Opini [DESA MERDEKA] – Di balik megahnya perayaan Idul Adha 2026, ada denyut ekonomi yang berdetak kencang di kandang-kandang peternak lokal. Tahun ini, 1.098 ekor sapi jumbo yang dibeli melalui program bantuan kemasyarakatan Presiden Prabowo Subianto, bukan sekadar hewan kurban. Bagi para peternak di pelosok desa, ini adalah bentuk apresiasi atas konsistensi mereka dalam memelihara kualitas ternak.
Dengarlah kisah Mujianto, peternak asal Samarinda yang sukses mengorbitkan “Bejo”, sapi Brahman Cross seberat 1,07 ton. Bagi Mujianto, Bejo adalah bukti bahwa dengan konsistensi perawatan dan kenyamanan, sapi desa mampu bersaing di tingkat nasional. “Yang penting itu konsisten dalam perawatan, kebersihan, dan kesehatan. Kita beri kenyamanan, sering dielus agar sapi tidak stres,” ujar Mujianto.
Bukan hanya Bejo, ada “Joni” di Blora yang sempat viral karena tenaganya yang luar biasa saat diturunkan dari truk, hingga “Si Tole” asal Nganjuk yang mencapai bobot 1,6 ton namun memiliki karakter manja kepada pemiliknya. Fenomena ini menunjukkan bahwa peternak di desa kini semakin canggih dalam menerapkan standar pemeliharaan sapi jumbo.
Program senilai Rp100 miliar ini memang mencatatkan rekor distribusi ke 552 daerah di 38 provinsi. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan dampak nyata bagi ketahanan ekonomi perdesaan. Di Papua, distribusi sapi kurban bahkan menyentuh wilayah 3T melalui jalur udara, memastikan bahwa keberkahan Idul Adha dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat, bahkan lintas agama, seperti yang terjadi di Abe Pantai, Jayapura.
Meski sempat muncul perdebatan mengenai sumber pendanaan, baik dari APBN maupun dana pribadi, satu hal yang pasti: program ini telah menjadi “panggung” bagi peternak lokal. Keberhasilan peternak seperti Jovan dari Nganjuk atau Muhammad Rozi dari Tangerang membuktikan bahwa sektor peternakan nasional memiliki potensi besar.
Pada akhirnya, sapi-sapi jumbo ini adalah duta pembangunan desa. Mereka bukan hanya tentang penyembelihan, melainkan tentang bagaimana investasi di sektor peternakan mampu memutar roda ekonomi desa, menghidupi ratusan kepala keluarga, dan memberikan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan di hari raya. Di setiap bobot tonase sapi tersebut, ada keringat peternak desa yang dihargai dengan layak.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.