Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 20 Jun 2025 00:47 WIB ·

Desa Jadi Tumbal, Supradesa Panen Tepuk Tangan


					Desa Jadi Tumbal, Supradesa Panen Tepuk Tangan Perbesar

 

“Kewenangan lokal desa yang dijanjikan dalam semangat UU Desa itu perlahan menghilang. Tercerabut dari akarnya oleh intervensi program-program supradesa yang masif, seragam, dan terpusat”

Opini [DESA MERDEKA]Betapa “beruntungnya” desa di negeri ini. Setiap kali ada program cemerlang dari supradesa — entah kementerian, entah provinsi, entah kabupaten entah siapa lagi yang merasa paling tahu kebutuhan desa, desa selalu diberi kehormatan: menjadi pelaksana penuh. Ya, diberi kehormatan untuk memikul anggaran, tenaga, bahkan tanggung jawab moral atas keberhasilan (atau kegagalan) program yang bukan inisiatif mereka sendiri.

Program-program itu diluncurkan penuh gegap gempita. Seremonial di kota, tanda tangan di hotel berbintang, baliho-baliho penuh jargon. Tapi ketika tiba waktunya eksekusi? Pemerintah desa diminta maklum untuk segera “berinovasi” mencarikan anggaran. Entah dari mana. Tak ada dana transfer tambahan, tapi tetap diminta maksimal.

Kepala desa? Wah, jadi seperti pesulap. Harus bisa “memunculkan” anggaran dari udara, menggerakkan warga bak pasukan perang, dan menjalankan program yang kadang tak kontekstual dengan kebutuhan lokal. Tapi jangan lupa, ketika program itu akhirnya berjalan dengan segala daya dan upaya kepala desa dan warga, yang berdiri paling depan saat peresmian dan pencitraan adalah supradesa. Dengan bangga mengklaim: “Kami berhasil memberdayakan desa!”

Padahal, kewenangan lokal desa yang dijanjikan dalam semangat UU Desa itu perlahan menghilang. Tercerabut dari akarnya oleh intervensi program-program supradesa yang masif, seragam, dan terpusat. Desa tak lagi jadi subjek pembangunan, tapi obyek pelaksana proyek. Kreativitas lokal dikurung oleh dokumen petunjuk teknis dari atas.

Apakah ini yang disebut kemandirian desa? Atau jangan-jangan, ini hanyalah kamuflase sukses milik supradesa, yang menjadikan desa sebagai tumbal demi angka-angka di laporan akhir tahun?

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 85 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bahaya Laten Gotong Royong Sandiwara di Desa Kita

18 April 2026 - 09:01 WIB

Ketika Rumah Ibadah Masuk Proyek: Korupsi yang Menyelinap dalam Kesalehan

18 April 2026 - 08:45 WIB

Foto: Kedua tersangka dugaan korupsi ditahan Kejari Klaten. (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)

Hegemoni Kota: Saat Suara Warga Desa Jadi Figuran

15 April 2026 - 21:56 WIB

Bukan Cuma Musrenbang, Google Kini Bantu Bangun Desa

15 April 2026 - 01:36 WIB

Nasib Plasma Menjelutung: Menanti Keadilan di Tengah Jeratan Hutang

12 April 2026 - 13:05 WIB

Berhenti Jadi Laporan: Saatnya Cerita Desa Bicara Dunia

11 April 2026 - 16:39 WIB

Trending di OPINI