Opini [DESA MERDEKA] – Di tengah hiruk-pikuk perdebatan nasional soal pengembangan pariwisata yang kerap berbenturan dengan isu lingkungan, Desa Wisata Jatiluwih di Tabanan, Bali, hadir sebagai sebuah contoh yang membungkam kritik: pariwisata tidak harus eksploitatif. Ia bisa indah, menguntungkan, sekaligus melestarikan. Berita Antara tentang Jatiluwih bukan sekadar catatan destinasi, tetapi potret bagaimana desa dapat menjadi laboratorium dunia tentang harmoni antara alam, budaya, dan ekonomi.
Pengakuan internasional baru-baru ini ketika Jatiluwih kembali masuk dalam jajaran destinasi berkelanjutan terbaik dunia sesungguhnya adalah validasi dari perjalanan panjang desa itu menjaga warisan budaya Subak. Sawah terasering Jatiluwih yang memukau bukan hanya lanskap visual untuk konten Instagram, tetapi manifestasi filosofi Tri Hita Karana yang hidup. Dan justru karena ia hidup, desa ini dipandang dunia sebagai keajaiban budaya yang bertahan di tengah gelombang modernitas.
Yang menarik, foto-foto dari lapangan menunjukkan wisatawan mancanegara dengan antusias menyusuri jalur sawah, berfoto di dekat patung Dewi Sri berbahan bambu, menikmati udara segar dan keheningan yang jarang bisa dibeli di kota besar manapun. Ini bukan jenis pariwisata yang ‘berisik’. Ini wisata yang mengajak pengunjung berjalan kaki, merasakan tanah, memahami irigasi, dan pada akhirnya menghargai keteraturan ekologi yang diwariskan berabad-abad. Dari perspektif keberlanjutan, model seperti ini lebih mendidik ketimbang membangun taman bermain atau destinasi artifisial.
Tetapi daya tarik Jatiluwih tidak berhenti di estetika. Ia menembus ranah kebijakan. Dengan jumlah kunjungan mencapai ratusan ribu wisatawan per tahun, desa ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan antitesis dari ekonomi. Sebaliknya, ia menjadi fondasi ekonomi lokal yang kokoh. Sebagian pendapatan wisata dikembalikan ke petani dan pengelola Subak, memastikan bahwa sawah tidak berubah menjadi vila dan Subak tidak mati menjadi monumen.
Sehingga berdasarkan fenomena tersebut, Jatiluwih membuktikan bahwa pariwisata tidak harus merusak alam, justru bisa memperkuat pelestarian lokal. Jika kita mau jujur, banyak desa wisata lain di Indonesia telah kehilangan arah. Ketika kunjungan melonjak, tekanan lahan ikut meningkat, regulasi longgar, dan kepentingan bisnis lebih cepat berlari daripada kesadaran ekologis masyarakat. Namun Jatiluwih menolak jalan pintas itu. Melalui peraturan desa, pembangunan fisik dikendalikan ketat: tidak boleh ada bangunan mencolok yang merusak lanskap terasering. Tidak boleh ada pembangunan yang mematikan sistem Subak. Tidak boleh ada ego yang menghancurkan harmoni.
Inilah titik krusial yang patut dicatat: keberhasilan Jatiluwih bukan hasil keberuntungan geografis. Ia hasil governance lokal yang bijak. Ketika banyak daerah berlomba membangun destinasi “viral”, Jatiluwih justru memantapkan pondasi filosofis—Tri Hita Karana, Subak, dan tata ruang berbasis budaya lokal. Dunia memberi penghargaan bukan karena desa itu indah, tetapi karena desa itu konsisten.
Dalam konteks pariwisata nasional, Jatiluwih adalah benchmark yang sepatutnya ditiru, bukan sekadar dirayakan. Negara ini kaya akan desa dengan potensi serupa, tetapi minim yang berhasil menjaga keseimbangan seperti Jatiluwih. Padahal, keberlanjutan bukanlah konsep yang mahal; ia justru murah ketika dimulai dari kesadaran lokal dan kepemimpinan komunitas.
Pertanyaannya, apakah model Jatiluwih bisa direplikasi? Jawabannya: bisa, tetapi tidak mudah. Ia menuntut tiga komitmen yang sering kali rapuh di banyak destinasi lain. Pertama, konsistensi tata kelola desa yang tidak tunduk pada tekanan ekonomi jangka pendek. Kedua, partisipasi komunitas yang tidak sekadar simbolik. Ketiga, keberanian untuk percaya bahwa ‘kecil tapi berkualitas’ lebih menguntungkan daripada ‘besar tapi merusak’.
Ketika dunia menghadapi krisis iklim, pariwisata berbasis alam bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan moral. Jatiluwih menunjukkan bahwa desa bisa memimpin, bahkan memberi inspirasi global. Di tengah berbagai kisah pembangunan yang sering mengorbankan lingkungan, Jatiluwih membisiki kita sebuah pesan sederhana: keseimbangan adalah kekuatan. Bukan kelemahan.
Jika pemerintah daerah dan pembuat kebijakan nasional ingin mencari contoh destinasi yang tumbuh tanpa merusak, berdaya tanpa mengeksploitasi, dan mendunia tanpa kehilangan jati diri, maka Jatiluwih adalah jawabannya. Desa kecil yang mengajarkan kita bahwa keberlanjutan bukan jargon, melainkan jalan hidup.
Jatiluwih bukan hanya indah secara visual tapi juga kuat secara filosofis dan ekologi. Penghargaan Green Destinations Top 100 Stories adalah validasi global bahwa desa ini bisa jadi contoh bagaimana pariwisata dan pelestarian alam bisa sejalan. Untuk para pelancong yang peduli, Jatiluwih menawarkan lebih dari sekadar pemandangan; ia menawarkan pengalaman yang bermakna dan bertanggung jawab.
Melalui pembangunan sistem Subak dan membagi manfaat ke komunitas petani, desa ini bisa menjadikan wisata sebagai penggerak ekonomi lokal.
Warisan budaya seperti Subak menjadi pengejawantahan nilai-nilai hidup dan bukan sekadar objek wisata, tapi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Sehingga bukan tidak mungkin, dunia menilai Jatiluwih luar biasa bukan karena ia berubah, tetapi karena ia tetap menjadi dirinya, dan sekali lagi fenomena itu pada hari ini adalah sebuah keberanian yang langka dari sebuah peradaban hidup manusia.

Penggiat Literasi dan ASN Kemenkeu RI


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.