Sidoarjo, Jawa Timur[DESA MERDEKA] – Saat jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh pada Minggu pagi (11/10/2026), kawasan Krajan Stasiun di RT 39 RW 09, Kelurahan Krian, Kabupaten Sidoarjo, sudah mulai menggeliat. Di sudut-sudut lorong dusun yang bersahaja itu, beberapa orang dewasa tampak berjalan kaki dari satu rumah ke rumah lainnya. Mereka bukan sedang mendata warga, melainkan sedang “menjemput” masa depan dengan cara mengetuk pintu rumah-rumah tetangga.
Itulah sekelumit pemandangan dari gerakan Play On Anak Krian Edisi 3. Mengajak anak-anak dusun melepaskan kehangatan selimut atau meletakkan gawai di hari libur bukanlah perkara mudah. Namun, dengan bujukan ramah, sapaan akrab khas warga desa, dan penuh kasih sayang, panitia berhasil mengajak anak-anak melangkah keluar ke halaman komunal, menyongsong tema besar hari itu: “Kenali Potensimu, Tumbuhkan Bakatmu”.
Merawat Keguyuban Dusun di Ujung Barat Sidoarjo
Secara geografis, wilayah Krian berada di ujung barat Kabupaten Sidoarjo—sebuah dataran rendah strategis yang membelah jalur Mojokerto dan Surabaya. Meski dinamika industri besar mengepung wilayah sekitarnya, Kantong permukiman seperti Krajan Stasiun tetap mempertahankan denyut nadi kultural sebuah dusun yang kental dengan nilai kekeluargaan dan gotong royong. Karakteristik demografis masyarakat setempat didominasi oleh warga suburban yang mengandalkan ruang-ruang publik komunal sebagai jantung interaksi sosial sehari-hari.
Menyusutnya lahan bermain bebas akibat alih fungsi tanah tidak membuat semangat swadaya warga surut. Mengambil lokasi di fasilitas umum RT dan pelataran terbuka sekitar Masjid Manarul Iman Krian yang bertetangga langsung dengan jalur kereta api Stasiun Krian, keterbatasan ruang tersebut justru disulap menjadi area bermain yang merdeka.
Melalui kolaborasi antara komunitas Jelajah Selindu dan Takmir Masjid Manarul Iman, fasum desa hari itu dibagi menjadi lima zona eksplorasi: Creative Corner, Story & Speaking, Nature & Green, Problem Solver, dan Performance.
Program nonformal ini bergerak sebagai oase pendidikan alternatif di luar rutinitas sekolah. Fokus utamanya adalah merangkul anak-anak dusun agar tidak larut dalam ruang isolasi layar gawai, melainkan kembali membumi dengan interaksi langsung yang menumbuhkan rasa simpati, empati, kreativitas, dan kemampuan bersosialisasi antar-sesama warga.

Ketulusan yang Menular dari Mulut ke Mulut
Bagi Fatimahtush Lembayun Sadiah, atau yang akrab disapa Bunda Ayun, lelahnya panitia keliling kampung membangunkan anak-anak di pagi buta terbayar tuntas oleh riuhnya keceriaan di pelataran bermural merah-putih milik warga.
“Karena mereka generasi masa depan penerus bangsa, siapa lagi kalau bukan kita yang peduli akan pendidikan dan tumbuh kembang mereka, selain kita yang memang peduli dengan dunia sosial dan literasi,” ungkap Bunda Ayun dengan senyum tulus.
Ia menaruh harapan besar agar gerakan literasi berbasis dusun ini bisa berjalan konsisten dan meluas ke desa-desa tetangga.
Daya tarik utama dari ruang belajar alternatif di tingkat RT ini adalah suasananya yang guyub dan tanpa beban. Inka Santosa, salah satu orang tua dari dusun setempat, melihat anaknya, Qisha, bisa belajar dengan lepas tanpa rasa takut dihakimi.
“Anak-anak bisa belajar sambil bermain, ketemu teman baru, dan mencoba hal baru tanpa merasa terbebani,” tuturnya.
Inka berharap aktivitas berbasis komunitas ini terus dikembangkan ke ranah seni rakyat, literasi lokal, eksperimen sederhana, hingga pengenalan alam sekitar desa.
Sentuhan humanis juga datang dari anak-anak dusun itu sendiri. Qisha Mutiara Syafia, yang dipercaya memimpin sesi Public Speaking dan Cerita, mengaku terharu melihat tawa polos teman-temannya.
“Banyak yang saya buat tertawa dan tersenyum gembira, dan itu motivasi besar bagi saya,” kata Qisha. Ia pun menitipkan pesan sederhana untuk kawan-kawan sebayanya di kampung, “Jangan menyerah dan sebarkan senyuman ke orang lain meskipun itu terlihat susah.”
Semangat keberanian serupa ditiupkan oleh Khayra Drey Shaazia Hidayatullah pada sesi Performance.
“Jangan takut mencoba dan teruslah percaya pada kemampuan diri sendiri,” ujarnya memotivasi anak-anak desa agar berani tampil percaya diri.
Pendidikan adalah Gerakan Semesta
Di balik kesederhanaan fasilitas dusun, para orang tua yang hadir membawa pulang refleksi mendalam tentang pengasuhan kolektif. Reyni, salah satu warga, menegaskan bahwa lingkungan ramah anak di tingkat desa adalah kebutuhan mutlak bagi tumbuh kembang emosional anak-anak hari ini.
Sementara itu, Kholidiyah Budiasri Azmah mengingatkan bahwa membentuk karakter anak dusun membutuhkan proses yang berkesinambungan. Hal itu menuntut kualitas pendampingan yang telaten dari para pemuda desa serta pemberian kesempatan yang adil bagi setiap anak untuk menunjukkan potensinya secara mandiri.
Pandangan dari akar rumput ini mempertegas bahwa keberhasilan sebuah program anak di tingkat dusun tidak diukur dari megahnya panggung acara. Keberlanjutan hubungan emosional antar-warga dan konsistensi ruang ekslorasi adalah fondasi yang sesungguhnya.

Menyediakan Ruang untuk Bertumbuh
Play On Anak Krian kini telah menjelma menjadi sebuah gerakan kultural kecil di sudut Kabupaten Sidoarjo. Sebuah ikhtiar komunal untuk menebalkan rasa percaya diri dan kepedulian sosial anak-anak desa sejak dini di tengah kepungan modernisasi.
Gerakan ini mengajak seluruh elemen untuk mengubah cara pandang kita terhadap anak-anak di daerah suburban. Sudah saatnya kita berhenti menuntut dan bertanya, “Anak desa ini bisa apa?” Sebaliknya, sebagai sebuah komunitas, kita harus mulai bertanya, “Ruang apa yang sudah kita sediakan di lingkungan tingkat RT agar anak-anak kita berani mencoba dan menemukan bakat terpendam mereka?”
Masa depan anak-anak di Krajan Stasiun tidak akan mekar hanya dari rentetan nasihat formal. Ia tumbuh subur dari kepercayaan orang tua di rumah, ruang gerak yang dibuka oleh sekolah, keguyuban komunitas lokal seperti Jelajah Selindu dan Takmir Masjid, serta dukungan kebijakan dari pemerintah desa setempat.
Langkah awal telah diayunkan di pelataran Krajan. Tugas kita bersama sekarang adalah menjaga agar api swadaya ini tetap menyala di koridor desa, mendampingi proses alaminya, dan menumbuhkan potensi setiap anak menjadi kekuatan masa depan Krian.
Team Redaksi Untuk Kiriman Rilis Berita
Email : mydesamerdeka@gmail.com
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.