Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Sumatera Barat resmi naik kelas dalam peta medis nasional. Peresmian Unit Transplantasi Ginjal di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada Minggu (20/9/2025) bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sinyal berakhirnya ketergantungan pasien gagal ginjal di Sumatera bagian tengah terhadap rujukan ke Medan atau Palembang.
Langkah berani ini diambil untuk memutus rantai penderitaan ribuan pasien yang selama ini terjebak dalam rutinitas cuci darah (hemodialisis). Dengan adanya unit khusus ini, RSUP M. Djamil memposisikan diri sebagai hub medis strategis yang melayani pasien dari Riau, Jambi, hingga Kepulauan Riau dengan akses lebih cepat dan biaya yang jauh lebih ringan.
Mengubah Wajah Pelayanan Kesehatan Sumatera
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa fasilitas ini adalah hak konstitusional warga sesuai UU No. 17 Tahun 2023. Menurutnya, keberadaan unit ini akan mengubah arah pelayanan kesehatan dari yang bersifat kuratif rutin menjadi solusi medis yang lebih permanen dan memanusiakan pasien.
“Unit ini sangat strategis. Kita tidak bicara soal Sumbar saja, tapi pusat keunggulan layanan kesehatan di Indonesia bagian barat,” ujar Mahyeldi di hadapan Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, dr. Azhar Jaya.
Data menunjukkan urgensi ini tidak bisa ditunda. Pada 2024, gagal ginjal menjadi pembunuh nomor empat di Sumatera Barat dengan beban klaim BPJS mencapai Rp81,1 miliar. Kehadiran unit transplantasi diharapkan mampu menekan angka kematian sekaligus beban finansial negara secara signifikan.
Bukan Sekadar Tindakan Medis, Tapi Kemanusiaan
RSUP M. Djamil sebenarnya bukan pemain baru. Sejak 2015, mereka telah sukses melaksanakan 31 prosedur transplantasi ginjal. Namun, peresmian unit khusus ini adalah upaya sistematis untuk mempercepat antrean pasien yang terus bertambah. Direktur Utama RSUP M. Djamil menyebut layanan ini sebagai bentuk tertinggi dari empati dan kasih sayang karena melibatkan donor yang memberikan kesempatan hidup kedua bagi orang lain.
Senada dengan hal tersebut, dr. Azhar Jaya memuji RSUP M. Djamil sebagai rumah sakit dengan pertumbuhan tercepat. Namun, ia memberikan peringatan keras terkait manajemen rumah sakit pemerintah.
“Keuntungan rumah sakit pemerintah dilarang keras dijadikan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Semua surplus harus diputar kembali untuk subsidi pasien tidak mampu, pengadaan alat canggih, dan riset pengembangan,” tegas Azhar.
Dengan teknologi kedokteran yang kini tersedia di Padang, harapan hidup pasien ginjal kronis kini tidak lagi terbentur jarak. Langkah selanjutnya kini ada di tangan masyarakat: meningkatkan kesadaran akan pola hidup sehat dan menggaungkan edukasi tentang mulianya donor organ.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.