Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

OPINI · 9 Feb 2026 21:34 WIB ·

Tembakau Indonesia, Warisan Besar yang Kita Pandang Kecil


					Sumber : Google Perbesar

Sumber : Google

Opini [DESA MERDEKA] Patriot Rieldo Perdana

Tembakau bukan sekadar tanaman. Dalam sejarah Indonesia, ia adalah penanda zaman, penggerak ekonomi, dan saksi relasi panjang Nusantara dengan dunia. Ironisnya, tembakau Indonesia—yang sejak ratusan tahun lalu diakui kualitasnya di pasar global—justru sering diragukan nilainya di negeri sendiri.

Sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, tembakau dari Hindia Belanda menjadi komoditas penting dalam perdagangan Eropa. Daunnya diperlakukan sebagai bahan baku unggulan, diperdagangkan di pusat-pusat niaga, dan digunakan untuk industri cerutu kelas atas. Salah satu yang paling masyhur adalah tembakau Deli dari Sumatra Timur. Kualitasnya yang halus, cerah, dan lentur menjadikannya pembungkus cerutu favorit di masanya.

Permintaan global terhadap tembakau Deli mendorong lahirnya perkebunan besar, arus modal, serta pembangunan infrastruktur. Dari denyut ekonomi tembakau itulah Kota Medan bertumbuh—bukan sekadar sebagai kota administratif, melainkan sebagai bukti bahwa tembakau pernah menjadi fondasi peradaban dan kemajuan wilayah.

Jejak kejayaan itu berlanjut di Jawa Timur melalui Besuki Na-Oogst. Tembakau yang ditanam pada musim kemarau dan dipanen menjelang musim hujan ini dikenal memiliki karakter daun yang halus, elastis, dan kaya aroma. Hingga kini, Besuki Na-Oogst masih digunakan sebagai pembungkus dan pelapis cerutu premium dunia. Banyak produk cerutu internasional sejatinya “berkulit Indonesia”, meski asal-usul tembakaunya jarang disebutkan.

Namun di dalam negeri, tembakau Indonesia kerap berada pada posisi yang paradoksal. Bukan karena kualitasnya menurun, melainkan karena apresiasi yang tidak tumbuh seiring pengakuan global. Preferensi terhadap produk luar sering kali lebih menonjol, sementara tembakau lokal—yang telah lama diterima pasar internasional—belum sepenuhnya dipercaya dan dihargai di tanah asalnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sejarah panjang perdagangan global turut membentuk cara pandang kita hari ini. Standar mutu dan selera tidak selalu lahir dari penilaian objektif, tetapi juga dari narasi yang terbentuk lama. Dalam konteks itu, tembakau Indonesia kerap ditempatkan sebagai bahan mentah, bukan sebagai warisan bernilai yang patut dibanggakan dan dikembangkan.

Padahal, tembakau—terutama untuk cerutu—bukan produk konsumsi massal. Ia adalah hasil kerajinan tangan, pengetahuan agrikultur yang presisi, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Di balik setiap daun tembakau, ada petani, cuaca yang dibaca dengan pengalaman, serta rantai nilai bernilai tinggi yang menopang ekonomi lokal.

Tembakau Indonesia semestinya tidak hanya dilihat sebagai komoditas atau objek regulasi, melainkan sebagai warisan budaya dan kekuatan ekonomi. Selama kita masih ragu pada tembakau sendiri dan lebih percaya pada pengakuan dari luar, selama itu pula persoalan utama kita bukan soal kualitas, melainkan soal kepercayaan diri sebagai bangsa.

Menikmati cerutu yang daun tembakaunya ditanam di bumi Nusantara adalah cara sunyi menghormati kekayaan negeri sendiri.

— Sebuah catatan dari seorang Inlander

Penulis adalah Fungsionaris HKTI & Pegiat Desa

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 72 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Warga Menjelutung Layak Dapat Kepastian atas Air yang Mereka Konsumsi

13 Juni 2026 - 10:53 WIB

Mbah Moedjair: Pahlawan Pangan yang “Seharusnya” Mengubah Sejarah Desa

8 Juni 2026 - 14:13 WIB

Jurnalisme Laporan ala Bhabin di Desa: Membunuh Karakter Polisi

8 Juni 2026 - 07:44 WIB

Gotong Royong Digital di Balik Lagu Mas Bahlil Ganteng

1 Juni 2026 - 20:35 WIB

Membongkar Lingkaran Setan Repetisi Berita Bhabinkamtibmas 

30 Mei 2026 - 15:26 WIB

Keadilan Kurban: Mengalirkan Berkah Hingga ke Pelosok Desa

29 Mei 2026 - 21:01 WIB

Trending di OPINI