Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

OPINI · 8 Feb 2026 07:54 WIB ·

Fenomena yang Terjadi di Dunia Pendidikan : Penurunan Daya Juang Mahasiswa


					Fenomena yang Terjadi di Dunia Pendidikan : Penurunan Daya Juang Mahasiswa Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Pendidikan tinggi memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kemampuan  individu.  Di  era  globalisasi  saat  ini,  mahasiswa  dihadapkan  pada  berbagai tantangan  yang  kompleks,  baik  dari  segi  akademik,  sosial  maupun  psikologis. Menurut Psikolog perkembangan, Ratih Ibrahim (2021), generasi Z tumbuh di era serba instan dan serba digital, yang membentuk karakteristik “instan gratification” atau kecenderungan untuk menginginkan hasil cepat tanpa proses panjang. “Mereka terbiasa dengan kemudahan teknologi—cukup klik, semua tersedia. Sayangnya, kebiasaan ini tanpa disadari menurunkan ketahanan terhadap proses yang memerlukan kesabaran dan usaha,” ujarnya. Akibatnya, ketika dihadapkan dengan tugas akademik yang menuntut kerja keras dan analisis mendalam, banyak mahasiswa kehilangan motivasi di tengah jalan.

Sosiolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Prof. Arie Setiabudi (2020) menambahkan bahwa lemahnya daya juang generasi Z juga dipengaruhi oleh pola asuh keluarga modern yang terlalu protektif. Banyak orang tua berusaha mencegah anaknya mengalami kesulitan atau kegagalan, padahal pengalaman itulah yang seharusnya membentuk daya tahan mental. “Generasi ini tumbuh dalam lingkungan yang menekankan kenyamanan. Mereka jarang diberi ruang untuk gagal atau menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Maka ketika masuk dunia perkuliahan yang penuh tuntutan, benturan itu terasa berat,” jelasnya.

Fenomena “mudah menyerah” ini juga tampak dari kebiasaan mahasiswa yang cenderung menunda tugas (procrastination) dan menawar beban pekerjaan. Dalam setiap perkuliahan, sebagian mahasiswa tidak fokus pada makna pembelajaran, melainkan pada cara termudah untuk mendapatkan nilai baik. Mereka lebih suka bertanya tentang “kisi-kisi ujian” daripada memahami konsep materi secara menyeluruh. Menurut Ahli pendidikan tinggi, Dr. Lina Marlina (2022), sikap semacam ini menandakan terjadinya academic disengagement—ketidakterikatan emosional dan intelektual terhadap proses belajar. “Bagi sebagian mahasiswa, kuliah bukan lagi ruang untuk menemukan ilmu, melainkan sekadar kewajiban administratif agar lulus cepat,” tuturnya.Salah satu faktor penyebab lemahnya daya juang generasi Z adalah tekanan mental akibat paparan media sosial yang berlebihan. Psikolog sosial, Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (2019) menjelaskan bahwa dunia digital menciptakan tekanan sosial terselubung. Generasi ini sering membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial, sehingga muncul perasaan tidak cukup baik (inferiority) atau takut gagal (fear of failure). Akibatnya, ketika dihadapkan pada tantangan akademik, mereka lebih mudah menyerah karena takut tampil tidak sempurna. “Generasi yang hidup di bawah bayangan kesempurnaan digital akan kesulitan menghadapi realitas bahwa proses belajar adalah tentang mencoba dan gagal berulang kali,” ujarnya.

Selain itu, gaya belajar generasi Z yang sangat bergantung pada gawai juga memengaruhi pola pikir mereka. Menurut Pakar pendidikan digital, Dr. Yuliana Rahma (2023), kemudahan akses informasi justru membuat sebagian mahasiswa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan bertahan dalam proses pencarian ilmu. “Mereka terbiasa mencari jawaban instan lewat internet, bukan membangun argumen melalui proses berpikir panjang. Ini membuat mereka mudah frustrasi saat harus menyelesaikan tugas yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan ‘copy-paste’ atau pertanyaan ke AI,” katanya.

Menyikapi lemahnya daya juang mahasiswa (adversity quotient) memerlukan pendekatan yang komprehensif. Masalah ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan teguran, tetapi harus melalui perubahan ekosistem belajar yang menyeimbangkan antara tantangan dan dukungan.

Berikut adalah langkah-langkah strategis untuk menyikapi fenomena tersebut yaitu dengan cara mengubah pola pikir (mindset transformation) mahasiswa perlu dibantu untuk beralih dari fixed mindset ke growth mindset dengan cara menormalisasi kegagalan dengan menekankan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses riset dan belajar, bukan akhir dari segalanya kemudian fokus pada proses bukan pada nilaidengan menurunkan obsesi terhadap IPK semata dan mulailah menghargai kedalaman pemahaman serta upaya pemecahan masalah yang sulit. Dosen dan institusi dapat merancang kurikulum yang memaksa mahasiswa keluar dari zona nyaman dengan metode case based learning seperti mengerjakan tugas proyek riil yang memiliki dampak nyata di masyarakat atau industri. Ketika mahasiswa merasa tugasnya berguna, motivasi internal mereka cenderung meningkat dan memberikan tugas yang tingkat kesulitannya meningkat secara bertahap. Jangan terlalu mudah (membuat bosan) dan jangan terlalu sulit tanpa bimbingan (membuat putus asa).

Di era distraksi, daya juang sering terkikis oleh keinginan mendapatkan hasil instan (budaya klik) dengan adanya teknologi membuat mahasiswa mudah mengakses informasi sekaligus bersosial media sehingga mahasiswa perlu dilatih untuk membaca jurnal tebal atau mengoding berjam-jam hingga dapat terlihkan dari sosial media serta mengarahkan penggunaan AI (seperti ChatGPT) sebagai mitra diskusi atau alat bantu efisiensi, bukan sebagai mesin penjawab instan yang membuat mereka malas berpikir kritis.

Daya juang adalah “otot”,  Ia tidak akan tumbuh jika beban yang diberikan selalu ringan. Peran kita adalah memberikan beban yang tepat serta teknik mengangkat yang benar.

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 36 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kiamat Bagi Wartawan Tukang Salin di Era Kecerdasan Buatan

28 Maret 2026 - 23:02 WIB

Seni Melawan Malas: Jurnalis Bukan Sekadar Mesin Fotokopi

27 Maret 2026 - 23:09 WIB

Dari Mafia Berkeley ke Sri Mulyani Cs.: Evolusi Pemikiran Ekonomi Pembangunan Indonesia

27 Maret 2026 - 15:55 WIB

Bahaya Laten Foto AI dalam Laporan Berita Desa

26 Maret 2026 - 14:53 WIB

Strategi Bengkel Desa: Cuan Melimpah di Jalur Lintas Provinsi

25 Maret 2026 - 20:17 WIB

Bukan Ide Gila: Rahasia Cuan Pemuda Desa 2026

25 Maret 2026 - 11:18 WIB

Trending di OPINI