Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR DESA · 25 Apr 2026 17:21 WIB ·

Jangan Salahkan Lahan: Masyarakatnya yang Tidur, Bukan Tanahnya!


					Bustami Tanjung Ubah Lahan Tidur Jadi Lumbung Jagung Warga, Sabtu (25/04/2026) di Korong Tanjung Mutuih, Nagari Koto Dalam Barat, Kecamatan Padang Sago. (Foto: Indra Dewi). Perbesar

Bustami Tanjung Ubah Lahan Tidur Jadi Lumbung Jagung Warga, Sabtu (25/04/2026) di Korong Tanjung Mutuih, Nagari Koto Dalam Barat, Kecamatan Padang Sago. (Foto: Indra Dewi).

Padang Sago, Padang Pariaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Swasembada pangan bukan sekadar angka di atas meja birokrat, melainkan kerja keras mencangkul semak belukar. Di Korong Tanjung Mutuih, Nagari Koto Dalam Barat, seorang tokoh masyarakat bernama Bustami Tanjung melontarkan kritik pedas sekaligus aksi nyata: mengolah empat hektar lahan tidur menjadi kebun jagung produktif mulai Sabtu (25/04/2026).

Kalimatnya menampar realitas pembangunan desa saat ini. “Sebenarnya tak ada lahan yang tidur, yang ada itu masyarakatnya yang tertidur,” tegas pria yang akrab disapa Datuak Bustami ini. Baginya, optimisme terhadap potensi lokal harus dibarengi dengan perubahan pola pikir warga agar berhenti membiarkan aset desa terbengkalai.

Kegiatan Menanam Jagung pada Lahan Tidur secara Gotong Royong oleh Warga Masyarakat Korong Tanjung Mutuih, Nagari Koto Dalam Barat, (25/04/2026). (Foto: Indra Dewi)

Strategi Panen Tiap Bulan
Gerakan ini tidak dilakukan secara asal tanam. Empat hektar lahan yang sebelumnya semak belukar kini dibagi menjadi empat titik lokasi yang dikelola secara bertahap. Strategi pola tanam ini dirancang secara teknis agar siklus produksi terjaga. Tujuannya ambisius namun logis: warga harus bisa memanen jagung secara berkelanjutan setiap bulan, bukan setahun sekali.

Filosofi “Tiada hari tanpa kerja” menjadi motor penggerak warga. Dengan strategi ini, siklus uang di desa diharapkan tetap berputar dan warga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan pangan dari luar daerah.

Sinergi Tokoh: Perantau Pulang Membangun Nagari
Langkah konkret ini menjadi magnet bagi para elit lokal. Terbukti, Wali Korong Yahya Efendi, mantan anggota DPRD Alfa Edison, hingga Ali Muzar—seorang tokoh yang baru pulang dari perantauan—turut terjun ke lapangan. Kehadiran para perantau ini menjadi modal sosial penting dalam pembangunan desa: membawa semangat baru dan dukungan strategis untuk warga.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Datuak Bustami berharap inisiatif swadaya dari masyarakat bawah ini mendapatkan respons nyata berupa bantuan teknis dan sarana produksi dari pemerintah daerah maupun pusat. Tanpa dukungan sarana yang memadai, semangat warga yang baru saja “terbangun” ini dikhawatirkan akan layu sebelum panen raya tiba.

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 195 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ritual Pendinginan: Harmoni Adat dan Modernitas Pesisir Malaka

29 September 2026 - 19:22 WIB

Pilkades Bantarjaya: Tumbangnya Petahana dan Ujian Pj Mursidi

29 September 2026 - 12:55 WIB

Bansos Ribuan Warga Wonogiri Disetop Gegara Judol Pinjol

19 September 2026 - 06:11 WIB

Sengkarut Dana Desa Malaka: Pelatihan 10 Menit Disorot

17 September 2026 - 10:01 WIB

Bantaran Citarum Memanas: Sengkarut Rivalitas 4 Calon Pemimpin Bantarjaya

10 September 2026 - 16:25 WIB

Pilkades Sumber Urip: Petahana Jajang Sujai Amankan Nomor 1

9 September 2026 - 14:45 WIB

Trending di KABAR DESA