Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

OPINI · 9 Mei 2025 05:47 WIB ·

Mereka Menyebutnya “Setan Desa”: Dari Aidit, Soekarno, hingga Kebangkitan Koperasi Desa


					Mereka Menyebutnya “Setan Desa”: Dari Aidit, Soekarno, hingga Kebangkitan Koperasi Desa Perbesar

Oleh: Suryokoco Suryoputro

Kalau kamu tinggal di desa, kamu pasti tahu: hidup di desa itu seperti berjalan di ladang ranjau. Ada yang tampaknya baik tapi menjerat, ada yang berlagak membantu tapi memiskinkan. Di balik sawah yang hijau dan senyum yang ramah, banyak petani kecil yang masih terjebak dalam lingkaran utang, ketergantungan, dan ketidakberdayaan. Tapi tahukah kamu, sejak puluhan tahun lalu, tokoh-tokoh bangsa kita sudah menyadari itu?

Mereka bahkan memberi nama pada para perusak itu: “Setan Desa.”

Ketika Aidit Menunjuk Setan-Setan Desa

Pada tahun 1950-an, D.N. Aidit—tokoh kiri dari Partai Komunis Indonesia (PKI)—melontarkan istilah “Setan Desa” dalam pidato-pidatonya. Bukan karena dia ingin menakut-nakuti, tapi karena dia ingin rakyat desa sadar bahwa ada musuh-musuh yang bekerja dalam diam, melemahkan ekonomi rakyat, dan menghisap hasil kerja keras petani.

Aidit menyebut ada 7 setan desa, yaitu:

  1. Tuan Tanah Jahat – orang kaya yang punya tanah luas, tapi petaninya cuma jadi buruh.
  2. Lintah Darat – rentenir yang bikin petani berutang dan makin miskin.
  3. Tukang Ijon – yang beli hasil panen sebelum panen, dengan harga murah.
  4. Tengkulak Jahat – perantara yang memonopoli pasar dan menekan harga.
  5. Bandit Desa – preman lokal yang suka merampas hasil atau menakut-nakuti.
  6. Birokrat Korup – pejabat yang seharusnya bantu, tapi justru menghambat.
  7. Polisi Jahat – aparat yang lebih suka membela pemilik modal ketimbang rakyat.

Apakah kamu pernah menjumpai sosok-sosok semacam ini di sekitarmu? Mungkin dalam bentuk yang lebih halus, lebih modern, atau lebih licin. Tapi pola-pola penghisapan itu masih hidup sampai hari ini.

Soekarno Tidak Menyebut Setan, Tapi…

Berbeda dengan Aidit yang lantang dan tajam, Ir. Soekarno punya cara bicara yang lebih menggugah dan merangkul. Ia jarang menyebut istilah “setan desa”, tapi isi pidatonya tak kalah keras terhadap ketimpangan dan eksploitasi di pedesaan.

Dalam berbagai pidatonya, terutama menjelang dan setelah kemerdekaan, Soekarno sering menyebut bahwa petani dan buruh adalah “kaum Marhaen”—orang-orang kecil yang harus dibela. Ia menyoroti bahaya kapitalisme asing, feodalisme dalam negeri, dan birokrasi yang tidak berpihak pada rakyat.

Baginya, bangsa ini tidak bisa merdeka kalau rakyat desa masih dicekik oleh sistem yang menindas. Maka, ia menawarkan solusi: sosialisme ala Indonesia, yang di dalamnya termasuk gotong royong, koperasi, dan pemerataan ekonomi.

Dua Jalan, Satu Tujuan

Aidit dan Soekarno memang datang dari ideologi yang berbeda. Aidit membawa bendera komunisme, sedangkan Soekarno membangun paham nasionalisme dan sosialisme Indonesia. Tapi keduanya memiliki satu titik temu: mereka ingin rakyat desa bangkit dan berdaulat secara ekonomi.

  • Aidit fokus membongkar sistem penindasan desa.
  • Soekarno membangun sistem alternatif berbasis gotong royong.

Dari sinilah kita bisa belajar: kita boleh berbeda jalan, tapi kalau tujuannya adalah kesejahteraan rakyat, maka kita bisa saling melengkapi.

Koperasi Desa: Senjata Rakyat Zaman Now

Di zaman digital ini, istilah “setan desa” mungkin terasa kuno. Tapi bentuknya masih ada—hanya saja berganti rupa. Tuan tanah jahat bisa berubah jadi pemilik modal besar yang membeli tanah warga. Lintah darat bisa jadi aplikasi pinjaman online ilegal. Tukang ijon dan tengkulak kini bisa bermitra dengan “startup pertanian” yang ternyata hanya ingin menguasai rantai pasok.

Apa jawabannya?

Koperasi desa. Ya, koperasi adalah model ekonomi rakyat yang paling membumi, paling gotong royong, dan paling sesuai dengan karakter desa.

