Padang Panjang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Kita sering kali lebih cepat lupa daripada belajar. Saat duka bencana menguap ditelan berita baru, risiko tragedi serupa justru mulai menabung waktu untuk kembali meledak. Di tengah siklus “lupa kolektif” inilah, rencana pembangunan Monumen Galodo Sumatera di Padang Panjang muncul bukan sekadar sebagai proyek fisik, melainkan sebagai upaya radikal merawat ingatan agar tidak kembali menjadi korban.
Galodo atau banjir bandang yang kerap menghantam wilayah Sumatera bukanlah peristiwa alam murni. Tragedi ini adalah titik temu antara curah hujan ekstrem dan kegagalan manusia dalam menata ruang. Monumen yang akan berdiri di kawasan Jembatan Kembar, Padang Panjang Barat ini, dirancang untuk menjadi ruang refleksi yang menolak diam terhadap kesalahan pengelolaan lingkungan.
Ingatan yang Dilekatkan pada Kebijakan
Sudut pandang out of the box melihat monumen ini sebagai “batu peringatan” seperti Tsunami Stones di Jepang. Di sana, prasasti kuno bukan hanya hiasan, melainkan instruksi kebijakan: “Jangan membangun di bawah garis ini.” Monumen Galodo Sumatera berpotensi menjadi alarm visual bagi pengambil kebijakan agar tidak ceroboh dalam memberikan izin pembukaan lahan di lereng perbukitan atau penyempitan daerah aliran sungai.
Ketua Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Sumbar–Riau, Andreas Sofiandi, menjelaskan bahwa monumen ini akan mengabadikan nama-nama korban dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Skala regional ini menegaskan bahwa galodo adalah persoalan struktural lintas wilayah yang menuntut solusi komprehensif, bukan sekadar penanganan lokal sesaat.
Duka, Doa, dan Penataan Ruang
Rencana penyediaan fasilitas musala di kawasan monumen memberikan pesan simbolik yang dalam: keterbatasan manusia di hadapan alam. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana nilai-nilai ini diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata. Pemerintah daerah telah menyambut proyek ini sebagai sarana edukasi mitigasi, namun monumen sering kali berakhir hanya sebagai penanda seremonial jika tidak dibarengi dengan perubahan radikal pada tata ruang.
Monumen yang efektif harus mampu membuat seorang pejabat berpikir ulang sebelum menandatangani izin pembangunan di kawasan rawan. Jika praktik pembangunan tetap berjalan “bisnis seperti biasa” dengan membuka lereng dan menyempitkan sungai, maka monumen tersebut hanyalah simbol kosong di tengah kegagalan sistemik.
Target Satu Tahun: Momentum Akal Sehat
Pembangunan yang ditargetkan rampung satu tahun pascabencana adalah langkah strategis. Pada titik waktu tersebut, emosi dan akal sehat publik masih berada di frekuensi yang sama. Membangun monumen terlalu lama hanya akan membuatnya kehilangan daya guncang, sementara membangun tanpa refleksi hanya akan menghasilkan kemegahan tanpa makna.
Monumen Galodo Sumatera diharapkan mampu menghubungkan duka masa lalu dengan perlindungan masa depan. Sebab, monumen yang paling gagal bukanlah yang hancur dimakan usia, melainkan yang berdiri megah sementara manusia di sekitarnya tetap mengulangi kesalahan ekologis yang sama.
Saya seorang pensiuan berpengalaman di bidang pemerintahan dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik. Terbiasa bekerja secara tim maupun mandiri, saya selalu berkomitmen memberikan hasil terbaik dan terus belajar untuk berkembang.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.