Kupang, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Gelar sarjana yang diraih Selviana Kofi, S.Sos., dalam wisuda Universitas Nusa Cendana (Undana) pada Februari lalu, bukan sekadar prestasi akademik. Di balik toga itu, tersimpan kisah “sarjana ternak babi” dari Desa Oeltua, Kabupaten Kupang. Sang ayah, Yakobus Kofi, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang pendidikan yang hanya lulusan SD bukan penghalang untuk mengantarkan anak ke puncak pendidikan tinggi.
Perjuangan Yakobus—atau Jecko—adalah potret nyata ketahanan warga desa. Sambil bekerja sebagai tukang bangunan di kota, ia menyulap lantai dasar rumah sederhananya menjadi kandang babi berukuran 4×24 meter. Usaha ternak inilah yang menjadi mesin ekonomi tambahan bagi keluarga Kofi untuk menutupi biaya kuliah yang tidak sedikit.

Strategi Pakan Alternatif dan Resiliensi Desa
Hidup di tengah kesulitan ekonomi menuntut kreativitas. Untuk menekan biaya produksi, Jecko rutin bergerilya mencari sisa sayuran di pasar untuk diolah kembali menjadi pakan ternak. Meski sempat terpuruk akibat virus yang mematikan seluruh ternaknya, ia bangkit kembali berkat bantuan bibit dari peternak lokal.
“Dulu saya punya banyak babi, tapi mati semua kena virus. Namun, saya tidak putus asa dan mulai beternak lagi,” kenang Jecko. Resiliensi atau daya lentur seperti inilah yang menjadi ciri khas kemandirian ekonomi masyarakat perdesaan dalam menghadapi krisis.
Investasi Sosial dari Meja Kuliah ke Desa
Keberhasilan Selviana adalah buah dari solidaritas keluarga. Sejak kecil, ia dan adik-adiknya terbiasa berbagi tugas: mencincang pakan, memasak, hingga membersihkan kandang babi. Pola asuh ini membentuk karakter Selviana yang tidak hanya ingin mencari kerja untuk membantu adik-adiknya, tetapi juga memiliki cita-cita mulia berinvestasi sosial di lembaga kemanusiaan.
Bagi Selviana, gelar S.Sos yang ia sandang adalah balasan atas cucuran keringat ayahnya. Kisah dari Desa Oeltua ini mengirimkan pesan kuat bagi seluruh pemuda desa di NTT: bahwa kemiskinan bisa dikalahkan dengan kegigihan, kerja keras, dan bau aroma kandang yang berubah menjadi wangi masa depan.
Penggiat dan pencinta desa,tinggal dan bekerja di Desa Oetulu, Pulau Timor NTT


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.