Blitar, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Teka-teki asal-usul ikan mujair di Indonesia kini memasuki babak baru yang mengejutkan. Sebuah analisis mendalam terhadap infrastruktur kolonial mengungkap bahwa kemunculan ikan Afrika (Oreochromis mossambicus) di muara Sungai Serang pada 1930-an bukanlah kebetulan alam. Jejak digital dan arsip sejarah kini mengarah pada satu titik koordinat di pusat Kota Blitar: Bon Rojo.
Bon Rojo, yang kini menjadi taman kota, dulunya adalah laboratorium tanaman unggulan milik pemerintah Hindia Belanda. Fasilitas riset yang dijuluki “Miniatur Kebun Raya Bogor” ini diduga kuat menjadi pusat aktivitas “Mr. X”—sosok misterius yang menjadi donor pengetahuan bagi Mbah Moedjair.
Administratur Kebun: Kandidat Kuat Sang Peneliti
Hasil eliminasi profil menunjukkan bahwa sosok Mr. X kemungkinan besar adalah seorang Administratur Perkebunan (Tuan Kebun). Berbeda dengan warga biasa, para administratur ini memiliki kombinasi mumpuni: akses ekonomi untuk mengimpor ikan hias eksotis, latar belakang pendidikan ilmu hayat dari akademi di Belanda, serta keterikatan kuat dengan laboratorium Bon Rojo untuk riset agrikultur.
“Mereka adalah ilmuwan terapan. Memikirkan bagaimana spesies asing bisa beradaptasi dengan lingkungan lokal adalah makanan sehari-hari mereka,” tulis laporan analisis motif tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa ikan tersebut tidak dibuang di selokan, melainkan dilepaskan secara strategis di muara sungai yang sesuai dengan ekologi aslinya.
Laboratorium Bon Rojo dan “Eksperimen yang Tertinggal”
Data dari National Geographic Indonesia memperkuat posisi Bon Rojo sebagai pusat riset yang memiliki fasilitas kolam dan bangunan khas Belanda (koepel). Di tempat inilah, para administratur Belanda kerap berkumpul untuk melakukan persemaian tanaman hias dan kemungkinan besar, memelihara koleksi ikan eksotis.
Hipotesis terbaru menyebutkan bahwa Mr. X kemungkinan besar harus kembali ke Eropa sekitar tahun 1934-1935. Karena terikat etika naturalis dan rasa penasaran ilmiah, ia memilih memindahkan koleksi pribadinya ke alam liar melalui tangan Iwan Dalauk (Mbah Moedjair), seorang nelayan lokal yang ia kenal tekun.
Pertemuan Dua Dunia: Sains Barat dan Ketekunan Jawa
Narasi ini mengubah sejarah ikan mujair dari sekadar “penemuan ajaib” menjadi sebuah transfer pengetahuan yang sistematis. Penemuan Mbah Moedjair pada 1936 di muara Sungai Serang kemungkinan besar adalah hasil dari populasi liar yang sudah mapan, berkat “percobaan adaptasi” yang dirancang oleh Mr. X beberapa tahun sebelumnya.
Kini, fokus pencarian sejarah beralih ke arsip karesidenan Blitar dan laporan tahunan perkebunan (onderneming) tahun 1930-an. Nama-nama administratur yang sering mengunjungi Bon Rojo menjadi kunci utama untuk mengungkap jati diri pria Belanda yang secara tidak langsung menyelamatkan ketahanan pangan Indonesia melalui ikan “asing” yang kini menyandang nama lokal tersebut.



















[…] lain. Sangat mungkin Mbah Moedjair mendapatkan bantuan atau “drop-off” benih ikan dari lokasi yang lebih dekat, alih-alih harus bertaruh nyawa bolak-balik ke muara selatan setiap tiga minggu […]