Opini [DESA MERDEKA] – Selama ini, peringatan Isra’ Mi’raj sering kali terjebak dalam romantisme sejarah tentang keajaiban perjalanan langit atau sekadar asal-usul kewajiban salat. Namun, jika dibedah dengan sudut pandang kesehatan mental dan sosiologi modern, peristiwa besar ini menyimpan pesan yang lebih mendalam: Isra’ Mi’raj adalah bentuk “Healing Ilahi” atau pemulihan jiwa bagi Nabi Muhammad ﷺ yang saat itu berada di titik terendah secara emosional.
Peristiwa ini terjadi tepat setelah ‘Āmul Ḥuzn atau Tahun Kesedihan, di mana Rasulullah kehilangan dua pilar dukungannya, Khadijah dan Abu Thalib, serta mengalami penolakan brutal di Thaif. Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa Allah sering kali memberikan “kenaikan spiritual” justru di saat seseorang mengalami kehancuran mental, bukan saat sedang berada di puncak kejayaan.
Bukan Pelarian, Melainkan Penguatan Realitas
Sudut pandang unik lainnya adalah bahwa Mi’raj bukanlah bentuk eskapisme atau pelarian dari masalah bumi. Meskipun Nabi ﷺ diberi kesempatan melihat surga dan Sidratul Muntaha, beliau tetap memilih untuk kembali ke Makkah menghadapi realitas sosial yang berat. Ini adalah kritik bagi spiritualitas modern yang sering kali membuat orang “lari” dari masalah sosial demi kenyamanan ibadah pribadi. Spiritualitas sejati justru harus memberikan kekuatan untuk kembali memperbaiki kondisi dunia.
Dalam proses turunnya perintah salat, dialog “tawar-menawar” dari 50 menjadi 5 waktu bukan sekadar kisah ringan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghargai proses dan memahami keterbatasan manusia. Allah tidak menghendaki kelelahan ekstrem yang merusak, melainkan keberlanjutan (istiqamah) yang realistis untuk dijalankan.
Masjid Al-Aqsha dan Cermin Moralitas
Secara geopolitik spiritual, fakta bahwa perjalanan dimulai ke Masjid Al-Aqsha sebelum ke langit menegaskan bahwa Aqsha adalah bagian integral dari akidah, bukan sekadar isu regional atau politik. Mengabaikan Al-Aqsha sama saja dengan memutus salah satu simpul sejarah spiritual Islam yang paling krusial.
Terakhir, Mi’raj harus dipandang sebagai standar nilai moral. Gambaran tentang pemakan riba dan pengkhianat amanah yang dilihat Nabi ﷺ adalah cermin bagi umat saat ini. Jika salat disebut sebagai “Mi’raj-nya orang beriman”, maka tantangan terbesarnya adalah: apakah salat kita benar-benar membawa jiwa kita “naik” menjadi lebih baik, atau hanya sekadar gerakan fisik untuk menggugurkan kewajiban tanpa kesadaran hati?


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.