Opini [DESA MERDEKA] Alvianus Kristian Sumual, M.E, Dosen pada Program Studi Ilmu Aktuaria, Institut Teknologi Kalimantan
Bagian I : Keheningan yang Berubah
Dulu, keheningan di ruang ujian atau saat pengerjaan tugas di kelas adalah tanda bahwa roda-roda gigi di dalam otak mahasiswa sedang berputar keras. Kening yang berkerut, pena yang diketuk-ketukkan ke meja, dan tumpukan buku referensi yang terbuka adalah pemandangan standar dari proses pergulatan intelektual. Namun, dalam dua tahun terakhir, suasana itu berubah drastis.
Sebagai seorang dosen yang berdiri di depan kelas setiap minggu, saya merasakan adanya pergeseran lempeng tektonik dalam cara mahasiswa berpikir dan bekerja. Kini, ketika saya memberikan tugas esai atau pemecahan masalah (studi kasus), “keheningan” itu masih ada, namun nuansanya berbeda. Bukan lagi keheningan kontemplasi, melainkan keheningan kecepatan mengetik di papan tombol gawai.
Penyebabnya sudah menjadi rahasia umum: Generative Artificial Intelligence (Gen-AI). Nama-nama seperti ChatGPT, Gemini, Claude, atau Perplexity telah menjadi “dosen pembimbing kedua” bagi mahasiswa saya. Bahkan, terkadang lebih dipercaya daripada saya sendiri.
Fenomena ini memantik sebuah pertanyaan besar yang menggelisahkan saya—dan mungkin ribuan pendidik lainnya: Apakah teknologi AI ini membuat mahasiswa saya menjadi “Super-Mahasiswa” yang lebih cerdas, atau justru membuat mereka mengalami atrofi kognitif (kemunduran kemampuan berpikir)?
Artikel ini adalah sebuah “teropong isu”—hasil observasi langsung dari parit pendidikan tinggi—tentang bagaimana AI mempengaruhi kecerdasan, nalar kritis, dan integritas akademik mahasiswa kita. Kita tidak sedang membicarakan masa depan; kita sedang membicarakan apa yang terjadi hari ini, detik ini, di dalam kelas-kelas kita.
Isu pertama dan yang paling mencolok dari observasi saya adalah fenomena “Jalan Pintas”. Otak manusia, secara biologis, dirancang untuk menghemat energi (efisiensi kognitif). Jika ada cara yang lebih mudah untuk mencapai tujuan, otak akan secara alami memilih cara tersebut. Dalam konteks akademik, AI menawarkan jalan pintas yang sangat menggoda: jawaban instan tanpa proses berpikir yang menyakitkan.
Saya pernah melakukan eksperimen kecil di kelas. Saya memberikan tugas analisis sederhana tentang dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat lokal. Sebagian mahasiswa mengumpulkan jawaban yang strukturnya sangat rapi, bahasanya baku sempurna, namun terasa “hampa” dan generik. Tidak ada nuansa lokal, tidak ada opini pribadi yang unik, dan datanya terlalu umum. Ketika saya tanya secara lisan di kelas, “Apa maksud argumen di paragraf kedua tugasmu?”, mahasiswa tersebut terdiam. Bingung.
Ini adalah tanda bahaya yang nyata. Mahasiswa menyerahkan proses kognitif mereka kepada mesin. Analogi sederhananya adalah seperti penggunaan GPS. Karena kita terlalu bergantung pada Google Maps, banyak dari kita yang kehilangan kemampuan orientasi spasial dan tidak lagi hafal jalan di kota sendiri. Hal yang sama berpotensi terjadi pada kemampuan menulis dan berlogika mahasiswa.
Jika mahasiswa terus-menerus menggunakan AI untuk menulis makalah, merangkum jurnal, bahkan membuat koding, maka “otot” berpikir mereka tidak terlatih. Kemampuan menyusun argumen, kemampuan menghubungkan titik-titik informasi (sintesis), dan kemampuan narasi bisa mengalami atrofi (penyusutan/pelemah). Mereka mungkin mendapatkan nilai A di atas kertas, tapi secara substansi, kecerdasan dasar mereka tidak berkembang. Mereka menjadi pasif, hanya sebagai “operator” dari sebuah mesin cerdas, bukan pemikir itu sendiri.
