Sukoharjo, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah bayang-bayang kasus keracunan yang menimpa lebih dari 5.000 siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Pranan di Sukoharjo muncul dengan solusi konkret. Saat standar operasional nasional menjadi sorotan tajam Kepala Staf Kepresidenan, M. Qodari, BUMDes Pranan justru membuktikan bahwa keamanan pangan kelas dunia bisa lahir dari dapur desa.
Data dari BPOM hingga Kementerian Kesehatan mencatat setidaknya 5.320 penderita keracunan akibat kurangnya higienitas dan kontaminasi silang. Namun, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Pranan berhasil melayani 3.450 porsi setiap hari selama sebulan penuh tanpa satu pun insiden kesehatan. Keberhasilan ini menempatkan lembaga desa sebagai garda terdepan penyelamat program nasional.
Rahasia Dapur Desa Berstandar HACCP
Direktur BUMDes Pranan, Yasir Mathsuda, mengungkapkan bahwa kunci kesuksesan mereka terletak pada penerapan Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP). Sistem ini memastikan pengawasan ketat dari hulu ke hilir, mulai dari penyortiran bahan baku oleh petugas keamanan hingga pengecekan suhu ruangan selama produksi.
“Bahan baku yang tidak sesuai kualitas langsung dikembalikan,” tegas Yasir. Tak hanya itu, keterlibatan ahli gizi memastikan setiap proses—dari pengemasan hingga pengantaran—berada dalam pengawasan penuh. Untuk perlindungan ekstra, setiap menu wajib dicicipi sebelum disajikan dan sampelnya disimpan di bank sampel sebagai bukti otentik keamanan pangan.
Model Desa untuk Nasional
Fenomena di Jawa Barat dan wilayah lainnya yang mencatatkan ribuan kasus keracunan memicu evaluasi mendalam terhadap SOP dapur MBG. Model yang diterapkan BUMDes Pranan di Polokarto ini kini menjadi acuan nasional. Keberhasilan ini membuktikan bahwa dengan manajemen yang tepat, unit usaha desa mampu mengelola program strategis negara secara efektif, aman, dan profesional.
Keberhasilan SPPG Pranan menunjukkan bahwa desa bukan sekadar objek penerima bantuan, melainkan subjek penyedia solusi yang mampu mencegah krisis kesehatan di masa mendatang melalui standarisasi yang tinggi.
TPP Kec. Polokarto Sukoharjo
Ketua Yayasan Pendidikan & Sosial Darussalam


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.