Bekasi, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Proyek strategis nasional Tol Jakarta-Cikampek II Sisi Selatan memang membawa harapan bagi konektivitas nasional, namun di Desa Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, proyek ini menyisakan persoalan serius bagi warga setempat. Akses vital menuju pemukiman warga di Gang Arkawi dan Gang Haji Mursid kini terputus akibat pengerjaan proyek, memicu keresahan yang menuntut jawaban pasti dari pengembang.
Secara geografis, Bojongmangu merupakan wilayah agraris dan pemukiman yang sedang berkembang di pinggiran Bekasi. Terputusnya akses jalan desa bukan sekadar kendala teknis, melainkan hambatan bagi urat nadi ekonomi warga. Hilangnya akses jalan mengakibatkan biaya transportasi melambung tinggi bagi pedagang lokal, terhambatnya distribusi hasil tani, hingga penurunan omzet pelaku usaha kecil yang kini kehilangan akses pelanggan. Ekonomi desa yang seharusnya tumbuh bersama proyek infrastruktur justru mengalami kontraksi karena mobilitas warga yang lumpuh.
Senin (10/2/2025), Pemerintah Desa Bojongmangu bersama pihak kecamatan, BPD, serta aparat TNI/Polri mendatangi pihak kontraktor tol untuk meminta pertanggungjawaban konkret. Sekretaris Desa Bojongmangu, Pandi Achmadi, menegaskan bahwa warga sebenarnya mendukung penuh proyek pembangunan pemerintah ini. Namun, transparansi progres pengerjaan akses jalan pengganti dan nasib aset desa menjadi prioritas utama.
“Warga tidak tahu urusan teknis, mereka hanya ingin akses jalan kembali normal. Kami butuh kepastian progres agar bisa memberikan laporan yang transparan kepada warga,” tegas Pandi.
Permasalahan ini mencakup tiga poin utama: ketidakjelasan waktu pengerjaan jalan warga, penyelesaian administrasi penggantian aset jalan desa, hingga perbaikan saluran air PDAM yang ikut terputus. Kasi Trantib Kecamatan Bojongmangu, Agus Salim, menambahkan bahwa pemerintah daerah tidak menginginkan solusi temporer. Ia menuntut serah terima aset jalan yang jelas dan permanen, bukan sekadar janji yang tidak berujung.
Menanggapi desakan tersebut, Humas Japek II, Robert, menyampaikan permohonan maaf dan memastikan bahwa rencana pembangunan jalan di sisi kanan dan kiri proyek sudah dirancang. Meski demikian, kepastian waktu pengerjaan tetap menjadi tanda tanya besar bagi warga. Bagi Bojongmangu, proyek nasional tidak boleh mengorbankan hak dasar warga untuk beraktivitas. Masyarakat kini menunggu aksi nyata di lapangan, sebab bagi mereka, akses jalan bukan sekadar aspal, melainkan urat nadi kehidupan sehari-hari yang harus segera dipulihkan demi keberlanjutan ekonomi desa.
misru Ariyanto jurnalis desamerdeka, saat ini menjabat sekretaris parade Nusantara DPD kabupaten Bekasi
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.