Batang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Menjelang Ramadan, biasanya masyarakat sibuk dengan persiapan fisik. Namun, di Desa Wonokerto, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, komunitas Omah Sinau bersama mahasiswa KKN UIN Gus Dur memilih cara yang lebih “dalam”. Mereka melakukan ekspedisi spiritual ke empat titik makam keramat yang menyimpan sejarah tujuh tokoh besar (Aulia) di desa tersebut, Jumat (28/2/2025).
Bukan sekadar ritual tahunan, ziarah ini menjadi perayaan ulang tahun ke-9 Omah Sinau sekaligus momen Megengan. Sudut pandang yang menarik adalah bagaimana komunitas pendidikan non-formal ini menjadikan makam sebagai “perpustakaan terbuka” untuk mengenalkan narasi perjuangan tokoh Islam lokal kepada generasi milenial dan Gen Z.

Menapaki Jejak 7 Wali di 4 Maqom
Ekspedisi dimulai pukul 15.00 WIB. Rombongan menyisir lorong-lorong desa untuk menyambangi para leluhur yang menjadi soko guru spiritual di Wonokerto. Titik pertama adalah Maqom Mbah Nolosuto dan Mbah Sutojoyo di Dukuh Kulur. Perjalanan berlanjut ke Dukuh Kampir untuk berziarah ke Maqom Mbah Wali Kampir (Mbah Wali Mangsi & Mbah Wali Girikusumo).
Tak berhenti di situ, peserta kembali ke Dukuh Kulur untuk menziarahi Mbah Wali Abdillah dan Bu Nyai Abdillah. Puncaknya, romonongan menuju Dukuh Sikuntul untuk mendoakan Syekh Dhiyauddin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Wali Bening. Di setiap pemberhentian, lantunan tahlil dan doa bergema, diselingi tausiah singkat yang mengupas strategi dakwah para wali tersebut di masa lalu.
Megengan: Diplomasi Budaya dan Rasa Syukur
Setelah perjalanan spiritual usai, kegiatan berlanjut ke sesi Megengan di pusat kegiatan Omah Sinau. Tradisi Jawa menyambut Ramadan ini diisi dengan diskusi hangat dan makan bersama di atas nampan (kembul bujana), simbol pudarnya sekat sosial antara tokoh agama, mahasiswa, dan warga.
Ketua Panitia, Khifdhulisan, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah upaya menjaga ukhuwah Islamiyah sekaligus refleksi sejarah. “Ziarah ini sarana mengenang perjuangan pendahulu agar semangatnya menular ke anak muda sekarang,” tuturnya.
Salman, perwakilan KKN UIN Gus Dur, menambahkan bahwa kolaborasi ini memberikan pengalaman sosiologis yang mahal. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kampus, tetapi melihat langsung bagaimana tradisi menjadi perekat persaudaraan yang efektif di masyarakat pedesaan.
Acara ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan untuk menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan. Melalui kegiatan ini, Desa Wonokerto membuktikan bahwa kemajuan zaman tak harus melunturkan rasa hormat pada akar sejarah dan spiritualitas lokal.
Pengirim Berita : Slamet Nur K.
Editor : Sahrul



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.