Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 1 Mar 2025 07:39 WIB ·

Cara Unik Omah Sinau Jaga Napas Peradaban Desa Wonokerto


					Cara Unik Omah Sinau Jaga Napas Peradaban Desa Wonokerto Perbesar

Batang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Menjelang Ramadan, biasanya masyarakat sibuk dengan persiapan fisik. Namun, di Desa Wonokerto, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, komunitas Omah Sinau bersama mahasiswa KKN UIN Gus Dur memilih cara yang lebih “dalam”. Mereka melakukan ekspedisi spiritual ke empat titik makam keramat yang menyimpan sejarah tujuh tokoh besar (Aulia) di desa tersebut, Jumat (28/2/2025).

Bukan sekadar ritual tahunan, ziarah ini menjadi perayaan ulang tahun ke-9 Omah Sinau sekaligus momen Megengan. Sudut pandang yang menarik adalah bagaimana komunitas pendidikan non-formal ini menjadikan makam sebagai “perpustakaan terbuka” untuk mengenalkan narasi perjuangan tokoh Islam lokal kepada generasi milenial dan Gen Z.

Foto Kegiatan Ziarah ke 4 makam dengan 7 wali yang dilakukan oleh Komunitas Omah Sinau dan KKN UIN Gusdur

Menapaki Jejak 7 Wali di 4 Maqom
Ekspedisi dimulai pukul 15.00 WIB. Rombongan menyisir lorong-lorong desa untuk menyambangi para leluhur yang menjadi soko guru spiritual di Wonokerto. Titik pertama adalah Maqom Mbah Nolosuto dan Mbah Sutojoyo di Dukuh Kulur. Perjalanan berlanjut ke Dukuh Kampir untuk berziarah ke Maqom Mbah Wali Kampir (Mbah Wali Mangsi & Mbah Wali Girikusumo).

Tak berhenti di situ, peserta kembali ke Dukuh Kulur untuk menziarahi Mbah Wali Abdillah dan Bu Nyai Abdillah. Puncaknya, romonongan menuju Dukuh Sikuntul untuk mendoakan Syekh Dhiyauddin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Wali Bening. Di setiap pemberhentian, lantunan tahlil dan doa bergema, diselingi tausiah singkat yang mengupas strategi dakwah para wali tersebut di masa lalu.

Megengan: Diplomasi Budaya dan Rasa Syukur
Setelah perjalanan spiritual usai, kegiatan berlanjut ke sesi Megengan di pusat kegiatan Omah Sinau. Tradisi Jawa menyambut Ramadan ini diisi dengan diskusi hangat dan makan bersama di atas nampan (kembul bujana), simbol pudarnya sekat sosial antara tokoh agama, mahasiswa, dan warga.

Ketua Panitia, Khifdhulisan, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah upaya menjaga ukhuwah Islamiyah sekaligus refleksi sejarah. “Ziarah ini sarana mengenang perjuangan pendahulu agar semangatnya menular ke anak muda sekarang,” tuturnya.

Salman, perwakilan KKN UIN Gus Dur, menambahkan bahwa kolaborasi ini memberikan pengalaman sosiologis yang mahal. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kampus, tetapi melihat langsung bagaimana tradisi menjadi perekat persaudaraan yang efektif di masyarakat pedesaan.

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan untuk menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan. Melalui kegiatan ini, Desa Wonokerto membuktikan bahwa kemajuan zaman tak harus melunturkan rasa hormat pada akar sejarah dan spiritualitas lokal.

Pengirim Berita : Slamet Nur K.

Editor : Sahrul

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 113 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lewat Jalan Sehat, Warga Perumdam Wirasakti Rawat Kebersamaan Jelang Hari Kemerdekaan RI ke 81

16 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Kisah Warga Pasimarannu: Evakuasi Mandiri Cepat dari Gempa

15 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Lingkaran Setan Pesisir Meranti: Mengapa Kursi Kepala Desa Sepi Peminat?

14 Agustus 2026 - 15:37 WIB

Cegah Stunting, Posyandu Mawar Balitata Kawal Tumbuh Kembang Balita

12 Agustus 2026 - 17:21 WIB

Menggarami Lautan Lunang: Kritik Perda Bencana & Siasat APBDes

12 Agustus 2026 - 09:47 WIB

Dukung Sport Tourism, BOM Run 2026 Dongkrak Sektor UMKM Padang

9 Agustus 2026 - 17:56 WIB

Trending di RAGAM