Blora [DESA MERDEKA] – Di tengah lanskap Blora, Jawa Tengah, tersembunyi sebuah kisah pemberdayaan yang mengalir layaknya minyak dari perut bumi. Desa Plantungan, yang dulunya mungkin hanya dikenal dengan hamparan sawah, kini menjelma menjadi contoh sukses pengelolaan sumber daya lokal berkat sentuhan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumber Alam Agung Abadi. Siapa sangka, sumur-sumur bor artesis yang dahulunya menghasilkan minyak bercampur air kini menjadi lumbung pendapatan yang signifikan bagi kas desa.
Dengan penuh tanggung jawab, BUMDes Plantungan mengambil alih pengelolaan tak kurang dari 160 sumur bor artesis. Tugas mereka tak hanya sebatas memantau dan memastikan sumur tetap produktif, namun juga mengelola proses pemisahan minyak berharga dari air yang ikut terbawa. Hasilnya? Cairan hitam yang dulunya dianggap limbah kini tersimpan rapi, siap untuk dipasarkan dan menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi desa.
Ahmad Hanafi, sang pengelola BUMDes Sumber Alam Agung Abadi, dengan bangga mengungkapkan kontribusi nyata unit usahanya. “Dari awal mengelola sumur artesis hingga sekarang, BUMDes telah menyumbangkan lebih dari Rp3 miliar untuk Pendapatan Asli Desa (PADes) Plantungan,” ujarnya penuh semangat, Minggu (18/5). Sebuah angka fantastis yang membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya dengan tepat dapat mengubah wajah perekonomian desa.
Bayangkan saja, dari seratusan sumur bor artesis tersebut, rata-rata BUMDes mampu mengumpulkan hingga satu juta liter minyak per bulan dari limbah yang dihasilkan. Meskipun produksi sempat dipengaruhi oleh intensitas hujan, semangat untuk terus mengoptimalkan potensi sumur-sumur tua ini tak pernah surut. Empat tahun sudah berlalu sejak pengelolaan limbah sumur bor ini berjalan, dan selama itu pula, kontribusi BUMDes terhadap PADes terus mengalir deras.
Lantas, ke mana saja aliran dana berkah ini bermuara? Sekitar sepuluh persen dari PADes yang dihasilkan BUMDes Sumber Alam Agung Abadi dialokasikan untuk berbagai program yang menyentuh langsung kehidupan warga Plantungan. Bantuan sosial bagi anak yatim piatu dan kaum dhuafa menjadi prioritas. Infrastruktur desa pun tak luput dari perhatian, dengan pembangunan jalan dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang semakin membaik. Bahkan, program khitanan massal, pembangunan rumah bagi warga kurang mampu, serta bantuan rutin bulanan sebesar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu per keluarga telah terealisasi berkat sentuhan dana dari BUMDes.
“Pembangunan desa yang berjalan sudah menghabiskan anggaran puluhan miliar, sementara untuk perawatan mencapai Rp20 juta per bulan. Hasil PADes BUMDes Plantungan juga digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan,” imbuh Ahmad Hanafi. Sebuah bukti nyata bahwa pengelolaan sumber daya lokal yang mandiri bukan hanya mampu meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan bagi seluruh warganya. Kisah sukses BUMDes Plantungan ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia, bahwa potensi untuk bangkit dan berdaya selalu ada, asalkan dikelola dengan inovasi dan semangat kebersamaan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.