Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 17 Sep 2025 07:47 WIB ·

Lestarikan Flora Lokal, Desa Menari Jadi Pusat Konservasi


					Lestarikan Flora Lokal, Desa Menari Jadi Pusat Konservasi Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Desa Ngerawan atau yang dikenal sebagai Desa Wisata Menari, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, kini menjadi pusat perhatian dalam upaya konservasi flora lokal. Kolaborasi apik antara Universitas Sunan Gunung Jati (UGJ), Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga melahirkan sebuah program inovatif untuk melestarikan keanekaragaman hayati desa.

Program konservasi ini diluncurkan bertepatan dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) para mahasiswa yang berfokus pada tiga bidang utama: flora, fauna, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kepala Desa Ngerawan, Lunggow Wahono, mengungkapkan bahwa program ini selaras dengan kebutuhan pengembangan desa.

“Ini adalah luaran KKN mereka yang instrumennya nyambung dengan apa yang dibutuhkan desa. Kami berterima kasih karena kolaborasi ini bisa membantu kami mengembangkan potensi lokal,” ujar Lunggow.

Dalam acara peluncuran, perwakilan dari Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW, Joko, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk melestarikan flora lokal Desa Menari berbasis sistem informasi digital. Tujuannya, agar generasi muda dapat dengan mudah mengakses dan mempelajari kekayaan flora di sekitar mereka, sekaligus mendorong pelestarian tanaman-tanaman unik yang ada.

Acara ini turut dihadiri perwakilan dosen dari UNIKA, Budamara dan Widi, yang menekankan pentingnya pelestarian flora lokal. “Generasi muda kita sekarang jarang mengenal jenis tanaman di sekitarnya. Dengan program ini, mereka bisa menemukan kembali tanaman-tanaman yang sudah ada sejak dulu dan mengetahui manfaatnya, sehingga tidak punah dan ekosistem tetap terjaga,” kata Widi.

Selain konservasi flora, program kolaborasi ini juga merangkul potensi lain di desa, seperti peternakan dan tata kelola lahan (landscape). Yang menarik, dalam setiap sesi diskusi, para mahasiswa bekerja sama dengan penduduk lokal yang memang berprofesi sebagai petani dan peternak. Mereka tidak hanya bertindak sebagai pemandu, tetapi juga sebagai narasumber langsung, sehingga informasi yang disampaikan benar-benar berasal dari pengalaman praktis.

Dengan program ini, Desa Menari tidak hanya menjadi destinasi wisata dengan keindahan alam, tetapi juga pusat edukasi yang komprehensif. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, dan masyarakat lokal diharapkan mampu menjadikan Desa Menari sebagai contoh sukses pengelolaan desa yang lestari dan berkelanjutan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Asa Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Bukan Beban Anggaran, Pers Adalah Perisai Antikorupsi Desa

21 April 2026 - 12:33 WIB

Hentakan Kuntau Bonerate: Memuliakan Pemimpin dengan Ketulusan Adat

20 April 2026 - 22:34 WIB

Luka di Bacan Barat: Saat Dana Kesehatan Desa Dikorupsi

20 April 2026 - 22:18 WIB

Bukan Sekadar Plakat: Vasko Ruseimy dan Solidaritas Kebencanaan Sumbar

17 April 2026 - 14:54 WIB

Trending di RAGAM