Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 25 Okt 2025 11:26 WIB ·

Gubernur Sumbar Resmikan Pameran Surau: Islam Hidup di Minangkabau


					Gubernur Sumbar Resmikan Pameran Surau: Islam Hidup di Minangkabau Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, secara resmi membuka Pameran Etnofotografi bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus di Sumatera Barat” karya seniman dan budayawan Edi Utama. Pameran yang digelar di Galeri Taman Budaya Sumbar pada Jumat (24/10/2025) ini menjadi ruang dialog penting antara masa lalu dan masa kini, antara nilai leluhur dengan kesadaran generasi penerus budaya.

Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa pameran ini memiliki peran lebih dari sekadar menampilkan artefak sejarah. Melalui naskah kuno, pakaian adat, perlengkapan ibadah, dan simbol keagamaan, pengunjung diajak menelusuri perjalanan Islam di Minangkabau, yang datang bukan untuk menggantikan adat, melainkan menyempurnakannya—sesuai filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

“Pameran ini adalah ruang untuk merenung, memahami dari mana kita berasal, nilai apa yang kita warisi, dan ke mana arah peradaban ini akan kita bawa,” ujar Mahyeldi. Ia berharap warisan adat dan syarak dapat hadir sebagai kekuatan moral, spiritual, dan budaya yang menuntun pembangunan Sumatera Barat ke depan. Gubernur menyampaikan apresiasi tinggi kepada Edi Utama yang dinilai berhasil membangkitkan kembali memori kultural dan spiritual masyarakat Minangkabau.

Di kesempatan yang sama, penggagas dan kurator pameran, Edi Utama, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga akar budaya. Ia menganalogikan kebudayaan seperti sungai, yang memiliki hulu dan muara. Menurutnya, selama ini banyak pihak terlalu sibuk mengurus muara (diplomasi budaya ke luar), tetapi lupa menjaga hulu (ketahanan budaya).

“Padahal kalau air di muara keruh, masalahnya pasti di hulu,” ujar Edi. Etnofotografi yang ia sajikan adalah cara untuk menelusuri hulu spiritualitas dan kebudayaan Minangkabau. Ia juga menyinggung kekeliruan pemahaman tentang silat. “Silat itu bukan soal pertarungan, tapi jalan hidup. Benteng untuk mempertahankan kebudayaan,” tegasnya. Edi berharap ke depan, strategi kebudayaan dapat menyeimbangkan upaya menjaga hulu sebagai ketahanan dan mengelola muara sebagai diplomasi budaya.

Ketua panitia, Muhammad Taufik, menambahkan bahwa karya Edi Utama berhasil memotret konsep Living Islam, yaitu Islam yang hidup, tumbuh, dan berinteraksi dengan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pameran ini menggambarkan dialog harmonis antara Islam dan budaya Minangkabau, di mana nilai-nilai keduanya saling menghidupi dan memperkaya. “Hukum adat di Minangkabau itu untuk menghidupkan, bukan mematikan,” jelas Taufik. Ia berharap pameran ini menginspirasi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur Minangkabau dan menjadi dakwah melalui karya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 68 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

LPM dan Ikhtiar Menumbuhkan Partisipasi dari Akar Rumput

18 Juli 2026 - 22:42 WIB

Jelang Musim Tanam, Warga Kedungwaringin Gelar Hajat Bumi

16 Juli 2026 - 15:18 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 36: Kolaborasi Seni dan Teknologi

8 Juli 2026 - 13:54 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako

4 Juli 2026 - 13:34 WIB

Ruas Jalan Desa Rusak Parah, Warga Loleo Berharap Perhatian Bupati Halmahera Selatan

3 Juli 2026 - 10:37 WIB

Bertaruh Nyawa di Tengah Laut: Potret Darurat Kesehatan Warga Desa Loleo dan Polindes yang Sekarat

30 Juni 2026 - 12:30 WIB

Trending di RAGAM