Tapi tunggu dulu… kenapa banyak koperasi desa gagal?

Itu pertanyaan penting. Banyak koperasi desa gagal karena:

  • Dikelola oleh orang yang tidak paham koperasi.
  • Dijadikan alat politik oleh elite desa.
  • Tidak transparan, tidak akuntabel.
  • Anggota tidak dilibatkan secara aktif.
  • Hanya formalitas demi dapat bantuan.

Dengan kata lain, koperasi desa sering justru menjadi “setan baru” jika tidak dikelola dengan prinsip yang benar. Maka kita perlu membangun ulang koperasi desa dengan semangat baru.

Melawan Setan Desa dengan Koperasi yang Sehat

Untuk melawan bentuk-bentuk baru “setan desa”, koperasi desa perlu:

  1. Kepemimpinan yang Bersih dan Visioner
    – Pengurus koperasi bukan hanya paham administrasi, tapi punya visi kerakyatan.
  2. Transparansi dan Akuntabilitas
    – Semua keuangan dicatat, diumumkan, dan diaudit bersama anggota.
  3. Partisipasi Aktif Anggota
    – Koperasi bukan milik pengurus, tapi milik seluruh anggota.
  4. Model Bisnis yang Relevan
    – Jangan hanya buka simpan pinjam. Bisa mulai dari pertanian, pengolahan hasil panen, pemasaran online, atau logistik desa.
  5. Kolaborasi dengan Teknologi
    – Gunakan digitalisasi untuk pencatatan keuangan, pemasaran, bahkan pelatihan anggota.
  6. Pendidikan dan Pencerahan
    – Jangan lelah mengedukasi warga tentang koperasi, demokrasi ekonomi, dan bahaya ekonomi predator.

Koperasi Bukan Sekadar Usaha, Tapi Perjuangan

Kalau kamu pikir koperasi hanya soal jual beli dan simpan pinjam, kamu keliru. Koperasi adalah bentuk perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan ekonomi. Koperasi adalah alat perjuangan untuk memerdekakan desa dari cengkeraman “setan-setan” zaman now.

Coba bayangkan:

  • Sebuah koperasi petani yang berhasil memotong jalur tengkulak dan menjual langsung ke kota.
  • Sebuah koperasi peternak yang bisa mengatur harga pakan dan daging secara kolektif.
  • Sebuah koperasi digital yang mengatur pemasaran, pelatihan, bahkan logistik antar dusun.

Itulah wajah koperasi masa depan. Bukan nostalgia, tapi senjata modern rakyat kecil.

Mengambil Inspirasi, Bukan Menyalin Masa Lalu

Aidit dan Soekarno bukan untuk disembah. Mereka adalah pengingat bahwa perjuangan rakyat desa sudah lama berlangsung. Kita bukan generasi pertama yang menghadapi ketimpangan—tapi mungkin, kita bisa jadi generasi pertama yang benar-benar mengalahkannya.

Kita tidak perlu mengulang gaya mereka, tapi semangat mereka harus terus hidup.

  • Semangat Aidit dalam mengenali musuh rakyat.
  • Semangat Soekarno dalam membangun harapan rakyat.

Kita butuh keduanya: ketegasan membaca realitas dan kecerdasan membangun solusi.

Koperasi adalah Benteng Desa

Jika kamu peduli dengan masa depan desamu, maka koperasi bukan sekadar pilihan, tapi keharusan. Tapi koperasi yang benar—yang partisipatif, transparan, profesional, dan gotong royong.

Ingatlah, “setan desa” hari ini bisa lebih canggih dan tak terlihat. Tapi dengan rakyat yang melek, bersatu, dan mengorganisir diri lewat koperasi, kita tidak hanya bertahan—kita bisa menang.

“Bangunlah koperasi, bukan hanya untuk berdagang, tapi untuk membebaskan.”
—Inspirasi dari semangat Aidit dan Soekarno, dalam bahasa zaman now.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 736 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Rest Area Tol: Kuburan atau Panggung UMKM Lokal?

19 Januari 2026 - 16:38 WIB

Emas di Tanah Ulayat: Berkah yang Belum Kita Kelola

19 Januari 2026 - 10:06 WIB

Isra’ Mi’raj: Bukan Sekadar Mukjizat, Melainkan Terapi Pemulihan Jiwa

16 Januari 2026 - 11:46 WIB

Menakar Kesejahteraan Perangkat Desa di Tengah Pemangkasan Dana Desa

16 Januari 2026 - 00:22 WIB

Membaca Arah Pembangunan dari Rute Padang–Sibolga

13 Januari 2026 - 20:33 WIB

Selamat Tinggal? Media Lokal Kaltara Terancam Tutup Serentak!

13 Januari 2026 - 20:12 WIB

Trending di OPINI