Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

RAGAM · 27 Mei 2026 14:06 WIB ·

Siasat Ekonomi Pascatambang Desa Kalimantan Timur Lepas dari Batu Bara


					(ki-ka) Ilham Maulana, IESR; Sarminto, Kelimpok Tani Tegalrejo; Mustari Sihombing, JATAM Kalimantan Timur; I Ketut Bagia, Pegiat Petani Transmigran Hindu Bali; Mugiyem, Kelompok Dasawisma Asoka Desa Mulawarman; Dr. Sri Murlianti, Dosen Pembangunan Sosial, FISIP Universitas Mulawarman; Wahyu Gatot Purboyo, Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Kalimantan Timur; dan Ibnu Gamal Purnawilaga, Analis Kebijakan Ahli Pertama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kalimantan Timur; sebagai pembicara pada Sesi Diskusi Masa Depan Ekonomi Daerah Tambang: Suara Komunitas untuk Transformasi Ekonomi Berkeadilan di Kalimantan Timur., 25 Mei 2026  Perbesar

(ki-ka) Ilham Maulana, IESR; Sarminto, Kelimpok Tani Tegalrejo; Mustari Sihombing, JATAM Kalimantan Timur; I Ketut Bagia, Pegiat Petani Transmigran Hindu Bali; Mugiyem, Kelompok Dasawisma Asoka Desa Mulawarman; Dr. Sri Murlianti, Dosen Pembangunan Sosial, FISIP Universitas Mulawarman; Wahyu Gatot Purboyo, Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Kalimantan Timur; dan Ibnu Gamal Purnawilaga, Analis Kebijakan Ahli Pertama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kalimantan Timur; sebagai pembicara pada Sesi Diskusi Masa Depan Ekonomi Daerah Tambang: Suara Komunitas untuk Transformasi Ekonomi Berkeadilan di Kalimantan Timur., 25 Mei 2026

Samarinda, Kalimantan Timur [DESA MERDEKA] Ketika lantai ekonomi Kalimantan Timur masih ditopang oleh gemerlap komoditas batu bara yang menyumbang lebih dari 25 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada 2025, alarm tanda bahaya justru mulai berbunyi dari garis pelataran desa-desa lingkar tambang. Sadar bahwa ketergantungan pada sektor ekstraktif menyimpan risiko kerentanan pasar global, komunitas lokal di tingkat desa kini mengambil alih kemudi inovasi untuk merajut kemandirian. Melalui pemanfaatan energi terbarukan berbasis komunitas dan pemulihan lahan esktrem, warga pedesaan membuktikan bahwa pondasi ekonomi pascatambang desa Kalimantan Timur yang tangguh harus dibangun secara mandiri dari akar rumput, bukan sekadar menunggu uluran korporasi.

Ironi di wilayah lingkar tambang digambarkan secara gamblang oleh Sarminto, perwakilan Kelompok Tani Tegal Rejo. Aktivitas pengerukan batubara menyisakan kerusakan lingkungan berupa hilangnya lapisan tanah subur (top soil) serta tingkat keasaman (pH) tanah yang sangat tinggi. Kondisi ini membuat tanaman pangan sulit tumbuh dan mengancam mata pencaharian utama warga.

Menolak menyerah pada keadaan, para petani lokal menolak ketergantungan pada pupuk kimia mahal dengan memaksimalkan Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO). Lewat konsep sirkulasi ekonomi tertutup, kotoran padat dan cair dari ternak sapi diolah menjadi stimulan penyubur tanah merah, sementara limbah jagung serta padi dikembalikan menjadi pakan silase ternak.

Langkah adaptasi yang tidak kalah revolusioner ditunjukkan oleh Desa Muara Enggelam. Desa ini berhasil membebaskan diri dari ketergantungan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) melalui pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal yang dikomandoi langsung oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sejak tahun 2015.

Kepala Desa Muara Enggelam, Madi, menekankan bahwa transisi energi bersih di tingkat pedesaan tidak hanya berbicara soal ketersediaan teknologi konversi matahari, melainkan tentang keteguhan kepemimpinan lokal, kedisiplinan kolektif warga dalam mematuhi kuota kapasitas listrik, serta manajemen perawatan fasilitas yang terencana.

Tantangan replikasi ekonomi hijau ini diakui oleh Fadhil Ahmad Qamar, Manajer Proyek Clean, Affordable, and Secure Energy (CASE) untuk Asia Tenggara dari Institute for Essential Services Reform (IESR). Menurutnya, momentum transformasi ekonomi daerah tambang harus dimulai sejak dini melalui penguatan sektor alternatif seperti pertanian berkelanjutan, UMKM, dan energi terbarukan.

Namun, potensi besar ini menuntut konsistensi pendampingan lapangan, kemudahan akses pembiayaan, serta pengalihan program pemberdayaan masyarakat (PPM) perusahaan tambang dari yang semula bersifat karitatif jangka pendek menjadi program kemandirian ekonomi jangka panjang bagi masa depan warga.

Kesinambungan roda pangan pedesaan ke depan kini bertumpu pada pundak generasi muda, seperti yang disuarakan oleh Firmansyah dari Kelompok Tani Petani Milenial Karya Muda Desa Sungai Payang. Guna menjaga daya tarik sektor agraris di tengah kepungan industri ekstraktif, intervensi teknologi mutakhir berupa modernisasi sistem irigasi dan penerapan pompa air elektrik menjadi harga mati yang harus didukung oleh pemerintah daerah melalui Dinas ESDM maupun Bappeda Kalimantan Timur. Lewat sinergi teknologi hijau dan kedaulatan pangan, desa-desa di Kalimantan Timur sedang menulis ulang takdir mereka sendiri: bertahan dan tetap berdaya secara berkeadilan saat kejayaan batu bara kelak habis tak bersisa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Perjuangan Energi dan Janji Listrik Nagari Sungai Lolo

27 Mei 2026 - 10:24 WIB

Idul Adha Dongkrak Perekonomian Desa Kabupaten Blitar

26 Mei 2026 - 21:14 WIB

Dana Rp100,1 Triliun Pacu Pemulihan Pascabencana Desa Sumbar

26 Mei 2026 - 15:42 WIB

Strategi BUMDes dan Pemda Jaga Pangan Lokal dari Impor

24 Mei 2026 - 16:47 WIB

Indonesia di Persimpangan: Restorasi Kepercayaan Ekonomi Menembus Batas Desa

23 Mei 2026 - 14:58 WIB

Masyarakat Adat Tolak Skema Hutan Desa Sorong Selatan

22 Mei 2026 - 15:00 WIB

Trending di RAGAM