Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 11 Jul 2025 14:17 WIB ·

Kenapa Kita Diberi Pikiran Untuk Mengelola Sampah, Sementara yang Lain Tidak?


					Kenapa Kita Diberi Pikiran Untuk Mengelola Sampah, Sementara yang Lain Tidak? Perbesar

Pernahkah Anda merasa seperti satu-satunya orang yang pusing memikirkan sampah, sementara orang lain seolah tidak peduli? Ketika kita sibuk memilah organik dan anorganik, tetangga justru membakar sampah plastik di depan rumah. Saat kita repot-repot bikin kampanye daur ulang, orang lain masih buang popok di sungai tanpa rasa bersalah.

Saya dan beberapa kawan sering menertawakan ini sebagai bahan candaan. “Mungkin waktu Tuhan bagi-bagi kesadaran lingkungan, kita lagi duduk di barisan depan.” Tapi di balik kelucuan itu, ada sesuatu yang sungguh layak direnungkan.

Masalah sampah bukan sekadar tentang kotor atau tidak kotor. Ini adalah persoalan ekologi, kesehatan, dan bahkan keadilan sosial. Sampah yang kita buang sembarangan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat: dari halaman rumah ke selokan, dari selokan ke sungai, lalu ke laut dan akhirnya kembali ke tubuh kita dalam bentuk mikroplastik di ikan dan garam.

Namun anehnya, urgensi ini belum menyentuh banyak kepala. Masih banyak yang merasa sampah adalah tanggung jawab petugas kebersihan, bukan soal kesadaran kolektif.

Aktivis lingkungan kerap dianggap orang “nyeleneh“. Yang ngomel-ngomel soal plastik, yang susah beli minuman kemasan, yang pilih naik sepeda walau panas, dan yang merasa bersalah tiap kali lupa bawa tas belanja. Mereka ini sering dikomentari, “Sok-sokan banget,” atau “Yah, hidup jangan ribet amat lah.

Lalu timbul pertanyaan reflektif: kenapa kita bisa terganggu melihat sampah, merasa bersalah kalau buang sembarangan, punya dorongan kuat untuk mengajak orang berubah? Sementara sebagian orang seperti tak diberi radar kepedulian itu?

Jawaban dari pertanyaan itu mungkin bukan untuk dikeluhkan, tapi diterima. Mungkin memang tidak semua orang diberi pikiran yang sama. Tapi jika kita termasuk yang diberi, berarti itu tanggung jawab, bukan kutukan.

Pikiran itu bukan beban, tapi bentuk kasih sayang. Karena perubahan besar selalu dimulai dari segelintir orang yang “diberi” kegelisahan yang tidak bisa diam saat melihat bumi dirusak, yang tidak tenang kalau lingkungan dijadikan tempat buang sisa keserakahan.

Dan meskipun jalan ini kadang sepi, dianggap remeh, atau bahkan ditertawakan, kita tetap harus berjalan.

Tidak semua orang sadar tentang bahaya sampah. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti peduli. Justru karena tidak semua orang punya kesadaran itu, kita yang diberi pikiran ini perlu terus berbicara, memberi contoh, menularkan semangat, bahkan dengan cara paling sederhana sekalipun.

Bukan agar dianggap pahlawan, tapi agar bumi punya sedikit lebih banyak alasan untuk bertahan.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti, mereka yang belum diberi pikiran, akan perlahan ikut memahami. Karena pikiran baik seperti virus bisa menular, asal kita tidak lelah menyebarkannya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 84 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bahaya Laten Gotong Royong Sandiwara di Desa Kita

18 April 2026 - 09:01 WIB

Ketika Rumah Ibadah Masuk Proyek: Korupsi yang Menyelinap dalam Kesalehan

18 April 2026 - 08:45 WIB

Foto: Kedua tersangka dugaan korupsi ditahan Kejari Klaten. (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)

Hegemoni Kota: Saat Suara Warga Desa Jadi Figuran

15 April 2026 - 21:56 WIB

Bukan Cuma Musrenbang, Google Kini Bantu Bangun Desa

15 April 2026 - 01:36 WIB

Nasib Plasma Menjelutung: Menanti Keadilan di Tengah Jeratan Hutang

12 April 2026 - 13:05 WIB

Berhenti Jadi Laporan: Saatnya Cerita Desa Bicara Dunia

11 April 2026 - 16:39 WIB

Trending di OPINI