Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Kunjungan Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, ke Yogyakarta pada 17 Oktober 2025, membuka harapan besar bagi kemajuan Kota Padang. Dari kunjungan itu, Padang mendapat inspirasi kuat untuk menghadirkan “Malioboro-nya sendiri” dengan fokus pada revitalisasi Pasar Raya dan ruas Jalan Permindo.
Malioboro di Yogyakarta bukan sekadar jalan biasa. Ia adalah ruang hidup yang menyatu dengan budaya, seni, kuliner, dan perdagangan. Keberhasilannya menarik jutaan wisatawan setiap tahun menjadikan Malioboro ikon kota yang memperkuat perekonomian sekaligus menjaga tradisi.
Padang, dengan segala potensi budaya Minangkabau dan pasar tradisionalnya, sesungguhnya memiliki modal besar untuk menciptakan ruang publik serupa. Pasar Raya selama ini menjadi pusat kegiatan ekonomi, namun belum sepenuhnya digarap sebagai destinasi wisata dan ruang budaya yang memikat.
Mengubah Jalan Permindo dan Pasar Raya menjadi “Malioboro-nya Padang” bukan hanya soal mempercantik fisik kawasan, tapi juga menyuntikkan semangat baru melalui integrasi seni, kuliner khas, dan aktivitas budaya yang menggugah.
Dalam konteks ini, teori penciptaan tempat sangat relevan. Teori ini menekankan bahwa sebuah ruang publik harus lebih dari sekadar fisik; ia harus menjadi “tempat” yang bermakna, tempat di mana masyarakat dan pengunjung merasa terhubung secara emosional dan sosial. Melalui proses place making, ruang seperti Pasar Raya dan Jalan Permindo dapat dibentuk menjadi area yang bukan hanya nyaman dan fungsional, tetapi juga kaya akan identitas budaya Minangkabau, memberikan pengalaman otentik yang mendalam bagi wisatawan.
Proses penciptaan tempat ini membutuhkan keterlibatan aktif komunitas lokal, pelaku usaha, dan pemerintah dalam merancang aktivitas budaya, seni pertunjukan, serta penyajian kuliner khas yang menampilkan kekayaan tradisi Padang. Dengan begitu, ruang ini akan hidup dan berdenyut, tidak hanya sebagai lokasi transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan sosial yang hangat dan bermakna.
Langkah ini tentu menuntut sinergi antar-pemangku kepentingan, perencanaan matang, serta komitmen berkelanjutan. Kunjungan ke Yogyakarta juga membuka peluang kerja sama Sister City yang dapat memperkuat pertukaran ide dan pengalaman.
Jika visi ini terwujud, Padang akan punya ruang kota yang tidak hanya sebagai pusat perdagangan, tapi juga pusat budaya dan pariwisata yang hidup, yang akan meningkatkan ekonomi lokal sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat.
Mari dukung mimpi besar ini, agar Pasar Raya dan Jalan Permindo benar-benar menjadi Malioboro baru yang membawa Padang ke tingkat yang lebih tinggi
Oleh: Deddi Ajir (Alumni UIN Imam Bonjol Padang)


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.