Bagian II: Ilusi Kompetensi (The Illusion of Competence)
Dampak psikologis yang lebih dalam dari penggunaan AI adalah munculnya “Ilusi Kompetensi”. Ini adalah kondisi di mana mahasiswa merasa sudah paham atau sudah pintar, padahal sebenarnya mereka hanya memiliki akses terhadap informasi, bukan pemahaman mendalam.
Ketika seorang mahasiswa mengetik pertanyaan di ChatGPT dan mendapatkan jawaban yang panjang lebar dan meyakinkan, ada kepuasan instan dopamin di otak mereka. Mereka merasa masalah selesai. Mereka merasa “Oh, saya tahu jawabannya.” Padahal, mengetahui jawaban dan memahami proses adalah dua hal yang sangat berbeda.
Dalam observasi saya saat sesi bimbingan skripsi, mahasiswa sering kali membawa draf proposal yang sangat bagus secara tertulis. Namun, ketika dibedah metodologinya, mereka gagap. Mereka tidak tahu mengapa metode itu dipilih, karena yang memilihkan adalah AI. Kecerdasan mereka menjadi semu.
Ini berbahaya bagi masa depan profesional mereka. Di dunia kerja nanti, mereka tidak hanya dituntut untuk memberikan jawaban, tetapi juga mempertanggungjawabkan keputusan dan strategi. Jika kecerdasan mereka hanya sebatas “kulit” hasil copy-paste AI, mereka akan kesulitan ketika menghadapi masalah kompleks yang membutuhkan intuisi, konteks budaya, dan pengalaman manusia—hal yang belum bisa direplikasi oleh AI dengan sempurna.
Bagian III: Redefinisi “Cerdas” di Era Algoritma
Namun, sebagai akademisi, kita harus adil dan objektif dalam “meneropong” isu ini. Apakah AI sepenuhnya “memperbodoh” mahasiswa? Jawabannya: Belum tentu. Tergantung bagaimana kita mendefinisikan kata “Cerdas”.Jika cerdas didefinisikan sebagai kemampuan menghafal fakta dan menulis ulang teori (definisi pendidikan abad ke-20), maka ya, AI telah “membunuh” kecerdasan itu. Tapi, jika kita melihat dari sudut pandang Revolusi Industri 4.0, definisi cerdas sedang bergeser.
Saya mengamati sekelompok mahasiswa lain yang menggunakan AI dengan cara berbeda, yang saya sebut sebagai kelompok “Augmented Student”. Mereka tidak meminta AI menuliskan esai mereka dari nol. Sebaliknya, mereka menggunakan AI sebagai “mitra sparring”. Mereka berdebat dengan AI. Mereka meminta AI memberikan kontra-argumen terhadap ide mereka untuk menguji seberapa kuat argumen mereka sendiri. Bagi kelompok mahasiswa ini, AI justru meningkatkan (augment) kecerdasan mereka. Mereka bisa belajar lebih cepat. Jika mereka tidak paham penjelasan saya di kelas tentang teori yang rumit, mereka meminta AI menjelaskannya dengan analogi anak usia 5 tahun, dan tiba-tiba mereka paham konsep dasarnya.
Di sini muncul keterampilan baru yang disebut Prompt Engineering (kemampuan menyusun perintah). Mahasiswa yang cerdas di era ini adalah mereka yang tahu cara bertanya. Mengajukan pertanyaan yang tepat kepada AI membutuhkan logika yang kuat, pemahaman konteks, dan kreativitas. Jadi, bisa dibilang, AI tidak menghilangkan kecerdasan, tapi mengubah bentuk kecerdasan yang dibutuhkan: dari kemampuan mengingat menjadi kemampuan memproses, memverifikasi, dan mensintesis.
