Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

OPINI · 9 Apr 2026 12:06 WIB ·

WFH Alami: Saat Rumah Perangkat Jadi Kantor Desa


					WFH Alami: Saat Rumah Perangkat Jadi Kantor Desa Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Selama ini kita mengenal Work From Home (WFH) sebagai produk darurat pandemi atau solusi polusi bagi ASN kota. Namun, di level akar rumput, perangkat desa sebenarnya sudah mempraktikkan “WFH original” sejak lama. Bagi kepala desa hingga ketua RT, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ekstensi kantor yang melayani warga tanpa jeda, sering kali selama 24 jam penuh.

Perbedaan mendasar terletak pada esensinya: jika WFH perkotaan berbasis teknologi dan situasi, WFH di desa bersifat kultural dan relasional. Di desa, kerja melekat pada sosok orangnya, bukan pada lokasi fisiknya. Seorang sekretaris desa tetap dianggap “masuk kerja” meski sedang berada di sawah atau teras rumah, selama ia bisa diakses oleh warga yang membutuhkan pelayanan.

Pelayanan Tanpa Sekat Geografis
Kantor desa dalam perspektif pelayanan komunitas adalah seluruh wilayah desa itu sendiri. Praktik ini menciptakan efektivitas unik di mana produktivitas tidak diukur dari absensi sidik jari, melainkan dari aksesibilitas. Warga desa tidak memedulikan di mana perangkat desa berada, selama urusan surat-menyurat atau bantuan darurat bisa diselesaikan saat itu juga.

Namun, kedekatan relasional ini menciptakan pola kerja boundaryless atau tanpa batas. Perangkat desa sering kali menjadi tetangga sekaligus keluarga bagi warga yang dilayaninya. Dampaknya, mereka selalu berada dalam posisi on-call. Kebutuhan administratif warga bisa muncul di meja makan saat jam makan malam atau di depan pintu rumah pada larut malam.

Risiko Kelelahan di Balik Loyalitas
Meskipun model kerja ini sangat memudahkan masyarakat, terdapat sisi gelap yang jarang tersorot: risiko eksploitasi dan burnout. Tidak adanya batasan tegas antara kehidupan pribadi dan tugas negara membuat banyak perangkat desa bekerja melampaui kapasitas tanpa kompensasi lembur. Hal ini berbeda dengan WFH formal perkotaan yang masih mengakui hak waktu istirahat.

Pemerintah pusat sebenarnya bisa belajar dari desa mengenai cara membangun kepercayaan publik tanpa pengawasan fisik yang kaku. Sebaliknya, birokrasi desa perlu mengadopsi sistem perlindungan waktu bagi perangkatnya. Kuncinya adalah menyeimbangkan semangat “melayani sepanjang waktu” dengan hak perangkat desa untuk memiliki waktu bagi diri sendiri dan keluarga mereka.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 42 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Strategi ATM Moana Disney untuk Branding Desa Pesisir

10 Juli 2026 - 09:18 WIB

UU KIP: Senjata Transparansi atau Jebakan Batas Desa?

9 Juli 2026 - 19:14 WIB

Asta Cita atau Derita? Kala Sawah Desa Dikunci Sepihak

9 Juli 2026 - 16:52 WIB

Di Era AI, WhatsApp Gantikan Kertas Dinding Aspirasi Desa

26 Juni 2026 - 20:26 WIB

Menjaga “Nyawa” Desa: Membumikan Idealisme Lewat Pena Jurnalis Desa

26 Juni 2026 - 15:45 WIB

Menuntaskan Anak Tidak Sekolah di Desa: Mengapa PKBM Adalah Kunci?

24 Juni 2026 - 12:28 WIB

Trending di OPINI