Opini [DESA MERDEKA] – Rochendry, S.H.
Idul Fitri, dalam pandangan tauhid, bukan sekadar hari kemenangan setelah menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum paling jujur antara hamba dan Tuhannya, sebuah titik di mana segala atribut dunia runtuh, dan yang tersisa hanya satu pengakuan ” La ilaha illa Allah”.
Para rasul tidak diutus untuk membangun tradisi, tetapi untuk menegakkan tauhid. Dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, seluruh risalah bermuara pada satu hal: mengembalikan manusia dari penyembahan terhadap selain Allah—baik itu harta, jabatan, bahkan dirinya sendiri.
Di situlah Idul Fitri menemukan makna terdalamnya.
Ia bukan sekadar kembali makan di siang hari, tetapi kembali memurnikan orientasi hidup. Sebab sejatinya, manusia tidak pernah benar-benar berpuasa dari makanan saja, ia diuji untuk berpuasa dari segala yang menyaingi Tuhan dalam hatinya.
Berapa banyak manusia yang selesai Ramadhan, namun tidak pernah selesai dari kesombongannya ?
Berapa banyak yang bertakbir di lisan, namun hatinya masih tunduk pada dunia ?
Tauhid tidak lahir dari ucapan, tetapi dari keterlepasan.
Dan Idul Fitri adalah ujian, apakah kita benar-benar telah melepaskan ?
Nabi Ibrahim telah mengajarkan bahwa tauhid menuntut keberanian memutus apa pun yang menghalangi kedekatan dengan Allah, even jika itu adalah sesuatu yang paling dicintai. Maka Idul Fitri bukan sekadar saling memaafkan, tetapi juga keberanian memutus keterikatan yang selama ini kita sembah diam-diam.
Sementara Nabi Musa memperlihatkan bahwa tauhid adalah pembebasan total, dari ketakutan kepada selain Allah. Maka Idul Fitri adalah hari kemerdekaan jiwa, bukan sekadar seremonial.
Dalam posisi inilah, seorang manusia diuji reputasinya, bukan oleh apa yang ia tampilkan di hadapan manusia, tetapi oleh apa yang tersembunyi di hadapan Tuhan.
Dan di sinilah relevansi kita hari ini.
Di tengah kehidupan sosial, hukum, dan pengabdian kepada masyarakat, tauhid bukan hanya menjadi keyakinan pribadi, tetapi fondasi moral yang menentukan integritas. Seorang yang memahami tauhid tidak akan menjual kebenaran, karena ia tahu hanya Allah satu-satunya yang layak ditakuti dan diharapkan.
Idul Fitri, bagi seorang yang menapaki jalan tauhid, bukan sekadar momentum spiritual, melainkan deklarasi sikap hidup:
” bahwa ia berdiri tegak di atas kebenaran,
tidak tunduk pada tekanan,
tidak tergoda oleh kepentingan,
dan tidak takut kehilangan apa pun selain ridha Allah”.
Inilah Idul Fitri yang sesungguhnya.
Bukan tentang pakaian baru, tetapi hati yang diperbarui.
Bukan tentang ucapan maaf, tetapi kesadaran mendalam bahwa tiada daya dan upaya kecuali dari-Nya.
Dan pada akhirnya, Idul Fitri adalah sebuah pertanyaan sunyi yang hanya bisa dijawab oleh hati:
Apakah kita benar-benar telah bertauhid,
atau hanya sekadar mengucapkannya?

“Ketika kamu merasa sendiri dan tak ada yang peduli, ingatlah bahwa ada seseorang di luar sana yang begitu ingin memiliki hidup yang kamu jalani.”


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.