono Yunani (Cilacap), dan untuk pertama kalinya, kepada akademisi peduli kebudayaan, Prof. Dr. Jebul Suroso (Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto). Prof. Jebul Suroso menyatakan, “Penghargaan ini merupakan anugerah bagi UMP. Kami siapkan khusus beasiswa bagi para pemenang untuk kuliah di UMP dengan skema rector scholarship,” ungkapnya.

Pemenang Penghargaan “Lintang Kemukus” kategori akademisi peduli budaya, Prof. DR, Jebul Suroso (Kanan) usai menerima penghargaan dan diwawancarai oleh jurnalis Desa Merdeka Setiyo Haryono (kiri) Di halaman Bioskop Misbar Purbalingga

Acara penganugerahan ini turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Pengembangan Kebudayaan Kemendikbudristek, Ahmad Mahendra, serta pejabat dari Kemenpora. Mahendra memuji festival ini yang dinilai sangat mengakar dan melibatkan berbagai seni budaya lokal. “Festival ini tidak hanya tentang film, tetapi juga merangkul seni tradisi seperti lengger, seni rupa, hingga pelaku UMKM,” jelasnya.

Nanki Nirmanto, Direktur FFP, menyampaikan bahwa festival ini menjadi ruang pembelajaran bagi para pemuda, baik di desa maupun sekolah, untuk memproduksi film secara mandiri. “Ini akan terus dilanjutkan di tahun-tahun depan,” tutupnya, menunjukkan komitmen FFP dalam mencetak generasi sineas yang andal.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 132 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Merah Putih Bung Karno di Builaran, Berdayakan Ekonomi Kaum Marhaen

22 Juli 2026 - 17:51 WIB

Cahaya Lilin Rumah Sederhana yang Menghidupkan Batik Singosari

17 Juli 2026 - 14:28 WIB

Kebangkitan Batik Singosari

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Muharam di Desa: Momentum Revolusi Mental dan Etos Kerja

17 Juni 2026 - 15:31 WIB

Mandeh Siti Manggopoh, Inspirasi Pembangunan Desa Agam Modern

16 Juni 2026 - 13:46 WIB

Trending di SOSBUD