Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 18 Mei 2026 21:06 WIB ·

Desa Tak Pakai Dolar, Tapi Impor Membebani?


					Desa Tak Pakai Dolar, Tapi Impor Membebani? Perbesar

Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa‑desa nggak pakai dolar.

Opini [DESA MERDEKA] Kalimat Presiden Prabowo itu sontak viral. Disampaikan di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026), cuplikan pidato ini seolah ingin menenangkan warga desa di tengah pelemahan rupiah yang menyentuh Rp17.600 per dolar AS.

Namun, ketenangan itu buyar. Para ekonom, akademisi, hingga partai oposisi justru naik pitam. Mereka menilai pernyataan tersebut tidak cuma gegabah, tapi juga keliru secara logika ekonomi.

Lantas, benarkah desa benar-benar kebal dari gejolak dolar? Atau justru sebaliknya, desa menjadi korban sunyi dari imported inflation? Artikel ini membedah tuntas sanggahan dan pembelaan – dengan kacamata yang jarang dipakai: membaca desa sebagai bagian tak terpisahkan dari rantai pasok global.

Tiga fakta utama yang perlu Anda tahu:
1. Pernyataan Prabowo dalam peresmian Koperasi Merah Putih di Nganjuk: warga desa tidak perlu khawatir soal nilai tukar dolar karena transaksi mereka tidak menggunakan mata uang asing.
2. Setidaknya 7 pihak menyanggah, mulai dari ekonom UGM, Celios, FITRA, hingga PDIP. Mereka menegaskan bahwa harga pupuk, kedelai, gandum, BBM, dan LPG yang diimpor akan naik seiring pelemahan rupiah – dan semua itu langsung membebani desa.
3. Pembelaan datang dari Menteri Keuangan, Kepala Staf Kepresidenan, Ketua Komisi XI DPR, dan Partai Gerindra. Mereka menekankan bahwa pernyataan itu bersifat psikologis: menghibur dan menenangkan agar masyarakat tidak panik.

Sudut Pandang Out of the Box

“Desa tidak pakai dolar, tapi desa makan harga yang ditentukan oleh dolar.”

Kita terbiasa berpikir linear: jika tidak memegang dolar, maka tidak terdampak. Itu keliru. Desa memang tidak bertransaksi dengan greenback, tetapi segala sesuatu yang dikonsumsi desa – dari bensin untuk sepeda motor hingga pakan ternak – harganya dipengaruhi oleh kurs.

Coba bayangkan:
– Pupuk urea impor dibayar dengan dolar. Ketika rupiah lemah, pupuk mahal. Petani padi di desa akhirnya mengurangi dosis pupuk. Hasil panen turun.
– Kedelai impor 80% berasal dari luar. Tempe dan tahu – makanan pokok warga desa – naik harga. Ibu-ibu di pasar desa meradang.
– Gandum 100% impor. Mi instan dan roti – yang sudah menjadi bagian konsumsi desa – ikut melambung.

Jadi, meskipun desa tidak melihat dolar secara fisik, desa tetap membayar ongkos pelemahan rupiah lewat kantong masing-masing. Itulah ironi struktural yang luput dari retorika “nggak usah khawatir”.

Siapa Saja yang Menyanggah? (Ringkasan Lugas)

Pihak Institusi Inti Sanggahan
Fahmy Radhi UGM Pernyataan salah dan gegabah. Perajin tahu-tempe di desa terkena dampak kedelai impor.
Bhima Yudhistira Celios Kurang paham dasar ekonomi. Barang seperti ponsel, pupuk, kendaraan desa semuanya terpengaruh kurs.
Tulus Abadi Forum Konsumen Berdaya Menggelikan dan menyesatkan. 80% LPG dan 60% BBM impor – semua dipakai warga desa.
Komarudin Watubun PDIP Tidak sepenuhnya tepat. Harga BBM, pupuk, gandum tetap berimbas ke desa.
SEI Yogyakarta Kontraproduktif dengan upaya BI menstabilkan rupiah.

Siapa Saja yang Membela? (Ringkasan Lugas)

Pihak Institusi Inti Pembelaan
Purbaya Yudhi Menkeu Presiden paham ekonomi. Konteksnya: aktivitas desa sehari-hari tak pakai dolar. Ucapan itu bentuk hiburan agar tak panik.
Dudung Abdurachman Kepala Staf Kepresidenan Maksud Presiden: desa punya sumber daya lokal (jagung, ikan, ayam), tak perlu tergantung dolar.
Mukhamad Misbakhun Ketua Komisi XI DPR Jangan baca harfiah. Pesan tersirat: tenangkan psikologi publik.
Bahtra Banong Gerindra Pernyataan dipotong. Pesan utuh: fundamental ekonomi kuat, jangan panik.

Mengapa Ini Penting untuk Media Desa?
Media desa punya tanggung jawab untuk tidak hanya menyiarkan ucapan pejabat, tetapi juga membedah dampaknya secara jujur. Warga desa bukan anak kecil yang perlu dihibur dengan kalimat manis. Mereka adalah pelaku ekonomi yang setiap hari menghadapi kenaikan harga pupuk, pakan, dan bahan pokok.

Dengan menyajikan fakta bahwa “dolar tetap membebani desa meski desa tak pegang dolar”, media desa membantu warganya mengambil keputusan: menabung, beralih ke pupuk organik, atau mendorong koperasi desa untuk memotong rantai impor.

Kesimpulan Tanpa Pengulangan
Prabowo benar secara literal: warga desa tidak membayar dengan dolar.
Tapi para ahli benar secara struktural: pelemahan rupiah tetap merambat ke harga semua barang yang mengandung komponen impor – dan desa sangat tergantung pada impor.

Pembelaan dari pemerintah patut dihargai sebagai upaya menjaga stabilitas psikologis. Namun, meremehkan dampak dengan kalimat “nggak usah khawatir” justru bisa membuat desa lengah. Solusinya bukan menutup mata, melainkan memperkuat kemandirian desa: pupuk organik lokal, pangan non-impor, dan energi terbarukan. Selama itu belum terwujud, fluktuasi dolar tetaplah urusan penting bagi warga desa.

Sebagai penutup, perlu disampaikan bahwa desa memang tak pakai dolar. Tapi desa merasakan dolar melalui harga. Maka, jangan pernah meremehkan “dolar” di depan mata para petani dan perajin tahu.

Feature ini bebas untuk disebarluaskan oleh media desa dengan menyertakan sumber. Disusun berdasarkan data dan pernyataan publik 16–18 Mei 2026.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 10 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sengketa Plasma Tana Tidung: Masyarakat Desa Terjepit Bagi Hasil

10 Mei 2026 - 23:56 WIB

Senjakala Etalase Ekonomi Jombang: Dibalik Gemerlap Digital dan Ancaman Kemiskinan

10 Mei 2026 - 15:31 WIB

Tambang Menjelutung: Produksi Batu Bara Lancar Tapi Keadilan Macet

8 Mei 2026 - 23:49 WIB

Akhiri Dominasi Jakarta Saat Desa Mulai Rebut Kendali Narasi

4 Mei 2026 - 12:13 WIB

Mahasiswa KKN: Katalisator atau Sekadar Tamu Dokumentasi Desa?

3 Mei 2026 - 22:01 WIB

Jual Beli Rekomendasi Kerja: Borok Pelayanan Desa Menjelutujung

3 Mei 2026 - 20:59 WIB

Trending di OPINI