Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] — Senja turun perlahan di Kecamatan Pasimarannu, Rabu (25/2/2026). Cahaya keemasan menembus jendela ruang kelas UPT SDI Lamantu Nomor 115. Meja-meja belajar digeser ke tepi ruangan, karpet dibentangkan di tengah, dan anak-anak duduk rapi menunggu waktu berbuka.
Di ujung Kepulauan Selayar, Ramadhan tak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga ruang penguatan pendidikan karakter.
Di tengah berbagai upaya nasional memperkuat pendidikan karakter di sekolah-sekolah, praktik sederhana di Pasimarannu ini menunjukkan bahwa nilai tidak selalu tumbuh dari program besar atau kebijakan formal. Ia dapat bertumbuh melalui kebersamaan yang mempertemukan sekolah dan masyarakat dalam satu ruang yang sama.
Pasimarannu merupakan wilayah kepulauan yang aksesnya bergantung pada kondisi laut. Ombak dan angin kerap menentukan jadwal keberangkatan. Dalam keterbatasan geografis itu, sekolah memiliki peran strategis—bukan hanya sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter.
Ramadhan dan Sekolah sebagai Ruang Nilai
Buka puasa bersama bertema “Merajut Ukhuwah dalam Cahaya Ramadhan” mempertemukan siswa, guru, orang tua, komite sekolah, hingga Kepala Desa Lamantu.

Dalam sambutannya, Ilmansyah, S.Pd.Gr, menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum memperkuat nilai kebersamaan di lingkungan pendidikan.
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan keberkahan. Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi hidangan, tetapi juga mempererat silaturahmi serta menumbuhkan rasa kebersamaan antara guru dan siswa,” ujarnya.

Di Pasimarannu, sekolah menjadi simpul sosial. Guru dan orang tua tidak hanya bertemu dalam forum administratif, tetapi juga dalam kegiatan yang mempererat relasi. Dalam suasana yang tertib dan khidmat, nilai saling menghormati dan kepedulian bertumbuh secara alami.
Guru dan tenaga kependidikan dari sejumlah sekolah dasar se-daratan Pulau Bonerate turut hadir. Orang tua siswa mendampingi anak-anak mereka. Komite sekolah dan unsur pemerintah desa juga membersamai kegiatan, memperlihatkan bahwa pendidikan karakter di wilayah kepulauan bersandar pada kolaborasi komunitas.
Empat Siswa, Empat Nilai Pendidikan
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan lomba kultum yang diikuti empat siswa-siswi.
Muhammad Saldi Khairul Azzam menyampaikan Keutamaan Shalat.
Nur Aisyah membahas Keutamaan Zakat.
Riski Zain Zahran mengangkat Keutamaan Puasa.
Sementara Nur Ilmi menguraikan Keutamaan Dua Kalimat Syahadat sebagai fondasi keyakinan.
Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga dilatih keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan berbicara di depan umum—unsur penting dalam pendidikan karakter.
Tepuk tangan yang mengiringi setiap penampilan menjadi penguat mental. Di ruang kelas sederhana itu, pendidikan karakter hadir bukan sebagai teori, melainkan sebagai pengalaman.
Dari Kepulauan untuk Indonesia
Menjelang magrib, doa dipanjatkan bersama. Saat adzan berkumandang, hidangan sederhana disajikan.

Di banyak daerah, pendidikan karakter menjadi bagian dari kebijakan dan kurikulum nasional. Di Kepulauan Selayar, khususnya Pasimarannu, nilai-nilai tersebut juga diperkuat melalui kebersamaan yang melibatkan sekolah dan masyarakat.
Indonesia adalah negeri kepulauan. Di pulau-pulau kecil yang jauh dari pusat, ruang kelas seperti di Lamantu mungkin jarang menjadi sorotan nasional. Namun di sanalah, fondasi karakter generasi muda dirawat setiap hari.
Di tengah tantangan pendidikan nasional, dari Kepulauan Selayar terselip satu pengingat: pendidikan karakter tidak selalu lahir dari fasilitas besar, tetapi dari kebersamaan yang konsisten dan nilai yang dihidupi bersama.

kontributor Desamerdeka.id wilayah Sulawesi Selatan. Aktif meliput isu-isu sosial, pemerintahan desa, dan dinamika pembangunan masyarakat pesisir.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.