Blitar, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Selama puluhan tahun, buku sejarah sekolah mencekoki kita dengan narasi tunggal: Ikan Mujair adalah “penemuan” heroik Mbah Moedjair di muara sungai Blitar pada 1936. Namun, data ilmiah justru mengungkap fakta yang berlawanan. Spesies yang kita anggap sebagai identitas lokal ini ternyata adalah “imigran” jauh dari benua Afrika.
Bagaimana bisa ikan dari Afrika Timur berakhir di kolam seorang kakek di Jawa Timur dan menyandang namanya? Jawabannya terletak pada perbedaan antara penemuan spesies secara biologi dan keberhasilan domestikasi secara mandiri.
Identitas Asli: Oreochromis mossambicus
Secara ilmiah, ikan mujair bernama Oreochromis mossambicus. Nama belakangnya secara gamblang merujuk pada Mozambik, tempat asal spesies ini di Afrika Timur. Ahli zoologi Jerman, Wilhelm Peters, sudah mencatat dan mendeskripsikan ikan ini sejak tahun 1852—sekitar 84 tahun sebelum Mbah Moedjair melihatnya di Pantai Serang.
Lantas, bagaimana ikan Afrika bisa sampai ke muara sungai di Blitar? Catatan organisasi pangan dunia (FAO) menunjukkan bahwa ikan ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1930-an melalui jalur perdagangan ikan hias via Singapura. Diduga kuat, ikan-ikan ini sengaja dilepas atau lolos dari kolam kolektor Belanda (Mr. X) sebelum akhirnya “ditemukan” oleh Mbah Moedjair di alam liar.
Mbah Moedjair Bukan Penemu, Tapi Inovator Pangan
Meluruskan fakta ini bukan berarti mendiskreditkan jasa Iwan Dalauk (nama asli Mbah Moedjair). Justru, ia adalah seorang domestikator ulung. Perlu diketahui bahwa mengubah habitat ikan air payau di muara menjadi ikan kolam air tawar bukan perkara mudah.
Mbah Moedjair melakukan percobaan hingga 11 kali gagal sebelum akhirnya berhasil menjinakkan ikan ini. Kehebatannya bukan pada menemukan spesies baru, melainkan pada ketekunannya membudidayakan “ikan liar” hingga menjadi sumber protein murah bagi jutaan rakyat Indonesia.
| Sisi Legenda (Publik) | Sisi Fakta (Ilmiah) |
| Ditemukan di muara Blitar tahun 1936. | Spesies asli Mozambik, Afrika Timur. |
| Spesies asli Indonesia. | Ikan introduksi melalui jalur ikan hias. |
| Pahlawan karena “menemukan”. | Pahlawan karena domestikasi & distribusi. |
Antara Romantika Sejarah dan Realitas Sains
Perbedaan cerita ini lahir karena keterbatasan akses literatur internasional pada era kolonial. Bagi warga Blitar tahun 1930-an, munculnya ikan asing di muara adalah fenomena baru. Pemerintah kolonial pun meresmikan nama “Mujair” pada 1939 untuk menghargai kontribusi sosialnya, bukan pengakuan biologis sebagai penemu spesies baru.
Kini, memahami sejarah ini penting agar kita bisa menempatkan Mbah Moedjair di posisi yang lebih tepat: bukan sebagai penjelajah biologi, melainkan sebagai Bapak Budidaya Ikan Rakyat. Ia sejajar dengan para pelopor akuakultur dunia yang mengubah pola hidup manusia dari pemburu menjadi peternak.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.