Menu

Mode Gelap
Korban Bencana Sumatra Capai 303 Jiwa, Sumut Paling Terdampak Akses Darurat dan Data Tunggal Kunci Penanganan Bencana Sumbar Dana Desa Tahap II Gagal Cair, Program Pembangunan Mangkrak 24 Desa Jember Masih Blank Spot, DPRD Desak Diskominfo Pengamanan Ketat Kawal Pencairan Dana Desa Tolikara Berjalan Lancar

RAGAM · 25 Okt 2025 11:26 WIB ·

Gubernur Sumbar Resmikan Pameran Surau: Islam Hidup di Minangkabau


					Gubernur Sumbar Resmikan Pameran Surau: Islam Hidup di Minangkabau Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, secara resmi membuka Pameran Etnofotografi bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus di Sumatera Barat” karya seniman dan budayawan Edi Utama. Pameran yang digelar di Galeri Taman Budaya Sumbar pada Jumat (24/10/2025) ini menjadi ruang dialog penting antara masa lalu dan masa kini, antara nilai leluhur dengan kesadaran generasi penerus budaya.

Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa pameran ini memiliki peran lebih dari sekadar menampilkan artefak sejarah. Melalui naskah kuno, pakaian adat, perlengkapan ibadah, dan simbol keagamaan, pengunjung diajak menelusuri perjalanan Islam di Minangkabau, yang datang bukan untuk menggantikan adat, melainkan menyempurnakannya—sesuai filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

“Pameran ini adalah ruang untuk merenung, memahami dari mana kita berasal, nilai apa yang kita warisi, dan ke mana arah peradaban ini akan kita bawa,” ujar Mahyeldi. Ia berharap warisan adat dan syarak dapat hadir sebagai kekuatan moral, spiritual, dan budaya yang menuntun pembangunan Sumatera Barat ke depan. Gubernur menyampaikan apresiasi tinggi kepada Edi Utama yang dinilai berhasil membangkitkan kembali memori kultural dan spiritual masyarakat Minangkabau.

Di kesempatan yang sama, penggagas dan kurator pameran, Edi Utama, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga akar budaya. Ia menganalogikan kebudayaan seperti sungai, yang memiliki hulu dan muara. Menurutnya, selama ini banyak pihak terlalu sibuk mengurus muara (diplomasi budaya ke luar), tetapi lupa menjaga hulu (ketahanan budaya).

“Padahal kalau air di muara keruh, masalahnya pasti di hulu,” ujar Edi. Etnofotografi yang ia sajikan adalah cara untuk menelusuri hulu spiritualitas dan kebudayaan Minangkabau. Ia juga menyinggung kekeliruan pemahaman tentang silat. “Silat itu bukan soal pertarungan, tapi jalan hidup. Benteng untuk mempertahankan kebudayaan,” tegasnya. Edi berharap ke depan, strategi kebudayaan dapat menyeimbangkan upaya menjaga hulu sebagai ketahanan dan mengelola muara sebagai diplomasi budaya.

Ketua panitia, Muhammad Taufik, menambahkan bahwa karya Edi Utama berhasil memotret konsep Living Islam, yaitu Islam yang hidup, tumbuh, dan berinteraksi dengan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pameran ini menggambarkan dialog harmonis antara Islam dan budaya Minangkabau, di mana nilai-nilai keduanya saling menghidupi dan memperkaya. “Hukum adat di Minangkabau itu untuk menghidupkan, bukan mematikan,” jelas Taufik. Ia berharap pameran ini menginspirasi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur Minangkabau dan menjadi dakwah melalui karya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Rumah Warga Gunungsindur Ambruk, Sudah Masuk Data Rutilahu

4 Desember 2025 - 17:39 WIB

Listrik Pulih 100 Persen, Sumbar Percepat Pemulihan Pascabencana

4 Desember 2025 - 10:21 WIB

Kasus HIV Selayar 2025 Meningkat, Pemerintah Diminta Bertindak

3 Desember 2025 - 22:08 WIB

LSM KANe Malut Resmi Diakui Pusat, Siap Jadi Mitra Pemerintah

3 Desember 2025 - 16:15 WIB

Bencana Ancam Harga, Sumbar Gelar Gerakan Pangan Murah

1 Desember 2025 - 22:00 WIB

Posyandu ILP Banaran Setiap Bulan Layani 180 Balita dan Lansia

1 Desember 2025 - 20:02 WIB

Trending di RAGAM