Sleman, Yogyakarta [DESA MERDEKA] – Desa-desa di Indonesia kini bukan lagi sekadar pelengkap administratif, melainkan telah menjelma menjadi entitas global yang diperhitungkan dunia. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, menegaskan bahwa model pembangunan berbasis data mikro (SDGs Desa) milik Indonesia sukses memukau forum internasional, mulai dari Bangkok hingga markas besar PBB di New York.
Dalam ajang ASEAN Rural Culture Expo di Tebing Breksi, Sleman, pria yang akrab disapa Gus Halim ini memaparkan bahwa kekuatan diplomasi desa Indonesia terletak pada presisi data by name-by address. Saat ini, Indonesia telah mengantongi lebih dari 104 juta data individu dan 31 juta data keluarga di tingkat desa.
“Dengan pendekatan data mikro, desa bukan lagi menebak-nebak, tapi memahami dengan pasti apa masalah dan kebutuhan warganya. Jika desa berhasil membangun secara tepat sasaran, maka keberhasilan nasional otomatis mengikuti,” ungkap Gus Halim di sela rangkaian pertemuan ASEAN Village Network.
Desa Wisata: Lokomotif Baru Ekonomi Kawasan
Ada pesan menarik yang dibawa Gus Halim sebagai strategi out of the box untuk pertumbuhan ekonomi: “Kewajiban piknik” ke desa wisata bagi pelaku event di kota. Beliau mendorong agar setiap acara yang digelar di perkotaan menyisipkan agenda kunjungan ke desa wisata terdekat sebagai upaya nyata redistribusi ekonomi.
Strategi ini langsung dipraktikkan Kemendes PDTT dengan menggelar kegiatan utama di Tebing Breksi dan sesi makan malam di Desa Mangunan. Upaya ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah konkret mendorong pertumbuhan ekonomi arus bawah dan peningkatan SDM lokal.
Kekuatan Digitalisasi Hingga Level Kelurahan
Transformasi ini juga mendapat sokongan dari sektor perbankan. Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad, mengungkapkan bahwa transformasi digital kini dipaksa masuk hingga ke tingkat kelurahan di DIY. Fokusnya jelas: edukasi teknologi untuk transaksi yang lebih akuntabel dan pengembangan UMKM sebagai mitra strategis, bukan sekadar objek pembiayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Halim memberikan penghargaan kepada 10 desa pionir yang masuk dalam ASEAN Village Network. Desa-desa seperti Sambirejo (DIY), Cibiru Wetan (Jawa Barat), hingga Kumbang Kuning (NTB) kini resmi menjadi duta desa Indonesia di kancah Asia Tenggara.
Pertemuan ini menjadi tonggak sejarah di mana para kepala desa se-ASEAN saling bertukar inovasi, menjadikan desa sebagai aktor utama dalam pengentasan kemiskinan dan ketahanan regional.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.