Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

RAGAM · 26 Feb 2026 21:50 WIB ·

Mendes Yandri Minta Setop Izin Minimarket Baru di Desa


					Mendes Yandri Minta Setop Izin Minimarket Baru di Desa Perbesar

Serang, Banten [DESA MERDEKA] Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, mengambil langkah berani dengan mengusulkan penghentian total izin pendirian minimarket jejaring modern baru di wilayah pedesaan. Kebijakan “rem darurat” ini bertujuan menyelamatkan warung kelontong warga dan menyukseskan program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih agar tidak tergilas ekspansi ritel raksasa.

Langkah proteksionis ini merupakan respons langsung atas keluhan para pedagang kecil di pelosok desa yang kian sesak oleh kehadiran jaringan ritel modern. Yandri menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah melakukan afirmasi terhadap ekonomi arus bawah sesuai visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Untuk minimarket yang sudah ada, silakan jalan. Saya tidak pernah mengusulkan untuk ditutup. Yang saya minta dihentikan adalah izin barunya. Jangan sampai ekspansi ini masuk ke desa dan mematikan usaha rakyat,” tegas Yandri di Desa Ranjeng, Serang, Selasa (24/2/2026).

Kopdes Merah Putih: Senjata Baru Ekonomi Desa
Pemerintah menawarkan Kopdes Merah Putih sebagai alternatif yang lebih menguntungkan bagi kas desa. Berbeda dengan ritel swasta, koperasi ini dirancang untuk menyumbang minimal 20 persen keuntungannya sebagai Pendapatan Asli Desa (PAD) serta Sisa Hasil Usaha (SHU) bagi warga.

Kopdes Merah Putih dipandang sebagai alat akurat untuk pemerataan ekonomi. “Desa berada di garis depan pembangunan. Kita butuh alat jitu untuk memastikan uang berputar di desa, dan koperasi inilah jawabannya,” tambah mantan Wakil Ketua MPR RI tersebut.

Mencegah Nasib Seperti Jepang dan Korea
Yandri juga mengingatkan bahaya urbanisasi besar-besaran jika ekonomi desa mati. Belajar dari krisis demografi di Jepang dan Korea Selatan, ia menekankan pentingnya menciptakan peluang bisnis di desa agar masyarakat tidak terpaksa pindah ke kota besar. Ketimpangan demografi dinilai sebagai bom waktu yang harus dicegah melalui penguatan daya beli di tingkat lokal.

Agenda yang dihadiri sejumlah menteri kabinet Merah Putih ini mempertegas komitmen kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Sosial, Kementerian Koperasi, dan BP Taskin dalam membangun Indonesia dari pinggiran. Keberpihakan kepala desa dan camat menjadi kunci utama dalam membatasi perizinan ritel modern demi memberi ruang nafas bagi bisnis milik masyarakat sendiri.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

PKN Resmi Bentuk SATGAS WASMAS MBG Nasional, Sampaikan Pemberitahuan kepada Kepala Badan Gizi Nasional dan Presiden RI

7 Juni 2026 - 07:25 WIB

M. Sukri Siap Bawa Perubahan di Nagari Aie Tajun

6 Juni 2026 - 15:27 WIB

Sinergi Logistik Percepat Pembangunan Infrastruktur Halmahera Selatan

5 Juni 2026 - 16:21 WIB

Strategi Koperasi Desa Merah Putih Sawahlunto Menuju Ekonomi Mandiri

2 Juni 2026 - 17:42 WIB

Nilai Pancasila Jadi Fondasi Pembangunan Desa Sumbar

2 Juni 2026 - 14:35 WIB

Dugaan Intimidasi Ketua APDESI Jabar di Pebayuran Bekasi

2 Juni 2026 - 09:30 WIB

Trending di RAGAM