Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa ajang kreativitas siswa bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan modal krusial bagi pelajar untuk memenangkan persaingan di masa depan. Hal ini disampaikannya saat membuka gelaran SMAPSIC XX + Jr XVI di SMA Negeri 1 Padang pada Rabu (8/1/2025).
Mahyeldi menyoroti bagaimana kemampuan manajerial siswa SMA Negeri 1 Padang dalam mengelola acara berskala lintas provinsi ini merupakan bentuk nyata dari pendidikan karakter. Namun, di balik kemeriahan tersebut, Gubernur memberikan catatan kritis: kegiatan publik pelajar harus menjadi zona bersih dari infiltrasi perilaku menyimpang.
Bukan Sekadar Pentas Seni Biasa
Sudut pandang menarik muncul saat Mahyeldi memuji kualitas dialog drama dan pertunjukan seni yang disuguhkan. Menurutnya, pesan-pesan yang tersirat dalam pertunjukan tersebut sangat relevan dengan realita kehidupan saat ini. Pemprov Sumbar melalui Dinas Pendidikan berkomitmen untuk terus “mengkanalisasi” potensi ini agar tidak sekadar menjadi bakat terpendam.
“Penampilan anak-anak kita sangat brilian. Ini adalah modal masa depan. Apresiasi khusus bagi panitia yang merupakan pelajar sendiri, karena mampu menarik minat peserta dari luar Sumatera Barat,” ujar Mahyeldi.

Waspada Infiltrasi “Virus” Amoral
Meski memberikan dukungan penuh, Mahyeldi mengingatkan sisi gelap yang kerap mengintai acara-acara besar yang melibatkan massa remaja. Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat dari pihak sekolah dan orang tua. Baginya, kegiatan pagelaran memiliki risiko disusupi oleh pihak-pihak yang ingin menyebarkan paham terlarang.
Secara spesifik, Gubernur mewaspadai penyebaran “virus” LGBTQ dan penyalahgunaan narkotika yang bisa saja masuk melalui celah-celah kegiatan seremoni. Pengawasan ini bukan bertujuan membatasi kreativitas, melainkan untuk menjaga agar ruang ekspresi tetap sehat dan sesuai dengan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau.
Investasi Masa Depan Sumbar
SMAPSIC XX + Jr XVI menjadi bukti bahwa kolaborasi antara kreativitas seni dan keteguhan prinsip moral dapat berjalan beriringan. Pemprov Sumbar berharap sekolah-sekolah lain di seluruh kabupaten dan kota dapat mengadopsi model pembinaan serupa—memberikan ruang luas bagi bakat siswa namun tetap dalam koridor pengawasan yang disiplin.
Dengan berakhirnya pembukaan ini, SMAPSIC resmi menjadi panggung bagi ratusan pelajar untuk membuktikan bahwa generasi muda Sumatera Barat siap bersaing di level nasional tanpa kehilangan identitas moral mereka.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.