Halmahera Selatan, Maluku Utara[DESA MERDEKA] – Ironi besar tengah menyelimuti warga Bacan Barat dan Bacan Barat Utara. Di tengah narasi digitalisasi nasional, ribuan warga di dua wilayah Kabupaten Halmahera Selatan ini justru merasa kembali ke “zaman kegelapan”. Pemadaman listrik kronis yang berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu memicu amarah warga dan mengundang aksi protes keras dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kalesang Anak Negeri (KANe) Maluku Utara.
Sekretaris LSM KANe Maluku Utara, Alimudin AF, menegaskan bahwa situasi ini bukan lagi sekadar gangguan teknis biasa, melainkan kegagalan manajemen yang fatal. Menurutnya, listrik adalah urat nadi aktivitas masyarakat selama 24 jam. Tanpa pasokan yang stabil, roda ekonomi dan kehidupan sosial warga pedesaan lumpuh total.
“Pemadaman di sini sangat fatal. Bayangkan, masyarakat perkotaan mati lampu satu jam saja sudah gaduh, sementara di pedesaan Bacan, pemadaman bisa sampai seminggu penuh. Ini penderitaan yang luar biasa,” ungkap Alimudin dengan nada kecewa.
Ironi “Beli Meteran untuk Menderita”
Sudut pandang menarik muncul saat Alimudin menyoroti perjuangan ekonomi warga. Banyak masyarakat desa yang harus menyisihkan uang dari keterbatasan ekonomi mereka demi memasang meteran PLN dengan harapan hidup lebih mudah. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik.
“Setelah meteran dipasang, warga kira hidup akan senang. Faktanya, mereka malah makin setengah mati. Seolah-olah lebih baik tidak menggunakan listrik PLN sama sekali daripada bayar untuk menderita. Ini jelas kesalahan fatal dari pihak manajemen PLN,” tegas Alimudin.
Gelar Demo dan Tuntut Pencopotan Kepala PLN
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, LSM KANe berencana mengepung kantor PT PLN (Persero) Cabang Bacan pada pekan depan. Aksi unjuk rasa besar-besaran ini membawa tuntutan tunggal: Stabilisasi pasokan listrik atau pencopotan jabatan.
Alimudin menilai Kepala PLN Halmahera Selatan, Nurseto, gagal total dalam memetakan dan menyelesaikan krisis listrik di wilayah Bacan Barat. Ketidakmampuan pimpinan dalam merespons jeritan warga menjadi alasan utama LSM KANe mendesak adanya pergantian kepemimpinan.
“Paling lambat hari Kamis pekan depan kami turun ke jalan. Tuntutan kami jelas, tuntaskan krisis listrik di Bacan Barat dan Barat Utara, serta copot Nurseto dari jabatannya sebagai Kepala PLN Bacan,” tutupnya.
Bagi warga Bacan, listrik kini bukan lagi soal gaya hidup, melainkan kebutuhan dasar yang mendesak untuk keberlangsungan hidup dan martabat ekonomi mereka yang telah lama terabaikan.
Disclaimer Berita:
Berita ini disusun berdasarkan informasi yang diberikan oleh narasumber dan bertujuan untuk menyampaikan aspirasi serta keluhan masyarakat terkait pemadaman listrik. Redaksi berusaha menyajikan informasi secara akurat dan berimbang. Segala klaim dan tuntutan yang disebutkan dalam berita ini merupakan pandangan dari pihak-pihak terkait dan bukan merupakan pernyataan atau posisi resmi dari redaksi.

Activity:
•Reporter •Advocate (Kandidat Notaris PPAT) •Konsultan Pendidikan Nawala Education (Overseas Study Advisor – Nawala Education) •Lecturer
Experience:
•Reporter & News Anchor TVRI •Medical Reps. Eisai Indonesia •HRD Metro Selular Nusantara
***
“Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi seberapa berkembang ia dengan kerja kerasnya itu.” – John Ruskin

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.