Bagian IV: Nalar Kritis dan Paradoks Halusinasi AI
Salah satu fitur unik (sekaligus cacat) dari Generative AI adalah kecenderungannya untuk “berhalusinasi”—mengarang fakta, data, atau referensi yang terdengar meyakinkan tapi sebenarnya fiktif. Ironisnya, cacat teknologi ini justru bisa menjadi alat ampuh untuk mengasah nalar kritis mahasiswa jika dimanfaatkan dengan benar oleh dosen. Melihat fenomena ini, saya mulai mengubah metode pengajaran saya. Alih-alih melarang penggunaan AI, saya menugaskan mahasiswa untuk mencari jawaban dari AI mengenai topik kuliah, lalu tugas utama mereka adalah: “Temukan letak kesalahan jawaban AI ini dan koreksi dengan referensi jurnal asli.” Latihan ini memaksa mahasiswa untuk tidak percaya begitu saja pada informasi yang tersaji di layar. Mereka harus membuka buku referensi asli, mengecek jurnal ilmiah, dan membandingkan data. Proses verifikasi inilah yang melatih Higher Order Thinking Skills (HOTS). Mahasiswa belajar menjadi editor, auditor, dan hakim atas informasi.
Dalam konteks ini, keberadaan AI memaksa mahasiswa untuk lebih skeptis. Skeptisisme adalah fondasi dari sains. Jadi, jika diarahkan dengan benar oleh dosen, interaksi dengan AI yang sering salah ini justru bisa melahirkan mahasiswa yang jauh lebih teliti dan kritis dibandingkan generasi sebelumnya yang cenderung menelan mentah-mentah apa yang tertulis di buku teks.
Bagian V: Matinya Orisinalitas vs Lahirnya Kreativitas Baru
Isu lain yang sering diperdebatkan di ruang rapat dosen adalah tentang orisinalitas. “Tulisan mahasiswa sekarang rasanya sama semua, gaya bahasanya kaku dan robotik,” keluh rekan saya. Benar, jika mahasiswa menggunakan AI secara pasif, gaya tulisan mereka akan seragam dan membosankan. Hilanglah “suara” (voice) unik penulis yang menjadi ciri khas intelektualitas seseorang. Namun, di sisi lain, AI bisa mendobrak kebuntuan kreativitas (writer’s block). Mahasiswa yang tadinya menghabiskan waktu 3 jam hanya untuk menatap layar kosong karena bingung memulai kalimat pertama, kini bisa meminta AI memberikan 5 opsi ide pembuka. Dari sana, mereka bisa memilih satu dan mengembangkannya sendiri dengan gaya bahasa mereka. Kecerdasan kreatif mahasiswa tidak mati, tapi berevolusi menjadi kecerdasan kuratorial. Mahasiswa menjadi seperti seorang sutradara atau konduktor orkestra. Mereka tidak memainkan semua alat musik (menulis setiap kata sendirian), tapi mereka mengarahkan AI untuk menghasilkan harmoni yang mereka inginkan. Tentu, ini membutuhkan standar rasa, estetika, dan wawasan yang tinggi—sesuatu yang harus tetap diasah oleh pendidikan humaniora dan interaksi dengan dosen.
Bagian VI: Tantangan Etika dan Integritas Karakter
Kecerdasan intelektual (IQ) tanpa integritas adalah bencana bagi peradaban. Pengaruh AI yang paling mengkhawatirkan bagi saya bukanlah soal mahasiswa jadi bodoh, tapi soal mahasiswa jadi tidak jujur. Kemudahan yang ditawarkan AI menggerus nilai-nilai kejujuran akademik. Batas antara “terinspirasi” dan “plagiarisme” menjadi kabur. Ketika mahasiswa mengklaim tulisan buatan AI sebagai tulisan murni mereka, mereka sedang membohongi diri sendiri dan institusi. Kebiasaan berbohong kecil ini, jika dipelihara selama 4 tahun kuliah, akan membentuk karakter koruptif yang berbahaya saat mereka menjadi pejabat atau profesional nanti. Sebagai dosen, tugas kita sekarang bukan hanya mentransfer ilmu teknis, tapi menjadi penjaga gawang moral. Kita harus menanamkan pemahaman bahwa integritas adalah mata uang yang paling berharga. Menggunakan AI boleh sebagai alat bantu, tapi mengakui penggunaannya (transparansi) adalah wajib. Kecerdasan etis inilah yang sering kali luput dalam diskusi tentang teknologi, padahal inilah benteng terakhir kemanusiaan kita.
