Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

OPINI · 13 Mar 2026 13:06 WIB ·

Dekolonisasi Data: Cara Desa Jaga Jati Diri Digital


					Dekolonisasi Data: Cara Desa Jaga Jati Diri Digital Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Di tengah arus globalisasi yang kencang, muncul kekhawatiran besar: apakah keterbukaan informasi akan menggerus lokalitas desa? Guru Besar IPB University, Sofyan Sjaf, mengingatkan adanya ancaman “kolonialisme data”, di mana desa hanya dijadikan objek pendataan tanpa memiliki kendali atas narasi mereka sendiri. Namun, praktik terbaik di berbagai daerah membuktikan bahwa digitalisasi justru bisa menjadi “perisai” pelestari budaya jika dikelola dengan prinsip kedaulatan informasi.

Kuncinya bukan sekadar memindahkan data ke internet, melainkan mengubah posisi warga dari objek pencatatan menjadi subjek pengetahuan. Dengan pendekatan Data Desa Presisi (DDP), desa memegang kendali penuh untuk menyimpan, mengatur akses, dan menafsirkan identitas mereka sendiri di ruang siber.

Teknologi yang Memeluk Tradisi
Berbagai desa di Indonesia telah membuktikan bahwa kecanggihan teknologi bisa berjalan beriringan dengan kearifan lokal. Di Jember, Seni Ta’ Butaan yang merupakan Warisan Budaya Tak Benda kini abadi dalam format Visual Interactive Arjasa Arts (VIAA). Digitalisasi ini tidak menggantikan ritual asli, melainkan menjadi alat dokumentasi dan promosi yang mendekatkan generasi muda pada akar budayanya.

Strategi serupa terlihat di Desa Baros, Bandung. Alih-alih menggunakan survei kaku, pemetaan potensi desa dilakukan melalui diskusi santai ala “liwetan”. Warga memetakan sendiri sumber mata air dan titik UMKM mereka. Hasilnya bukan sekadar peta teknis, melainkan dokumen emosional yang memperkuat rasa memiliki warga terhadap tanah kelahirannya.

Strategi Memperkuat Kedaulatan Desa
Untuk memastikan keterbukaan informasi tidak menghapus ciri khas lokal, diperlukan langkah-langkah strategis yang terintegrasi:

Tantangan Solusi Strategis Hasil Nyata
Kolonialisme Data Kedaulatan Data Desa (DDP) Desa pemilik sah data mereka sendiri
Regenerasi Budaya Digitalisasi Warisan Budaya Tradisi tetap relevan bagi Gen Z
Data yang Kaku Pemetaan Partisipatif (Liwetan) Data otentik berbasis kearifan lokal
Eksploitasi Luar Literasi Digital & Budaya Pemuda jadi “Duta Budaya Digital”

Generasi Muda sebagai Jembatan
Literasi digital di desa harus dibarengi dengan literasi budaya. Di Kediri, sebuah program inovatif menggabungkan belajar coding dengan permainan egrang. Ini adalah pesan kuat bahwa anak muda desa bisa menguasai teknologi masa depan tanpa harus meninggalkan identitas masa lalu.

Keterbukaan informasi yang sehat adalah yang mampu meruntuhkan tembok birokrasi, namun tetap memperkokoh benteng jati diri. Saat desa berdaulat atas datanya, mereka tidak lagi hanya “diberitakan” oleh pihak luar, tetapi mampu menceritakan kehebatan mereka sendiri kepada dunia dengan tetap berpijak pada nilai-nilai leluhur.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 13 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Seni Melawan Malas: Jurnalis Bukan Sekadar Mesin Fotokopi

27 Maret 2026 - 23:09 WIB

Dari Mafia Berkeley ke Sri Mulyani Cs.: Evolusi Pemikiran Ekonomi Pembangunan Indonesia

27 Maret 2026 - 15:55 WIB

Bahaya Laten Foto AI dalam Laporan Berita Desa

26 Maret 2026 - 14:53 WIB

Strategi Bengkel Desa: Cuan Melimpah di Jalur Lintas Provinsi

25 Maret 2026 - 20:17 WIB

Bukan Ide Gila: Rahasia Cuan Pemuda Desa 2026

25 Maret 2026 - 11:18 WIB

Menyetir Jarak Jauh Setara Lari Maraton: Ini Penjelasan Ilmiahnya

24 Maret 2026 - 07:58 WIB

Trending di OPINI