Opini [DESA MERDEKA] – Program Merdeka Belajar yang diglorifikasi pemerintah saat ini dituding gagal menyentuh esensi mendasar pendidikan, bahkan terjebak dalam ketergesaan digitalisasi yang meninabobokan anak didik. Alih-alih memerdekakan nalar, derasnya arus teknologi online justru berpotensi memicu fenomena pembodohan massal baru jika tidak dilandasi oleh kesadaran diri yang kuat. Gagasan otodidak yang dilepas begitu saja tanpa arah, membuat proses belajar kehilangan objektivitasnya yang paling hakiki.
Pengamat budaya sekaligus pemikir pendidikan, Joko Koentoro, menilai ada kelucuan di kalangan pendidik saat ini. Banyak ahli yang terjebak memperdebatkan perbedaan istilah antara “Merdeka Belajar” dan “Belajar Merdeka.” Di lapangan, atas nama kemudahan digital, para guru cenderung ‘membiarkan’ anak didik belajar sendiri secara online tanpa pegangan hidup yang kokoh.
Melihat fenomena mengkhawatirkan tersebut, Joko menawarkan sudut pandang out of the box dengan membedah carut-marut kurikulum modern ini lewat kearifan lokal Nusantara, yakni gagasan Tata Titi Jawa mengenai Pancer dan Papatan.
Menemukan “AKU” di Tengah Arus Digital
Menurut Joko, fondasi utama yang hilang dalam program Merdeka Belajar saat ini adalah kesadaran tentang “AKU” sebagai subjek. Dalam kalkulasi spiritualitas Nusantara, “AKU” adalah Pancer—pusat kesadaran yang dalam konteks kenegaraan disebut Kedaton, dan dalam konteks spiritualitas dinamakan Candi Pamujan (candi pemujaan diri untuk perubahan, bukan sekadar candi penghormatan leluhur).
“Kesadaran mengenai ‘AKU’ menjadi penting karena manusia secara sadar menempatkan diri sebagai subjek pada perubahan dirinya sendiri,” urai Joko Koentoro.
Tanpa adanya kesadaran sebagai subjek ini, anak didik di sekolah maupun di desa-desa terpencil akan kesulitan menemukan arah pembelajaran. Mereka hanya akan menjadi objek pasif dari algoritma teknologi, tanpa pernah tahu bagaimana mengupayakan kebaikan dan perubahan nyata di lingkungan sekitarnya.
Menghidupkan Kembali Nalar Dialektika Papatan
Syarat mutlak untuk mencapai kesadaran diri tersebut adalah nalar dialektika. Joko menepis anggapan bahwa ungkapan keseharian masyarakat Jawa seperti “Ngko Gek?” (jangan-jangan nanti) atau “Ojo-ojo salah?” merupakan bentuk pesimisme. Sebaliknya, ungkapan tersebut adalah bukti adanya nalar aktif yang hidup.
Dalam tradisi berpikir kritis Nusantara, masyarakat mengenal konsep PAPATAN: Desa Papat, Sedulur Papat Lima Pancer, Mandala Pat, hingga Kala Mangsa. Konsep ini sejatinya mirip dengan analisis SWOT modern (Keunggulan, Kelemahan, Peluang, Ancaman) yang memadukan tesa dan antitesa untuk menemukan titik simpul yang tepat (pas), bukan sekadar mencari benar atau salah.
Tradisi dialektika inilah yang mendesak untuk diintegrasikan sebagai landasan kritik kurikulum Merdeka Belajar. Ketika nalar budi ini hidup, anak didik akan memiliki daya solutif, daya imajinasi yang optimal, kreativitas, hingga mampu melahirkan invensi atau penciptaan baru yang relevan bagi kemajuan daerahnya.
Konsep Papatan Jawa vs Analisis Modern:
[Tesa / Keunggulan] <---> [Antitesa / Kelemahan]
[Peluang / Terukur] <---> [Ancaman / Tak Terukur]
\ /
v v
[Titik Simpul yang PAS]
Bahaya Lelaku yang Tergantikan Tontonan
Catatan kritis terakhir yang tidak kalah krusial adalah hilangnya tahapan Lelaku atau Ilmu Tinemu Laku. Pendidikan sejati membutuhkan pengalaman personal—mencoba, gagal, dan mengalami sendiri.
Tanpa proses mengalami, seseorang hanya akan berada pada tingkatan Weruh (sekadar tahu). Agar berkembang menjadi Kaweruh (pengetahuan yang mendalam), anak didik harus melewati tahapan Wanuh (mengenali dan menggauli langsung realitas).
Joko Koentoro melemparkan pertanyaan reflektif bagi kita semua: Apa yang bisa diharapkan dari glorifikasi Merdeka Belajar hari ini jika kesadaran “AKU” tidak ada, dialektika mati, dan prinsip Ilmu Tinemu Laku diabaikan?
Jawabannya adalah kepalsuan digital. Percepatan hanya akan melahirkan ketergesaan yang ceroboh. Modernisasi diartikan secara sempit sebagai sikap anti-tradisi yang mencabut akar budaya lokal. Pada akhirnya, kecanggihan informasi di depan mata hanya berakhir sebagai tontonan, gadget megah cuma jadi simbol gengsi kepemilikan, dan perjalanan waktu berubah menjadi fenomena pembodohan yang nyata.

Pegiat Sosial Budaya tinggal di Borobudur Magelang


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.