Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam [DESA MERDEKA] – Melahirkan ribuan sarjana di era modern jauh lebih mudah ketimbang mencetak satu kader ulama yang mau menetap dan membangun moral di pedesaan. Realitas krisis SDM desa ini mengemuka kuat saat Pondok Pesantren (PonPes) Babussalam Batu Korong, yang terletak di Kampung Lipat Kajang, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil, melepas 153 santriwannya.
Fenomena kelangkaan figur penuntun ini disorot tajam oleh pimpinan pesantren, Abuya Dr. T. H. Abi Hasan, MH, M. Ag. Dalam prosesi wisuda yang melepas 43 santri tingkat ‘Aliyah dan 110 santri tingkat Tsanawiyah tersebut, ia mengingatkan tantangan berat yang menanti di luar tembok pesantren.

“Menjaga mereka sudah lebih berat karena mereka sudah berilmu. Jagalah mereka karena ustad dan ustazah langka yang lahir di negeri ini. Kalau sarjana dan magister, banyak yang lahir di negeri ini,” tegas Abuya Abi Hasan di hadapan para wali murid.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi logis bagi arah pembangunan desa saat ini. Ketika indikator kemajuan sering kali hanya diukur dari angka statistik formal, desa justru kerap kehilangan kompas moral akibat migrasi besar-besaran pemuda terdidik ke wilayah perkotaan.

Kepulangan ratusan alumni pesantren ke rumah masing-masing di area Aceh Singkil ini diharapkan menjadi arus balik yang menyuplai energi baru bagi ketahanan sosial masyarakat lokal.
Abuya juga meminta para orang tua di desa untuk berpikir lebih dewasa dan tidak mudah goyah oleh keluhan anak-anak yang menganggap kehidupan pesantren terlalu mengekang. Menurutnya, tidak ada jalur instan dalam menuntut ilmu, karena menjadi ustad adalah jalan ibadah dan perjuangan, sementara menjadi pengusaha adalah opsi kesejahteraan yang bisa berjalan beriringan. Orang tua diposisikan sebagai teladan utama di rumah guna memastikan ilmu dan adab para santri tetap terjaga sekembalinya mereka ke masyarakat.

Menyelaraskan poin tersebut, Drs. H. Burhanuddin Berkat, SH, MH., dalam ceramah ilmiahnya mengutip prinsip fungsional Man Sabata Nabata—siapa yang bersungguh-sungguh, ia yang memetik hasil. Ilmu yang diperoleh di bangku pesantren wajib dipupuk dengan akhlak mulia agar tidak menjadi seperti pohon kayu yang rimbun namun tidak berbuah bagi lingkungan sekitar.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa sejarah mencatat darah santri ikut mengalir dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Atas dasar cinta tanah air yang merupakan bagian dari iman (hubbul watani minal iman), para alumni pesantren dipersilakan memperluas cakrawala mereka, termasuk mempelajari ilmu politik demi kemaslahatan umat.
Tantangan terbesar bagi 153 alumni Ponpes Babussalam kini adalah membuktikan kontribusi nyata mereka: apa yang bisa mereka berikan untuk memajukan daerah asal dan menjaga eksistensi nilai-nilai luhur di tengah kehidupan beralihnya status mereka menjadi warga masyarakat seutuhnya.




















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.