Purbalingga, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Ajang tahunan Festival Film Purbalingga (FFP) kembali menggelar malam penganugerahan ke-19 dengan meriah. Sejak tahun 2006, Cinema Lovers Community (CLC) yang didirikan oleh produser lokal, Bowo Leksono, konsisten menjadi wadah bagi sineas muda untuk berkarya dan mengangkat potensi budaya di wilayah Karesidenan Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen).
Dalam malam penganugerahan yang berlangsung di Bioskop Misbar Purbalingga pada Sabtu, 2 Agustus 2025, film “Tembelek” berhasil mencuri perhatian. Film fiksi karya sutradara muda Afa Lini Abdah dari B2Film SMKN 2 Bawang, Banjarnegara, dinobatkan sebagai Film Fiksi Terbaik FFP 2025. Penghargaan ini disambut dengan sukacita oleh Afa. “Bersyukur dan bangga sekali dengan penghargaan ini, tidak menyangka akhirnya sampai ke titik ini,” ujarnya. Ia juga berharap filmnya bisa terus ditonton oleh banyak orang.
Tak hanya itu, film “Wong Cilik” garapan Danis Adinata dari PB Creative Work SMK Panca Bhakti, Banjarnegara, berhasil menyabet Film Pilihan Juri. Sementara itu, sutradara Natasya Windi Yemima dari SMAN 1 Padamara, Purbalingga, juga menerima penghargaan pemenang FFP-19 untuk filmnya yang berjudul “Yang Terpanggil”.

Dewan juri kategori fiksi, yang terdiri dari Anto Galon, King Wiguna, dan Kurnianingsih, menilai adanya kesenjangan kualitas dalam kompetisi tahun ini. “Film terbaik tidak hanya berhasil secara teknis, tetapi juga memiliki lapisan naratif yang kuat dan relevan,” tutur Kurnianingsih, S.Pd., menyoroti standar penilaian yang ketat.
Di sisi lain, untuk kategori dokumenter, dewan juri yang beranggotakan Dr. Edi Santoso, Kurnia Yudha Fitranto, dan Giyato, memutuskan untuk tidak menetapkan film terbaik. Namun, mereka memberikan penghargaan Film Pilihan Juri kepada “Kuntulan Semangkung” karya Baharudin Nadif dari Senthir Production MAN 1 Banjarnegara dan “Sa Pu Cerita” karya Shidqul Asimah dari Gunung Slamet Film SMAN 1 Bobotsari, Purbalingga. “Kami percaya program kompetisi ini adalah langkah awal bagi para pelajar untuk belajar dan mengeksplorasi pengetahuan film,” kata Edi Santoso.

Pada malam yang sama, FFP juga memberikan penghargaan Lintang Kemukus kepada figur-figur berdedikasi. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada seniman tradisi Sukendar Hadi Sumarto (Banyumas), perupa Daryono Yunani (Cilacap), dan untuk pertama kalinya, kepada akademisi peduli kebudayaan, Prof. Dr. Jebul Suroso (Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto). Prof. Jebul Suroso menyatakan, “Penghargaan ini merupakan anugerah bagi UMP. Kami siapkan khusus beasiswa bagi para pemenang untuk kuliah di UMP dengan skema rector scholarship,” ungkapnya.

Acara penganugerahan ini turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Pengembangan Kebudayaan Kemendikbudristek, Ahmad Mahendra, serta pejabat dari Kemenpora. Mahendra memuji festival ini yang dinilai sangat mengakar dan melibatkan berbagai seni budaya lokal. “Festival ini tidak hanya tentang film, tetapi juga merangkul seni tradisi seperti lengger, seni rupa, hingga pelaku UMKM,” jelasnya.
Nanki Nirmanto, Direktur FFP, menyampaikan bahwa festival ini menjadi ruang pembelajaran bagi para pemuda, baik di desa maupun sekolah, untuk memproduksi film secara mandiri. “Ini akan terus dilanjutkan di tahun-tahun depan,” tutupnya, menunjukkan komitmen FFP dalam mencetak generasi sineas yang andal.















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.