Talun Rejo, Simalungun[DESA MERDEKA] – Malam mencekam menyelimuti Nagori Talun Rejo, Kecamatan Pematang Bandar, Simalungun, Kamis (3/7/2026). Saat hujan lebat dan petir menyambar, pusaran angin puting beliung datang menghantam, meluluhlantakkan 51 rumah warga dalam sekejap. Kini, di tengah puing-puing bangunan, warga menanti uluran tangan pemerintah yang dirasa sangat lambat.
Kusnadi (40), warga Huta III, masih mengingat jelas suara gemuruh yang meruntuhkan atap dapurnya. “Anginnya berputar sangat kencang. Belum sempat sadar, seng sudah terbang. Kami lari keluar rumah karena takut tertimpa bangunan,” kenangnya. Kengerian serupa terjadi di Huta II, di mana kekuatan angin sanggup menerbangkan atap rumah hingga tersangkut di puncak pohon sawit.
Kerusakan tersebar di empat dusun—Huta I, II, III, dan VI. Akses jalan sempat terputus total karena pohon tumbang dan tiang listrik yang roboh. Pangulu Nagori Talun Rejo, Waris, langsung berupaya mendirikan dapur umum dengan sumber daya terbatas. Namun, kebutuhan mendesak seperti terpal penutup atap, logistik, dan material bangunan masih jauh dari cukup.
Ironisnya, di saat warga berjuang swadaya, bantuan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun belum juga tiba. Ketua Maujana Nagori Talun Rejo, Rini, menyatakan kekecewaannya. “Surat permohonan sudah kami kirim, tapi belum ada tindak lanjut hingga hari ini,” keluhnya. Edi Suwardi, anggota Maujana, mendesak pemerintah agar tidak membiarkan masyarakat berjuang sendirian.
Menanggapi keluhan tersebut, Camat Pematang Bandar, Pahot Halomoan Siregar, menyatakan bahwa data telah dilaporkan ke tingkat kabupaten dan BPBD sudah meninjau lokasi. Namun, ia mengakui bantuan fisik memang belum tersalurkan.
Di balik puing yang berserakan, warga Talun Rejo kini dihantui kecemasan akan peringatan BMKG mengenai potensi cuaca ekstrem susulan. Bagi warga, ini bukan lagi soal angka kerusakan, melainkan soal kecepatan pemerintah dalam merespons krisis di lapangan sebelum jatuh korban lebih banyak.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.