Jakarta [DESA MERDEKA] – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) tengah mempersiapkan penghargaan istimewa bagi desa-desa yang berhasil menunjukkan inovasi luar biasa dalam membangun ketahanan pangan. Penghargaan ini merupakan bagian dari ajang Lomba Inovasi Ketahanan Pangan Desa dan Perdesaan Tahun 2025 yang sedang berlangsung.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai reward, termasuk piala dan penghargaan lainnya, untuk para pemenang. Hal ini disampaikannya usai menghadiri pembukaan kegiatan Sharing Knowledge Desa Berketahanan Pangan dan Iklim di Jakarta, Selasa malam.
“Sekarang memang kami sedang menggelar Festival Bangun Desa, sedang kami lombakan. Tentu ada reward, ada piala, ada penghargaan, dan lain sebagainya nanti,” tutur Yandri Susanto, antusias.
Menurut Yandri, pengumuman desa pemenang lomba inovasi ketahanan pangan ini direncanakan paling cepat pada akhir Agustus mendatang. Namun, ia tidak menutup kemungkinan pengumuman akan diundur hingga peringatan Hari Desa Tahun 2026, tepatnya 15 Januari, apabila proses penilaian memerlukan waktu yang lebih lama.
“Rencananya akhir Agustus kami umumkan. Akan tetapi, jika ini terus berjalan dan masih perlu waktu, puncaknya bisa jadi saat Hari Desa nanti, di tahun 2026, pada tanggal 15 Januari,” jelas mantan Wakil Ketua MPR RI itu.
Sebelumnya, dalam pidato pembukaan kegiatan berbagi pengetahuan tersebut, Yandri Susanto mengajak seluruh masyarakat desa di Indonesia untuk aktif membudayakan gerakan menanam. Gerakan ini krusial dalam mewujudkan ketahanan pangan dan iklim di tingkat desa.
Yandri menekankan bahwa gerakan menanam tidak harus dilakukan di lahan yang luas. Ia mendorong masyarakat desa untuk memulai dari pekarangan rumah masing-masing. Manfaat gerakan menanam tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan pangan dan pembangunan desa berketahanan pangan, tetapi juga berperan penting dalam memperbaiki iklim, khususnya melalui penanaman pepohonan.
Mengingat kondisi iklim global yang kian memprihatinkan akibat peningkatan suhu bumi, Yandri menyoroti pentingnya inovasi. “Ada penambahan panas bumi, sekitar beberapa derajat, tahun 2030 mungkin sampai 3,5 derajat pemanasan bumi,” ungkapnya prihatin. Ia menambahkan, pemanasan global ini berpotensi menyebabkan daerah yang tadinya sejuk menjadi panas, bahkan mencairnya es di Kutub Utara dan Selatan, yang akan menimbulkan masalah serius bagi umat manusia dan alam. Oleh karena itu, inovasi dari masyarakat menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan di tengah perubahan iklim.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.