Bagian VII: Strategi Dosen: Beradaptasi atau Punah
Melihat semua fenomena di atas, apa yang harus dilakukan oleh kita para dosen? Melarang AI di kampus ibarat melarang kalkulator di fakultas teknik atau melarang internet di perpustakaan. Sia-sia dan melawan arus zaman. Strategi evaluasi kita yang harus berubah. Evaluasi pembelajaran tidak bisa lagi hanya berbasis produk (hasil akhir esai/makalah), karena produk bisa dibuat mesin dalam hitungan detik. Evaluasi harus berbasis proses. Saya kini lebih sering menerapkan ujian lisan, debat terbuka, presentasi dadakan, atau penugasan tulisan tangan di dalam kelas (tanpa gawai). Cara-cara “kuno” ini ternyata paling efektif untuk mengukur kecerdasan asli mahasiswa di era digital. Di depan lisan, tidak ada tempat bersembunyi bagi mereka yang hanya mengandalkan AI. Selain itu, kita harus mendesain tugas yang membutuhkan sentuhan manusiawi. Tugas yang meminta mahasiswa mewawancarai tokoh lokal, melakukan observasi lapangan ke pasar tradisional, atau merefleksikan pengalaman pribadi—hal-hal yang tidak dimiliki data latih AI. Dengan cara ini, kita memaksa mahasiswa untuk tetap menggunakan kemanusiaan, empati, dan kecerdasan sosial mereka.
Penutup: Simbiosis, Bukan Kompetisi
Sebagai penutup artikel “teropong isu” ini, saya ingin menyimpulkan bahwa pengaruh AI terhadap kecerdasan mahasiswa adalah sebuah spektrum. Di satu ujung, ada ancaman kemalasan dan kebodohan bagi mereka yang menyalahgunakannya sebagai mesin penjawab instan. Di ujung lain, ada potensi lompatan kecerdasan yang luar biasa bagi mereka yang memanfaatkannya sebagai alat augmentasi berpikir. AI adalah pedang bermata dua. Di tangan mahasiswa yang malas, ia memotong urat nadi berpikir kritis. Namun di tangan mahasiswa yang bijak, ia memotong semak belukar hambatan teknis, memuluskan jalan menuju inovasi.
Tugas kita sebagai dosen bukan untuk membuang pedang itu, melainkan mengajarkan mahasiswa cara memegangnya dengan benar. Kita harus memastikan bahwa manusianya tetap menjadi “tuan”, dan teknologi tetap menjadi “hamba”. Kecerdasan mahasiswa masa depan tidak lagi diukur dari seberapa penuh “harddisk” di kepala mereka berisi hafalan, tetapi dari seberapa hebat “prosesor” di kepala mereka mengolah informasi bersama AI untuk memecahkan masalah kemanusiaan yang nyata. Pendidikan kita harus selamat dari gelombang ini, dan justru menungganginya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.
Referensi
Untuk memperkuat argumen dalam tulisan ini, berikut adalah beberapa referensi yang relevan dengan konteks akademik dan teknologi:
Bloom, B. S. (1956). Taxonomy of Educational Objectives. (Menjadi dasar analisis tentang pergeseran dari hafalan/LOTS ke analisis/HOTS yang diperlukan di era AI).
UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. Paris: UNESCO. (Panduan global tentang etika penggunaan AI di sekolah dan kampus yang menjadi rujukan etis).
Dwivedi, Y. K., et al. (2023). “Opinion Paper: So what if ChatGPT wrote it? Multidisciplinary perspectives on opportunities, challenges and implications of generative conversational AI for research, practice and policy.” International Journal of Information Management. (Jurnal yang membahas dampak pro-kontra AI dalam dunia akademik).
Aoun, J. E. (2017). Robot-Proof: Higher Education in the Age of Artificial Intelligence. MIT Press. (Buku tentang bagaimana kurikulum harus berubah agar lulusan tidak tergantikan oleh robot).
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. (2023). Surat Edaran terkait penggunaan teknologi dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi (Konteks kebijakan lokal).
Alvianus Kristian Sumual, S.E., M.E. adalah seorang akademisi dan pakar ekonomi yang saat ini mengabdi sebagai Dosen Ilmu Aktuaria di Institut Teknologi Kalimantan (ITK).


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.