Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

OPINI · 20 Jun 2025 00:47 WIB ·

Desa Jadi Tumbal, Supradesa Panen Tepuk Tangan


					Desa Jadi Tumbal, Supradesa Panen Tepuk Tangan Perbesar

 

“Kewenangan lokal desa yang dijanjikan dalam semangat UU Desa itu perlahan menghilang. Tercerabut dari akarnya oleh intervensi program-program supradesa yang masif, seragam, dan terpusat”

Opini [DESA MERDEKA] – Betapa “beruntungnya” desa di negeri ini. Setiap kali ada program cemerlang dari supradesa — entah kementerian, entah provinsi, entah kabupaten entah siapa lagi yang merasa paling tahu kebutuhan desa, desa selalu diberi kehormatan: menjadi pelaksana penuh. Ya, diberi kehormatan untuk memikul anggaran, tenaga, bahkan tanggung jawab moral atas keberhasilan (atau kegagalan) program yang bukan inisiatif mereka sendiri.

Program-program itu diluncurkan penuh gegap gempita. Seremonial di kota, tanda tangan di hotel berbintang, baliho-baliho penuh jargon. Tapi ketika tiba waktunya eksekusi? Pemerintah desa diminta maklum untuk segera “berinovasi” mencarikan anggaran. Entah dari mana. Tak ada dana transfer tambahan, tapi tetap diminta maksimal.

Kepala desa? Wah, jadi seperti pesulap. Harus bisa “memunculkan” anggaran dari udara, menggerakkan warga bak pasukan perang, dan menjalankan program yang kadang tak kontekstual dengan kebutuhan lokal. Tapi jangan lupa, ketika program itu akhirnya berjalan dengan segala daya dan upaya kepala desa dan warga, yang berdiri paling depan saat peresmian dan pencitraan adalah supradesa. Dengan bangga mengklaim: “Kami berhasil memberdayakan desa!”

Padahal, kewenangan lokal desa yang dijanjikan dalam semangat UU Desa itu perlahan menghilang. Tercerabut dari akarnya oleh intervensi program-program supradesa yang masif, seragam, dan terpusat. Desa tak lagi jadi subjek pembangunan, tapi obyek pelaksana proyek. Kreativitas lokal dikurung oleh dokumen petunjuk teknis dari atas.

Apakah ini yang disebut kemandirian desa? Atau jangan-jangan, ini hanyalah kamuflase sukses milik supradesa, yang menjadikan desa sebagai tumbal demi angka-angka di laporan akhir tahun?

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 125 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ironi Tradisi Methil: Ketahanan Pangan atau Eksploitasi Masa Depan?

30 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Mengurai Korupsi Dana Desa Sukarami Lewat Kacamata Asimetri Kebijakan

29 Oktober 2026 - 17:26 WIB

Jangan Terjebak Angka Kertas: Membaca “Kerugian” BUMDes Jeneponto

25 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Desa, Kekuasaan, dan Regenerasi

25 Oktober 2026 - 12:15 WIB

Usaha Ketapang di Tahun Pertama: Rugi di Awal, Harapan Tetap Tumbuh

25 Oktober 2026 - 09:21 WIB

Memburu Kursi Desa: Mengapa Mantan Elite Birokrasi Turun Gunung

22 Oktober 2026 - 17:11 WIB

Trending di OPINI