Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gaya hidup modern, sebuah pesantren di Kabupaten Semarang hadir membawa pesan penting tentang kearifan dan bakti kepada orang tua. Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, yang berlokasi di Dusun Gedong, Kecamatan Banyu, Kabupaten Semarang, menjadi magnet bagi mereka yang ingin menimba ilmu agama di masa senja. Bahkan, tempat ini juga menjadi rujukan pembelajaran bagi generasi muda.
Pada Minggu, 7 September 2025, suasana di pesantren ini terlihat ramai. Selain para santri lansia, hadir pula rombongan dari Sekolah Tani GRPG Jateng yang sedang memperingati ulang tahun ketujuh. Acara tersebut diisi dengan berbagai kegiatan sosial, mulai dari khitanan massal, bakti sosial potong rambut, hingga edukasi membuat kue dan lilin.
Salah satu sosok yang menarik perhatian adalah Hafsah, seorang perempuan muda yang mengelola media sosial pesantren. Di usianya yang menginjak 17 tahun, Hafsah mengaku terinspirasi oleh semangat para santri lansia yang tak pernah surut dalam menuntut ilmu. Ia menceritakan bagaimana santri-santri di sini, yang sudah berusia lanjut, memiliki rutinitas padat. Mereka bangun pukul 03.00 dini hari untuk salat tahajud, dilanjutkan dengan salat subuh berjamaah, zikir, dan kajian subuh. Siang harinya, mereka mengaji dan melakukan kegiatan lain seperti berkebun atau membantu di dapur.
“Masyaallah banget yang di sini, Hafsah lihat adalah semangat mbah-mbahnya untuk mengaji,” ujar Hafsah. “Hafsah sebagai anak muda kayak enggak boleh kalah nih semangatnya sama mbah-mbah. Mbah-mbah saja yang sudah usianya lanjut usia, masih semangat buat menimba ilmu.”
Menurutnya, pesantren ini tidak hanya menawarkan pendidikan agama, tetapi juga mengintegrasikan tiga aspek penting: psikologis, kesehatan (medis), dan agamis. Lingkungannya yang sejuk dan asri juga menjadi daya tarik tersendiri. Pesantren ini memiliki santri mukim (dari luar daerah) dan santri non-mukim (warga sekitar), menciptakan komunitas yang solid dan penuh kebersamaan.
Sebagai penanggung jawab media sosial, Hafsah fokus membuat konten-konten testimoni santri lansia untuk menarik perhatian masyarakat, khususnya generasi muda. Ia melihat pesantren ini sebagai sarana efektif untuk mengajarkan nilai-nilai birrul walidain, yaitu berbakti kepada orang tua.
“Di sini kita merawat lansia atau merawat orang tua, secara tidak langsung kita sebagai anak muda itu melatih diri untuk nantinya di masa mendatang kita perlu merawat orang tua,” jelas Hafsah. “Dan di sini jadi pembelajaran banget untuk kita berbakti kepada orang tua, bagaimana cara merawatnya.”
Selain menjadi wadah pembelajaran bagi masyarakat umum, pesantren ini juga menjalin kerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) untuk program magang calon pekerja ke Jepang. Mereka belajar merawat lansia secara langsung di pesantren, sehingga memiliki bekal praktik yang kuat.
Hafsah berharap, semangat para santri lansia dapat menginspirasi anak-anak muda lainnya untuk tidak pernah menyerah dan terus berjuang, baik dalam mencari ilmu maupun dalam kehidupan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.