Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

OPINI · 30 Jan 2026 11:53 WIB ·

Manis yang Bertahan: Gula Aren Talang Babungo dan Etika Ekonomi dari Nagari


					Manis yang Bertahan: Gula Aren Talang Babungo dan Etika Ekonomi dari Nagari Perbesar

 

Manis tidak selalu lahir dari kemewahan. Di Talang Babungo, sebuah nagari di Sumatera Barat, rasa manis justru muncul dari kerja sunyi yang dimulai jauh sebelum matahari terbit. Dari pohon aren yang tumbuh di lereng-lereng, dari tangan-tangan yang terbiasa bangun subuh, dari dapur kayu yang asapnya menyatu dengan pagi.

Pohon aren tidak ditanam tergesa-gesa. Ia tumbuh mengikuti irama alam. Tidak semua bisa dipanen, tidak semua dipaksa produktif. Ada jeda, ada kesabaran. Dari batangnya, nira disadap perlahan. Cairan bening itu lalu dimasak berjam-jam, diaduk tanpa henti, sampai akhirnya mengental dan menjadi gula aren—manis yang tidak instan.

Proses panjang ini bukan sekadar teknis produksi. Ia adalah cerminan cara hidup. Di Talang Babungo, gula aren bukan hanya komoditas, tetapi penanda hubungan antara manusia, alam, dan nilai yang diwariskan.

Di dapur-dapur sederhana, tidak ada takaran yang dicurangi. Tidak ada campuran yang disembunyikan demi berat lebih. Gula aren dijaga kemurniannya, meski tahu harga pasar sering kali tidak ramah. Di sinilah etika ekonomi bekerja—bukan sebagai teori, melainkan sebagai kebiasaan yang hidup.

Namun, manis ini tidak lahir tanpa rasa pahit.

Kerja membuat gula aren berat. Panas dapur, kayu bakar yang harus dicari, waktu yang panjang, dan hasil yang tidak selalu sebanding dengan tenaga. Di pasar, gula putih industri dijual lebih murah, lebih rapi, lebih menarik di rak minimarket. Sementara gula aren Talang Babungo sering kalah cepat, kalah tampilan, dan kalah jaringan.

Anak-anak muda pun mulai melirik pekerjaan lain. Bukan karena mereka tidak mencintai nagari, tetapi karena hidup menuntut kepastian. Gula aren, dengan segala etika dan kesabarannya, sering dianggap terlalu lambat di tengah ekonomi yang serba cepat.

Di titik inilah tulisan ini menjadi relevan dengan keadaan sekarang.

Kita hidup di zaman ketika keberhasilan ekonomi diukur dari kecepatan dan skala. Produksi massal, distribusi instan, dan harga murah menjadi mantra. Dalam logika itu, gula aren tradisional tampak tertinggal. Tetapi justru dari keterlambatan itulah kita bisa belajar.

Talang Babungo mengajarkan bahwa ekonomi tidak selalu harus menaklukkan alam. Pohon aren tidak diperas habis. Ada waktu ia dibiarkan beristirahat. Ada batas yang dihormati. Etika ini mungkin tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi terasa dalam keberlanjutan.

Ini bukan romantisasi desa. Ini pengakuan jujur bahwa pilihan menjaga etika sering kali berarti menerima hasil yang tidak maksimal secara materi. Tetapi pilihan itu juga menjaga sesuatu yang lebih besar: kepercayaan, keseimbangan, dan martabat kerja.

Sebagai pembaca—terutama kita yang tinggal di kota—kisah ini seharusnya tidak berhenti sebagai cerita orang lain. Gula aren Talang Babungo mungkin hadir di kopi pagi kita, di kue tradisional, atau bahkan hanya kita kenal namanya. Tetapi jarang kita bertanya: dari mana manis itu datang, dan nilai apa yang ikut larut di dalamnya?

Ketika kita memilih yang paling murah, tercepat, dan paling praktis, kita sebenarnya ikut menentukan arah ekonomi. Apakah kita memberi ruang bagi kerja yang jujur dan lambat, atau justru mendorong sistem yang meminggirkan nilai demi efisiensi.

Etika ekonomi dari nagari tidak menawarkan solusi instan. Ia tidak menjanjikan lonjakan omzet atau ekspor besar-besaran. Yang ia tawarkan adalah ketahanan. Manis yang bertahan.

Di tengah krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, dan kejenuhan terhadap produk seragam, kisah seperti Talang Babungo menjadi penting. Bukan untuk dijadikan museum hidup, tetapi sebagai pengingat bahwa pembangunan tidak harus selalu meninggalkan nilai.

Gula aren Talang Babungo mungkin tidak akan menguasai pasar nasional. Tetapi selama masih ada tangan yang sabar mengaduk nira, selama masih ada kesadaran untuk tidak mencampur yang bukan haknya, manis itu akan tetap bertahan—sebagai rasa, sebagai etika, dan sebagai pilihan hidup.

Dan barangkali, di situlah letak manis yang sesungguhnya. (DA)

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ekonomi Kicau Mania Desa Gerakkan Triliunan Rupiah

23 Mei 2026 - 16:48 WIB

Jaga Jakarta Bersih dan Asri: Langkah Kecil untuk Masa Depan Kota

23 Mei 2026 - 13:18 WIB

Jurnalis Mendirikan Yayasan: Begini Cara Aman Hindari Konflik Kepentingan

19 Mei 2026 - 18:46 WIB

Desa Tak Pakai Dolar, Tapi Impor Membebani?

18 Mei 2026 - 21:06 WIB

Sengketa Plasma Tana Tidung: Masyarakat Desa Terjepit Bagi Hasil

10 Mei 2026 - 23:56 WIB

Senjakala Etalase Ekonomi Jombang: Dibalik Gemerlap Digital dan Ancaman Kemiskinan

10 Mei 2026 - 15:31 WIB

Trending di OPINI