Oleh: Muhammad Hudzaly Hatala, Dosen Program Studi Teknik Industri, Institut Teknologi Kalimantan (ITK)
Di era digital seperti sekarang, hubungan antara dosen dan mahasiswa mengalami perubahan besar. Jika dulu komunikasi akademik identik dengan ruang kelas, papan tulis, dan jam konsultasi di kantor dosen, kini interaksi itu berpindah ke layar ponsel. Grup WhatsApp kelas, pesan pribadi, hingga platform pembelajaran daring menjadi ruang baru bertemunya dosen dan mahasiswa.
Perubahan ini membawa banyak kemudahan. Informasi bisa disampaikan dengan cepat, diskusi dapat dilakukan kapan saja, dan jarak fisik bukan lagi penghalang. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul satu isu yang semakin sering dirasakan di lingkungan kampus, termasuk di Program Studi Teknik Industri ITK: batasan antara dosen dan mahasiswa yang semakin kabur, dan dampaknya terhadap kualitas komunikasi.
Ketika Niat Baik Berujung Salah Paham.
Sebagai dosen, saya beberapa kali menerima pesan dari mahasiswa larut malam dengan gaya bahasa yang sangat santai, seolah berbicara dengan teman sebaya. Di sisi lain, ada pula mahasiswa yang justru terlalu sungkan bertanya karena khawatir dianggap tidak sopan atau melanggar etika. Kedua situasi ini sama-sama menunjukkan satu hal tidak semua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang batasan komunikasi akademik.
Masalahnya bukan pada penggunaan media digital itu sendiri, melainkan pada bagaimana media tersebut digunakan, tanpa batasan yang jelas, komunikasi yang seharusnya mendukung proses belajar-mengajar justru bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, salah tafsir, bahkan jarak emosional.
Dampak Nyata dalam Dunia Akademik.
Isu batasan antara dosen dan mahasiswa sejatinya bukan persoalan jarak emosional, melainkan kejelasan peran. Dalam kajiannya tentang relasi dosen dan mahasiswa, profesor psikologi dan konseling dari Universitas Carlow di Pittsburgh,.Harriet L. Schwartz dalam artikelnya yang berjudul ” Reflections On Helping Students Learn” pada tahun 2020 menegaskan bahwa “dosen berada dalam posisi kuasa akademik yang secara alami menuntut kehati-hatian dalam membangun hubungan dengan mahasiswa”. Dalam kajiannya beberapa dampak yang kerap muncul antara lain:
- Miskomunikasi terkait tugas dan penilaian, pesan yang dikirim tanpa konteks, waktu dan etika yang jelas sering menimbulkan salah tafsir, baik terkait tugas, penilaian, maupun ekspektasi akademik.
- Menurunnya kualitas hubungan professional, relasi yang terlalu dekat atau terlalu kaku sama-sama berpotensi mengikis rasa saling menghormati antara dosen dan mahasiswa.
- Tekanan psikologis, baik dosen maupun mahsiswa mendapatkan tekanan karena mahasiswa merasa harus selalu responsif dan “siap siaga”, sementara dosen berisiko kehilangan batas waktu pribadi dan mengalami kelelahan emosional.
- Potensi ketidakadilan, hal ini terjadi jika relasi personal dianggap memengaruhi objektivitas. kedekatan personal yang tidak terkelola dengan baik dapat memunculkan persepsi perlakuan istimewa, meskipun tidak dimaksudkan demikian.
Dalam konteks pendidikan tinggi, hal-hal tersebut tentu perlu dihindari. Kampus seharusnya menjadi ruang yang aman, adil, dan profesional bagi seluruh civitas akademika.
Pandangan Koordinator Program Studi.
BALIKPAPAN, 7 Februari 2026 – Koordinator Program Studi Teknik Industri Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Ir. Muqimuddin, S.T., M.T., menegaskan bahwa batasan dalam relasi dosen dan mahasiswa bertujuan untuk menjaga kualitas interaksi akademik.“Hubungan dosen dan mahasiswa idealnya tetap humanis, terbuka, dan saling menghargai. Namun profesionalisme harus menjadi fondasi utama. Ketika batas ini jelas, komunikasi justru menjadi lebih sehat dan efektif,” jelasnya. Menurut Muqimuddin, etika komunikasi perlu dipahami bersama, terutama oleh mahasiswa baru yang sedang beradaptasi dengan budaya akademik di perguruan tinggi. “Oleh karena itu, kami mulai mengintegrasikan materi etika komunikasi digital dalam kegiatan pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru“. Pandangan tersebut sejalan dengan kajian Harriet L. Schwartz yang menekankan pentingnya kejelasan peran dalam relasi dosen dan mahasiswa. Di tingkat lokal, Koordinator Program Studi Teknik Industri ITK juga menilai bahwa batasan profesional justru membantu membangun komunikasi akademik yang lebih efektif.
Menemukan Titik Seimbang.
Di Program Studi Teknik Industri ITK sendiri, pendekatan pembelajaran menekankan kolaborasi, diskusi, dan pemecahan masalah. Namun kolaborasi tidak berarti tanpa batas ada peran dan tanggung jawab yang perlu dijaga agar proses belajar berjalan optimal.
Berikut adalah beberapa langkah sederhana yang dapat membantu membangun komunikasi yang lebih sehat antara dosen dan mahasiswa antara lain yang dikutip dari berbagai jurnal akademik:
- Menetapkan aturan komunikasi sejak awal perkuliahan, termasuk jam dan media yang digunakan.
- Menggunakan bahasa yang sopan dan jelas, meskipun melalui media informal.
- Memisahkan urusan akademik dan personal, demi menjaga profesionalisme.
- Mendorong keberanian bertanya secara etis, agar mahasiswa tidak merasa takut atau tertekan.
Langkah-langkah ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat berpengaruh dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan produktif.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, menjaga batasan antara dosen dan mahasiswa menjadi tantangan tersendiri. Namun, batasan tersebut bukanlah penghalang kedekatan, melainkan jembatan menuju komunikasi yang lebih sehat.
Dengan saling memahami peran, etika, dan tanggung jawab masing-masing, dosen dan mahasiswa dapat membangun relasi akademik yang profesional sekaligus manusiawi. Pada akhirnya, tujuan kita sama: menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung pertumbuhan ilmu pengetahuan, karakter, dan kualitas sumber daya manusia, khususnya di Kalimantan dan Indonesia secara umum.
Muhammad Hudzaly Hatala lahir di Ambon pada 3 Juli 1995. Saat ini berdomisili di Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Dalam kesehariannya, ia memiliki ketertarikan pada berbagai aktivitas positif seperti olahraga, musik, dan membaca, yang turut membentuk karakter disiplin, kreatif, dan berwawasan luas.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.