Redaksi [DESA MERDEKA] – Menyerahkan penyelesaian masalah stunting dan kemiskinan ekstrem yang kompleks kepada mahasiswa berbekal waktu dua bulan terasa seperti sebuah penyederhanaan yang naif. Jika tidak hati-hati, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) massal berisiko mencerabut data dari akar budaya lokal, memposisikan desa hanya sebagai objek laboratorium, dan melanggengkan budaya ketergantungan.
Kritik mendasar inilah yang membayangi penerjunan 82 mahasiswa dari lima perguruan tinggi besar di Nusa Tenggara Timur (NTT) ke lima desa lokus red stunting di Kabupaten Malaka. Melalui KKN Tematik Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif (GENTASKIN) Batch 2, model pengabdian konvensional ini harus didekonstruksi total. Desa tidak butuh pekerja lepas musiman; desa butuh pelecut semangat untuk menguatkan dirinya sendiri.
Menolak Jebakan “Menara Gading” Dua Bulan
Lima wilayah yang menjadi sasaran—Desa Motaulun, Naas, Umatos, Saenama, dan Raisamane—bukan ruang kosong tanpa tatanan sosial. Menaruh beban eksekusi program kesehatan dan pembenahan sanitasi sepenuhnya di pundak mahasiswa dari Undana, Unwira, UKAW, Unimor, dan UCB justru berpotensi merusak agensi warga lokal.
Kompleksitas hulu stunting, mulai dari keterbatasan air bersih hingga pola asuh adat, tidak akan selesai dengan program kerja (proker) fisik yang buru-buru dikejar demi pemenuhan dokumen laporan. Keberhasilan sejati tidak diukur dari berapa banyak sosialisasi yang digelar mahasiswa, melainkan seberapa besar kapasitas warga yang berhasil ditingkatkan setelah mereka pergi.
Mahasiswa sebagai Konsultan, Warga sebagai Eksekutor
Filosofi KKN GENTASKIN Batch 2 harus digeser dari “melaksanakan proker” menjadi “membersamai desa”. Sebanyak 82 mahasiswa ini idealnya menempatkan diri sebagai konsultan kelas wahid yang menyediakan contoh kasus (case study), membuka cakrawala berpikir anak-anak muda desa, dan menyajikan alternatif solusi berbasis sains ilmiah kampus.
Eksekutor utama dari seluruh rencana aksi keluar dari status zona merah stunting harus tetap berada di tangan pemuda desa, kader posyandu, dan para tetua adat setempat. Mahasiswa bertindak sebagai validator data rill sosiologis dan mitra diskusi yang setara, bukan instruktur top-down yang merasa paling tahu masalah. Langkah ini penting agar data yang dikumpulkan tidak tercerabut dari konteks budaya khas Malaka.
Jika formula “membersamai” ini diterapkan secara konsisten, KKN GENTASKIN Batch 2 di Malaka akan melahirkan level baru dalam pengabdian masyarakat. Desa-desa di Malaka akan naik kelas (level up) bukan karena disuapi solusi instan selama dua bulan, melainkan karena pemuda dan warganya telah berhasil dipecut semangatnya untuk memimpin perubahan secara mandiri dan berkelanjutan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.