Lamongan, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Kemiskinan ekstrem di sudut-sudut desa kini tidak lagi dikepung dengan bantuan sosial instan, melainkan lewat kolaborasi tak biasa antara mimbar mengaji dan kelembagaan usaha. Pondok pesantren, Koperasi, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Jawa Timur secara resmi didorong untuk bersekutu menjadi mesin utama penggerak ekonomi desa demi melumat habis kantong-kantong kemiskinan dari tingkat akar rumput.
Strategi segar berbasis ekosistem lokal ini ditegaskan oleh Wakil Menteri Koperasi dan UKM, Farida Farichah, dalam Pilot Project Optimalisasi Peran Pondok Pesantren dan Lembaga Ekonomi Desa di Ponpes Matholi’ul Anwar, Karanggeneng, Lamongan. Langkah ini merupakan eksekusi riil dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem. Pemerintah membaca realitas bahwa tiga pilar inilah yang memiliki kedekatan sosial paling intim dan efektif untuk menjangkau masyarakat rentan di pedesaan.
Selama ini, pesantren kerap dipandang sebelah mata hanya sebagai pusat pendidikan moral dan agama. Padahal, magnet sosial dan kemandirian pangan yang mereka miliki adalah modal mati yang jika dikawinkan dengan BUMDes serta koperasi desa, akan menciptakan sebuah kekuatan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.
Integrasi unit usaha inilah yang digodok bersama dalam diskusi mendalam di Lamongan. Pertemuan tersebut mempertemukan berbagai otak dari Ponpes Sunan Drajat, Kementerian Agama, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rumah Zakat, hingga Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Lamongan. Obrolannya konkret: bagaimana memperluas lapangan kerja baru dan memastikan produk buatan warga desa tidak mandek di gudang.
Guna memastikan rantai pasok dan permodalan tidak macet di tengah jalan, jajaran bank raksasa seperti BRI, BNI, Mandiri, BTN, hingga BSI langsung turun gunung ke lokasi. Mereka membuka ruang konsultasi teknis yang blak-blakan mengenai pembiayaan usaha lokal, taktik pemasaran produk, hingga transformasi kelembagaan UMKM desa agar naik kelas.
Lamongan sengaja dipilih sebagai laboratorium awal atau pilot model. Wilayah ini dinilai sukses mengawinkan potensi lokal, kelembagaan ekonomi desa, dan sentuhan inovasi teknologi ke dalam satu ekosistem pemberdayaan yang hidup.
Ketika struktur sosial desa digerakkan secara kolektif, pesantren berfungsi sebagai jembatan kemanusiaan yang dipercaya warga, sementara koperasi dan BUMDes menjadi motor bisnisnya. Pola replikasi dari Lamongan ini diproyeksikan menjadi fondasi kuat untuk jejaring pemberdayaan serupa di seluruh Indonesia, sekaligus membuka keran akses pasar yang lebih adil bagi kelompok masyarakat rentan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.